Posted by: nurcha on: Juni 11, 2008
Ketika sudah berada dalam sebuah perusahaan, selalu ada suka dan dukanya. Semuanya terus berkembang, cepat ataupun lambat. Hal yang paling menyenangkan, salah satunya adalah mencari tahu apa yang sebenarnya ada di kepala manajer dan apa sebenarnya sistem yang digunakan oleh sebuah perusahaan dalam memberdayakan karyawannya. Rasanya seperti puzzle game. Atau game apa ya …
Belakangan ini aku banyak membaca buku manajemen. Buku teks manajemen tulisan Richard L. Daft terbitan Salemba Empat. Ada banyak hal tentang manajemen, manajerial, kepemimpinan, sistem, wah pokoknya banyaklah. Intinya semuanya berkaitan dengan pengaturan orang (SDM), sistem, finansial, dan marketing atau cara mendapatkan pelanggan. Ya, tetap saja ujung-ujungnya PM alias Piti Masuk.
Ada satu subbab yang menarik di sana. Tentang tiga tahap perkembangan moral pribadi. Tiga tahapan itu terdiri atas tahap prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional. Ketiganya memiliki karakternya sendiri-sendiri dan pengaruhnya terhadap gaya kepemimpinan dan perilaku karyawan.
Tahap 1 Prakonvensional: Mengikuti aturan untuk menghindari hukuman. Bertindak untuk kepentingan sendiri. Kepatuhan untuk keselamatan diri sendiri. dengan gaya kepemimpinan Otoriter/memaksa dan perilaku karyawannya hanya menyelesaikan pencapaian tugasnya saja.
Tahap 2 Konvensional: Memenuhi harapan orang lain. Memenuhi tugas dan kewajiban sistem sosial. Menjunjung tinggi hukum. Tipe kepemimpinannya adalah Menuntun/mendorong berorientasi pada kelompok. dan perilaku karyawannya berada pada tingkatan kolaborasi kelompok.
Tahap 3 Pascakonvensional: Mengikuti prinsip keadilan dan kebenaran yang dipilih sendiri. Menyadari bahwa orang menganut nilai yang berbeda dan mengupayakan solusi kreatif untuk dilema etika. Menyeimbangkan perhatian terhadap individu dengan perhatian terhadap kebaikan bersama. Pada tahap ketiga ini tipe kepemimpinannya adalah Kepemimpinan transformative atau pelayanan. dan perilaku karyawannya di sini adalah karyawan yang bekerja diberdayakan dan partisipasi penuh.
Nah, di mana menariknya. Itu ada pada tahapan moral itu dan kaitannya dengan gaya kepemimpinan dan perilaku karyawan. Jadi, ketiganya tidak terputus. Antara employee dan user. User ini bisa perusahaan atau manajer atau siapa pun itu.
Mayoritas manajer menjalankan tahap dua. Intinya sebenarnya ada pada organisasi. Seharusnya masing-masing pihak menyadari pihak-pihak berkepentingan yang penting bagi sebuah perusahaan. Apa sajakah mereka, investor, pemegang saham, karyawan, pelanggan, dan pemasok dianggap sebagai pihak yang berkepentingan, karena tanpa salah satu dari mereka, organisasi tidak akan dapat bertahan.
Kepentingan investor, pemegang saham, dan pemasok terpenuhi dengan efisiensi manajemen, yaitu penggunaan sumber daya untuk memperoleh laba. Karyawan mengharapkan kepuasan kerja, gaji dan pengawasan yang baik. Para pelanggan memerhatikan keputusan mengenai kualitas, keamanan, dan ketersediaan barang dan jasa. Apabila salah satu kelompok pihak-pihak yang berkepentingan tidak puas, kelangsungan hidup organisasi akan terancam.
Ada timbal balik yang seimbang antara employee dan perusahaan. Good employee, bukan berarti harus menuruti semuanya, dan good perusahaan tidak berarti harus top down semua halnya, tanpa disertai kelayakan dan kepatutan yang cukup, dengan menjadikan berbagai hal menjadi alasannya.
Ada kalimat bagus dari salah seorang karyawan yang bekerja di perusahaan yang memproduksi software statistik SAS, dia mengatakan bahwa “karena Anda diperlakukan dengan baik, maka Anda memperlakukan perusahaan dengan baik.”
Kesannya ngebela karyawan banget ya. Padahal ga semua karyawan mungkin berpikiran baik. Kacaunya, lebih banyak karyawan berpikiran lugu dan tidak cukup kritis, sehingga ada banyak celah yang akhirnya dijadikan perusahaan sebagai salah satu cara untuk menekan karyawan.
Ada banyak perusahaan yang fair kepada karyawannya, tapi lebih banyak lagi yang tidak fair kepada karyawannya. Karyawan atau buruh, sebenarnya sih sama-sama aja, Cuma beda nama kan.
Komentar Terakhir