Arsip

Posts Tagged ‘Dunia Kerja’

Nothing Great Comes Easy!

November 21, 2008 nurcha Tinggalkan komentar

81218101

Rabu kemarin, tangga;19 November 2008, aku mengikuti training yang digawangi oleh Pak Ardiansyah, seorang yang telah menggeluti dunia bisnis selama lebih dari 20 tahun. Ada banyak pointer yang disampaikannya kepada kami (tim produksi).  Maka memang benarlah adanya, bahwa pengalaman adalah guru yang berharga. Beliau membagikannya kepada kami. Aku jadi ingat, kemarin mampir ke blog seorang copywriter, yang dia mengatakan bahwa nothing great comes easy. Hal yang besar tidak datang dengan mudah. semuanya butuh effort kita dalam segala   hal. Dan jika kita berhenti, ya sudahlah, matilah kita. apalagi dengan keadaan resesi ekonomi seperti sekarang. semuanya jadi serba susah dan serba mahal.

Akhirnya semuanya kembali pada mental kita pribadi. seberapa kuat kita bisa menghadapi itu semua. Tantangan dunia kerja semakin lama bukan semakin mudah, malahan semakin berat. Oleh karena itulah, kita harus membekali diri dengan semua hal yang bisa kita pelajari. Kita harus fokus sekaligus multitalent, karena tuntutan kerja sekarang  yang multitasking membuat kita harus cepat tanggap dan bisa menghadapi apa pun tantangan kerja yang ada di hadapan kita.

Read more…

8 Etos Pendongkrak Gairah Kerja! (Jangan Cuma “5-Ng”)

Agustus 29, 2008 nurcha 3 komentar

Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh “5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel.

Punya masalah dengan semangat kerja? Jangan gundah gulana, Anda tidak sendirian. Banyak orang lain yang punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada solusinya!

Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya melorot. “Itu lumrah,” kata Jansen Sinamo, ahli pengembangan sumber daya manusia dari Institut Darma Mahardika, Jakarta. Meski lumrah, “impotensi” kerja harus diobati.

Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen, dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja. Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja dalam konsep yang ia sebut sebagai “Delapan Etos Kerja Profesional”. Sejak 1999, ia aktif mengampanyekan gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.

Memahat yang tak terlihat

Etos pertama: kerja adalah rahmat.

Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.

Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja adalah anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda kita menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita merespons semua nikmat itu dengan bekerja ogah-ogahan.

Etos kedua: kerja adalah amanah.

Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.

Etos ketiga: kerja adaah panggilan.

Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua adalah darma. Seperti darma Yudistira untuk membela kaum Pandawa. Seorang perawat memanggul darma untuk membantu orang sakit. Seorang guru memikul darma untuk menyebarkan ilmu kepada para muridnya. Seorang penulis menyandang darma untuk menyebarkan informasi tentang kebenaran kepada masyarakat. Jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, “I’m doing my best!” Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.

Read more…

Categories: Dunia Kerja Tag:

Lima S untuk Suasana Kerja Lebih Baik

Agustus 27, 2008 nurcha 1 comment

“Gimana kerja mau sehat, kalau semuanya gak rapi dan berantakan kayak gini. Pokoknya hari ini semuanya beres-beres. Saya gak mau tau. Nanti saya ke sini lagi dan semua harus sudah rapi dalam dua jam!”omel seorang direktur ketika melakukan sidak alias inspeksi mendadak ke ruangan-ruangan para pekerjanya.

Omelan direktur tersebut segera disambut dengan senyum-senyum pahit tertangkap basah berantakan oleh para karyawan yang tidak mengira akan adanya inspeksi mendadak tersebut. Segera saja omelan direktur tersebut ditindaklanjuti dengan beres-beres ruangan dan meja kerja masing-masing dan tentunya sambil ngobrol.
Read more…

Categories: Dunia Kerja Tag:

CARPE DIEM

Juli 29, 2008 nurcha 2 komentar

Kontributor: Karlina Supelli (22.09.2004 17:38)

Hidup ini singkat. Bahkan ketika anda membaca tulisan ini, waktu yang tak pernah mau bersabar terus saja berjalan.

