Arsip untukCurhatan

EQ vs IQ …. in Life

Sesungguhnya kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
(QS At-Tiin: 4)
Emosi memainkan peran yang penting dalam kehidupan, dan spesies manusia berutang amat banyak pada kekuatan emosi karena dengan adanya emosilah manusia dapat menunjukkan keberadaannya. Kecerdasan emosi merupakan prasyarat mutlak bagi seseorang untuk mencapai satu prestasi kesuksesan.

Sebuah kesuksesan menuntut kematangan pribadi dan itu adalah kecerdasan emosi.
Kerasnya kehidupan saat ini membuat manusia menjadi buta emosi. Derasnya informasi yang sampai kepada kita penuh dengan lenyapnya sopan santun dan rasa aman, menyiratkan adanya serbuan dorongan sifat jahat. Dan dalam skala yang lebih besar berita itu memberikan gambaran adanya emosi-emosi yang secara perlahan tidak terkendalikan dalam kehidupan kita sendiri dan dalam kehidupan orang-orang sekitar kita. Tidak ada orang yang mampu bertahan dari gelombang ketidaktentuan ledakan kemarahan dan sesal ini. Gelombang ini telah menembus sisi sisi kehidupan kita dengan segala cara.

Mengglobalnya tindak kekerasan di seluruh dunia memncerminkan meningkatnya ketidakseimbangan emosi, keputusasaan dan rapuhnya moral di dalam keluarga kita, masyarakat dan kehidupan kita bersama. Tekanan moral berupa terurainya jalinan masyarakat yang semakin cepat, sifat mementingkan diri sendiri, kekerasan dan sifat jahat nampaknya telah menggerogoti sisi – sisi baik kehidupan masyarakat. Dan hal tersebut sudah merupakan alasan yang cukup untuk mendukung perlunya kecerdasan emosional yang bertumpu pada hubungan antara perasaan, watak dan naluri moral.
Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa sikap etik dasar dalam kehidupan berasal dari kemampuan emosional yang melandasinya. Misalnya dorongan hati merupakan medium emosi; benih semua dorongan hati adalah perasaan yang memunculkan diri dalam bentuk tindakan. Orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri menderita kekurangmampuan pengendalian moral: kemauan dan watak. Dengan cara yang sama akar cinta sesama terletak pada empati, yaitu kemampuan membaca emosi orang lain tanpa adanya kepekaan terhadap kebutuhan atau penderitaan orang lain, tidak akan timbul rasa kasih sayang.

Warisan genetik memberi kita serangkaian muatan emosi tertentu yang menentukan temperamen kita. Tetapi jaringan otak yang terlibat sangat mudah dibentuk-bentuk. Pelajaran-pelajaran emosi yang kita peroleh semasa kanak-kanak, dirumah dan di sekolah akan membentuk sirkuit-sirkuit emosi, membuat kita cakap atau tidak cakap dalam hal dasar-dasar kecerdasan emosional. Ini berarti bahwa masa kanak-kanak dan remaja merupakan peluang terbuka yang penting untuk mengarahkan kebiasaan-kebiasaan dan mengembangkan emosi yang esensial yang akan menentukan kehidupan kita di masa yang akan datang.

Pakar EQ (Emotional Quotient), Goleman berpendapat bahwa meningkatkan kualitas kecerdasan emosi sangat berbeda dengan IQ (Intellegent Quotient). IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup. Sementara kemampuan yang murni kognitif relatif tidak berubah (IQ), maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja. Tidak peduli orang itu peka atau tidak, pemalu atau pemarah atau sulit bergaul dengan orang lain sekalipun, dengan motivasi dan usaha yang benar kita dapat mempelajari kecakapan emosi tersebut. Dan yang paling penting adalah kecerdasan emosi ini dapat meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang kita hidup.

