Crazy Little Thing Called Love
Aku lagi nulis buku tentang makanan afrodisiak. Karena itu aku jadi banyak membaca tentang cinta, terutama mekanisme biologis dan fisiologis jatuh cinta, dan tahapan selanjut-selanjutnya…
Sebenernya pengen nulis tentang ini udah lama, sejak masih di Bandung dulu, pas abis nemuin majalah National Geographic edisi februari 2006 tentang cinta. Di sana dijabarkan penjelasan secara biologis dan fisiologisnya apa yang membuat orang jatuh cinta dan mengapa orang yang jatuh cinta cenderung menjadi aneh. Makanya gak heran juga kalau Queen dalam salah satu lagunya bilang, Crazy little thing called love… karena memang begitu…
Secara biologis, cinta dan kasih sayang yang ada dalam diri manusia dikendalikan oleh senyawa-senyawa kimia tertentu. Senyawa-senyawa ini merupakan bagian dari sistem hormonal tubuh. Dengan kata lain, cinta adalah “permainan” hormon-hormon atau senyawa kimia tertentu.
Nah, ini bahasanya dr Tauhid…
Dilihat dari sistem kerja tubuh manusia, jatuh cinta alias kasmaran bukanlah sebuah proses sederhana. Banyak sistem canggih yang terlibat di dalamnya. Sejatinya, dalam diri orang yang tengah kasmaran mengalir senyawa-senyawa kimia tertentu.
Rangsangan yang datang dari luar, entah itu bau tubuh sang kekasih (melalui feromon), tatapan mata, untaian kata-kata, hingga postur tubuh yang terindra, akan merangsang otak untuk memproduksi sejumlah senyawa kimia lalu menjalarkannya ke sistem saraf melalui peredaran darah.
Tak heran jika orang yang tengah kasmaran, secara fisik dan psikologis mengalami perubahan drastis, muka memerah, salah tingkah, hilang konsentrasi, sulit berpikir logis, jantung berdebar, napas tidak beraturan, terlena, keringatan, curi-curi pandang, tersenyum malu, dan sebagainya.
Ketika panah asmara telah menghunjam di dada, otak akan segera bereaksi dengan memproduksi senyawa feniletilamin (PEA), dopamin, dan norepinefrin, lalu menyebarkannya ke seluruh tubuh.
Apa yang terjadi? Rasa bahagia pun membuncah di dalam dada. Semuanya menjadi indah. Ketika seseorang memandang kekasih hatinya, dopamin akan membuat bagian ventral tegmental dan caudate nucleus di otak menyala. Dalam dosis tepat, dopamin menciptakan kekuatan, kegembiraan, perhatian yang terpusat, serta dorongan yang kuat untuk memberikan imbalan.
Helen Fisher adalah salah seorang ilmuwan dari Rutgers University yang mengusung pendapat ini dan menyebarluaskannya. Fisher banyak meneliti tentang reaksi-reaksi biokimia yang terjadi dalam tubuh kita saat kita merasakan jatuh cinta. Berdasarkan hasil penelitiannya, Fisher mengajukan teori ada tiga tahapan yang terjadi ketika kita mengalami jatuh cinta
1. Lust
Tahap ini merupakan tahap pertama yang merupakan tahap awal ketertarikan. Dalam tahap ini, terdapat dua macam hormon yang berpengaruh penting. Efek hormon ini hanya bertahan selama beberapa minggu atau beberapa bulan.
2. Attraction
Tahap ini merupakan tahap kedua dan tahapan yang paling umum dialami. Sebagian ahli menyebutnya sebagai tahapan cinta romantis. Tahap attraction ini dipengaruhi oleh kumpulan neuro-transmitter (cairan transmiter dalam otak) yang disebut monoamines. Anggota kumpulan neuro-transmitter tersebut adalah sebagai berikut.
1) Dopamin, zat yang juga dapat diaktifkan oleh kokain dan nikotin.
2) Norepinephrin, juga dikenal sebagai adrenalin yang dapat membuat kita berkeringat dan berdebar-debar.
3) Serotonin, salah satu zat kimia terpenting yang dapat membuat kita “gila sementara.”

Jalur pergerakan neurotransmitter ketika seseorang jatuh cinta.
Sumber: www.howstuffworks.com
Efek dibebaskannya bahan kimia tersebut pada aliran darah dalam tubuh, memiliki efek yang sama seperti stres. Tandanya, bisa jadi individu tersebut kehilangan selera makan, tidur lebih sedikit, dag dig dug, berkeringat dingin ketika melihat orang yang dicintainya.
Love is mad, begitulah kalimat yang cukup sering terdengar. Berdasarkan penelitian tahun 1990 di Italia, bila kita jatuh cinta, kita akan mengalami beberapa gejala OCD (Obsessive Compulsive Disorder). OCD ini dapat mengakibatkan seseorang menjadi obsesif terhadap sesuatu dan dapat menurunkan kadar serotonin.
Pelajar Italia yang sedang jatuh cinta, ditemukan memiliki kadar serotonin 40% lebih rendah daripada pelajar yang tidak sedang jatuh cinta. Rendahnya kadar serotonin ini berkaitan dengan munculnya kegelisahan dan depresi. Untungnya, efek biokimia tersebut tidak berlangsung selamanya. Pelajar yang jatuh cinta tersebut ditemukan memiliki kadar serotonin yang normal setelah satu tahun menjalin hubungan.

Tahapan cinta secara fisiologis dan neurotransmitter dan hormon yang dikeluarkannya.
Sumber: http://www.bbc.co.uk/science/hottopics/love
3. Attachment
Inilah tahap yang akan mengakhiri tahap attraction jika hubungan yang ada ingin dilanjutkan. Attachment merupakan long lasting commitment yang dapat mengikat pasangan saat mereka ingin membentuk suatu keluarga. Tahap yang ketiga ini dipengaruhi oleh tiga jenis bahan kimia berikut.
1) Oksitosin, hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipotalamus, memperkuat hubungan antara pasangan, dan antara ibu dengan anaknya.
2) Vasopresin, hormon ini berperan mengontrol fungsi ginjal.
3) Endorfin, merupakan neuro-transmitter yang dihasilkan oleh otak kita jika kita melakukan “hal-hal yang baik”. Hormon ini memungkinkan kecanduan terhadap suatu aktivitas tertentu yang dianggap sebagai “hal-hal baik”, misalnya memenangkan sesuatu, tertawa, berolahraga, bercinta, dan jatuh cinta. Endorfin juga dapat membuat kita bahagia dan merasa hidup.
Itu salah satu bagian saja dari buku aku. Masih ada lagi yang lainnya… Dan karena itu aku jadi semakin tahu, bahwa aku tidak tahu apa-apa.
hay leh kenal ngk? mampir ke blog ax ych http://aditya60.wordpress.com
Assalaamu’alaykum,mbak Nung..
Hmm..ini kali yg bikin mbak Nung jadi jarang ol,g s4 sms..hehe. Lagi nulis buku to. Wish d best ajah. Semoga Alloh memudahkan. Amin.
Mmm,mbak..ada penjelasan ilmiah g ttg patah hati?
keren nih penjelasannya…
Tulisan yang menarik. Terima kasih sudah berbagi informasi. Jika ingin tahu lebih banyak lagi tentang Cinta, silakan baca artikel Butir-Butir Cinta di blog saya. Salam kenal, sobat.
Lex dePraxis
Romantic Renaissance