Takdir adalah Pilihan Januari 26, 2008
Posted by nurcha in Catatan Perjalanan, Curhatan, Film, Filosofi.add a comment
“sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, bahkan dalam satu hari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang.”
Nah, kutipan di atas bikin gue nelangsa karna gue ngerasa tuh kutipan bagus banget buat direnungkan, terutama buat orang-orang yang harus mengambil keputusan besar dalam hidup. Karena ketika kita dalam situasi di antara dua pilihan, keputusan yang kita ambil bakal mengubah keseluruhan jalan hidup kita. Misalnya, ketika kita dapat tawaran kerja dari 2 perusahaan sekaligus, kita harus milih tuh, nah, pilihan yang kita ambil adalah suatu peristiwa yang bakal mengubah keseluruhan jalan hidup kita, kan? Ato yang paling penting ketika kita memutuskan untuk menikah dengan si A dan bukan si B, eh pas hari “h” kita berubah pikiran (ada loh orang yang kayak gini, kayak julia roberts di Runaway bride) maka so pasti hidup yang akan kita jalani ke depannya juga bakal berubah.
So, pikirkan baik2 setiap keputusan yang bakal kita ambil terutama ketika kita berada di antara 2 pilihan. Karena meski kita percaya bahwa apa yang terjadi ama kita adalah sebuah takdir yang udah digariskan Tuhan tuk hidup kita, tetep aza lah kita punya akal dan hati tuk bisa memutuskan “jalan” mana yang mau kita tempuh. Pilihan yang udah kita putuskan tuk diambil bakal mengubah keseluruhan jalan hidup kita, dan itu lah takdir yang kita pilih sendiri untuk kita jalani.
pisangan, 210607 - Herlina Sitorus
The Toyota Way vis a vis Dunia Penerbitan Januari 15, 2008
Posted by nurcha in Buku, Catatan Perjalanan, Filosofi.add a comment
Kemarin sore aku menyengajakan diri untuk membaca ringkasan buku unggulan The Toyota Way, karya Prof Jeffrey K. Liker. Aku ingin membacanya, itu pengetahuan penting buat aku tentang manajemen sebuah perusahaan, siapa tahu, kelak entah kapan aku punya perusahaan sendiri… he he he…. Amin.
Mencintai Seseorang Januari 8, 2008
Posted by nurcha in Curhatan, Error aja, Filosofi, My Mind.add a comment
Mencintai, ketika kita mencintai seseorang maka energi positif itu sangat besar. Kita selalu berpikiran positif, kita selalu dapat memaklumi, kita jadi pantang menyerah (utamanya bagi yang sedang mencintai orang dan orang yang dicintai tidak atau belum membalas cinta yang diberikan). Dengan mencintai, kita jadi mudah memberi, bahkan orang yang paling pelit sekalipun, akan memberi sebanyak yang dia bisa untuk orang yang dicintainya. Orang yang paling tidak romantis sedunia pun, ketika ia jatuh cinta, ia juga akan berubah menjadi orang yang romantis, katakanlah salah satu ukuran keromantisan adalah menulis puisi. Semua orang yang pernah jatuh cinta pasti pernah menulis puisi kukira (aku pernah ga ya…? he he he).
Peluk Nopember 22, 2007
Posted by nurcha in Blogroll, Filosofi.add a comment
Oleh: Dewi Lestari
Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: mengapa kulakukan ini? Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin pisah dengan diri sendiri?
Barangkali Cinta Nopember 22, 2007
Posted by nurcha in Blogroll, Filosofi.add a comment
![]()
Oleh: Dewi Lestari
Barangkali cinta… jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap oleh darahmu dan engkau beriak karenanya. Darahku dan darahmu, terkunci dalam nadi yang berbeda, namun berpadu dalam badai yang sama.
Barangkali cinta… jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke paru-paruku dan aku terbakar karenanya. Napasmu dan napasku, bangkit dari rongga dada yang berbeda, namun lebur dalam bara yang satu.
Barangkali cinta… jika ujung jemariku mengantar pesan yang menyebar ke seluruh sel kulitmu dan engkau memahamiku seketika. Kulitmu dan kulitku, membalut dua tubuh yang berbeda, namun berbagi bahasa yang serupa.
Barangkali cinta… jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa dan aku dapati rumah yang kucari. Matamu dan mataku, tersimpan dalam kelopak yang terpisah, namun bertemu dalam setapak yang searah.
Barangkali cinta… karena darahku, napasku, kulitku, dan tatap mataku, kehilangan semua makna dan gunanya jika tak ada engkau di seberang sana.
Barangkali cinta… karena darahmu, napasmu, kulitmu, dan tatap matamu, kehilangan semua perjalanan dan tujuan jika tak ada aku di seberang sini.
Pastilah cinta… yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu, dan menjembatani semuanya demi memahami dirinya sendiri.