“Carpe Diem.Seize the day”, bisik professor John Keating kepada murid-muridnya yang sedang mencoba menafsirkan puisi Herrick, ‘ To the virgins, to make much of time.’ Carpe diem ; bisikan para arwah agar orang tidak terlambat menyadari kesempatan yang dapat diraih selagi hidup.Mungkin anda masih ingat, itulah adegan awal film Dead Poets Society karya Thomas Schulman yang dibintangi oleh Robin Williams.

Mulanya adalah Quintus Horatius Flaccus, penyair Romawi yang lahir tahun 65 SM. Ia menulis sebuah syair puji-pujian yang ditutup dengan kalimat berbunyi, “ carpe diem, quam minimum credula postero.“ Raihlah hari ini, jangan terlalu percaya pada esok. Carpe diem menjadi slogan yang gampang dingat untuk pandangan hidup yang mengagungkan jangka pendek, sekaligus merengkuh kesenangan sebanyak-banyaknya.

Tentu saja kita bisa menafsirkan ungkapan itu menurut dua makna yang berlawanan. Pertama, orang hidup dalam kepunahan eksistensinya sebagai manusia selagi ada kesempatan. Artinya ia mengembangkan diri sepenuh-penuhnya , dan merasa tidak cukup jika hanya mencapai yang minimal. Kedua, orang mencari kesenangan sebanyak-banyaknya selagi bisa. Jika pengertian yang kedua ini kita hamparkan di atas permadani modernitas, maka carpe diem ini ibarat untuk masuk ke gerbang gaya-hidup, lifestyle. 

Modernitas mendamparkan kita, kalau pakai ungkapan teoritikus ilmu social dari Inggris, Anthony Giddens, ke sebuah dunia yang tunggang langgang ( Runaway World, 1999 ). Kita terengah payah, gagap tak siap berkejaran dengan perubahan yangmembuat hari ini segera usang.

Read more…

Bicara, Resep Termanjur Kerja Bahagia

Juli 28, 2008 nurcha Tinggalkan komentar

Yup, itu sebenarnya adalah salah satu judul artikel yang ditulis oleh Eileen Rachman dalam kolom karier setiap sabtu di Kompas. Ketika bekerja kita berhubungan dengan banyak orang dan kebijaksanaan perusahaan. Dan wajar jika dalam interaksi antara keduanya antara karyawan dan manajemen perusahaan akan ada konflik. Nah, untuk menengahinya untuk itulah perlu dibangun saluran komunikasi yang baik antara karyawan dan manajemen perusahaan. Sebenarnya tidak melulu antara karyawan dan manajemen, tetapi bisa juga antarkaryawan. Hanya saja yang sering terjadi konflik adalah antara manajemen dan karyawan. Manajemen di sini bisa atasan, HRD, dan pihak-pihak terkait. Dan as usual, karyawan kroco-kroco-lah yang sering terkena getahnya.

Lalu bagaimana cara menengahinya?

Eileen Rachman dalam artikel tersebut mengatakan, mengapa kalian tidak bicara? Semuanya bisa dikomunikasikan. JIka akhirnya tidak menemukan titik temu yang dirasa cukup win win solution, pilihlah jalan memutar. Tetapkan prinsip, jangan sampai menjadi karyawan yang berutang kepada perusahaan. dan perusahaan pun seharusnya menetapkan prinsip, tidak merugikan karyawannya.

Intinya harus pintar-pintar membaca situasi. Perubahan sekecil apa pun akan terasa efeknya hingga ke level paling bawah. Jika kita belum bisa menerima, paling tidak, kita coba untuk mengerti dan memahami serta mencari tahu mengapa begini dan mengapa begitu.

Lalu, kalau sudah tau apa yang akan dilakukan…. itu terserah masing-masing personnya. Hal yang pasti, kita tidak bisa membuat orang mau mengerti apa yang kita mau jika kita tidak menyampaikan apa yang kita mau dan mencoba mengerti mereka.

Cempaka Putih, 280708/18.58