NB: Ini tulisan jaman dulu…. bekas makalah kuliah

Komentar

Minggu yang sibuk

Sejak akhir pekan kemarin menginap di kantor. Ada tenggat yang tiba-tiba datang. Panik, dan akhirnya semua sibuk. Bahkan untuk posting pun tidak sempat, atau tepatnya tidak menyempatkan diri. Kemarin-kemarin juga aku kesal sama layouter. Kebagian kerja bareng sama layouter yang ga tanggep dan sok kepedean banget. bikin males. akhirnya kemarin sampai puncaknya, aku marah dan itu kuomongkan ke dia. abis gimana lagi. udah kesel aja. untuk hal-hal sepele yang seharusnya diketahui sama seorang layouter aja dia ga tau. parah banget. trus udah sebulan dia kerja. kemana aja, ngapain aja, belajar engga sih. astaghfirullah. ya moga2 aja ada perbaikan ke depan, gimana engga, target berbulan-bulan kedepan bukannya tambah sedikit tapi tambah banyak. kalo dia ga ada progres, ya bisa aja, bulan depan dia harus SG alias say goodbye.

Komentar

Ya Allah, Tuhan

Sekarang sedang mengedit, naskah luar biasa berat. Inilah naskah terberat yang ku edit. Baik secara konten maupun penulisannya. Rasanya pingin nangis. Mekaniknya banyak banget. Dan itu makan waktu dan tenaga luar biasa. Itu baru segi mekanik, belum baca isi. Tanda kutip, penulisan ayat, nama ayat, konsistensi. Allah, Tuhan. Luar biasa. Kontennya pun sangat kontemplatif. Sehingga harus bersih hati ketika membacanya. Jadilah mengedit naskah ini sambil menangis-nangis, nangis karena parahnya edit mekanik yang harus dilakukan, dan edit bahasa yang luar biasa, dan nangis kontemplatif yang mempertanyakan kembali mau apa hidup ini. Allah, Tuhan, Luar biasa. Subhanallah.

Komentar (1)

Cengeng

Cengeng ini adalah salah satu karakterku. Aku termasuk orang yang mudah menangis, tapi seketika bisa berubah tertawa-tawa. Sambil menangis pun, walau tidak konsen, aku masih bisa bekerja. Memikirkan pekerjaan, dan hal-hal lain yang harus dikerjakan. Memang menangis tidak akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya hati akan terasa lebih ringan ketika sudah selesai menangis.

Jadi inget lagunya Dewa…

Menangislah… jika harus menangis, karena kita semua manusia  ….

Menangis tentu ada sebabnya. dan penyebab itu menoreh hati kita sehingga membuat kita menjadi menangis. Hari ini penyebabnya adalah 3 buah sms, yang sudah kuketahui ujungnya. Itu karena aku berharap lebih saja sebenarnya. Tapi, Allah berkehendak lain. Allah sedang berbicara kepadaku tentang kesabaran dan keikhlasan. Aku menontonnya dari film Ayat-Ayat Cinta kemarin. Ketika Fahri di penjara, dan teman sepenjaranya berbicara kepadanya tentang hal itu. Dan itulah yang terjadi padaku sekarang.

Tapi dengan begini, aku akan jadi lebih kuat dan aku akan mengoptimalkan semua kemampuan yang aku bisa. Aku bisa berhasil di mana pun aku berada.

Komentar

Kenapa Jadi Editor?

Judul di atas adalah hal yang sering ditanyakan orang kepadaku. Mengingat latar belakang pendidikanku yang mungkin tidak nyambung dengan bidang editorial. Selain itu, sayang katanya lulusan magister koq “cuma” jadi editor.

Aku memilih menjadi editor dengan sengaja menceburkan diri. Jika tidak, kenapa juga susah-susah milih jadi editor, kenapa tidak bekerja di LSM, atau departemen lain yang sesuai dengan latar belakang pendidikan aku. Atau banyak juga yang menawarkan untuk menjadi pengajar, jadi dosen. Kan lebih enak katanya. Kupikir-pikir mungkin iya, tapi entah ada yang tak sreg di hati ini.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (1)

« Tulisan sebelumnya · Entri selanjutnya »