Mengelola Waktu atau Energi Maret 29, 2008
Posted by nurcha in Manajemen.add a comment
By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Dalam sebuah pertemuan bertemakan kepemimpinan, seorang GM dari perusahaan properti raksasa mengeluhkan pekerjaannya yang “overloaded”. Tantangan kerjanya dirasa bertambah memusingkan karena ia harus menservis beberapa atasan dengan kemauan yang berbeda-beda dan berubah-ubah, sementara bawahan pun tidak bisa dilepas. Di balik keluhan teman kita mengenai beban dan tanggung jawab yang bertumpuk ini, sesungguhnya ia mengemukakan pula rasa frustrasi atas tidakberhasilannya mengelola waktu yang hanya 24 jam, agar semua pekerjaan tuntas.
MDG, No one else but us! Maret 29, 2008
Posted by nurcha in My Mind, Tulisan aku!.add a comment
Millennium development goals is a fundamental set of principles and guidelines pledged by 191 member states of the united nations to combat poverty, hunger, disease, illiteracy, environmental degradation and gender inequality by the year 2015. So for the member of United States like or not, easy or hard must implement this millennium development goals in 2015 and so do Indonesia.
Truly, I don’t know for other states, but for Indonesia, I think implementing the millennium development goals successful and timely by 2015 is not such easy when we say, write or just pledge it.
Why so pessimistic? Maybe we can say it is a pessimistic statement, but I think this pessimistic statement is based on reality in Indonesia.
But don’t take much time to be pessimistic its wasting energy and wasting time. To be the best or just better we must do a thing as good as possible as a citizen, as a minister, as everything we are.
Kontroversi Film Ayat-ayat Cinta Maret 29, 2008
Posted by nurcha in Curhatan, Error aja, Film.2 comments
Dah ada banyak banget tulisan tentang Film ayat-ayat cinta.
Tapi, ternyata masih seru saja dibahas dimana-mana. aku juga jadi tertarik untuk nulis juga.
Aku pribadi sih dah nonton versi bajakan dan versi bioskop. Tetap ada perbedaan. Kupikir sih, kalaupun ada versi bajakan duluan, itu bisa aja strateginya si produser.
Orang yang penasaran kan, mestinya dia akan membandingkan dengan versi bioskopnya.
Meski, banyak kontroversi, itu akan semakin menguntungkan bagi produser. Film pun akan semakin populer.
Apa artinya …. itu cuma satu PM alias Piti Masuk. Apalagi yang penting buat orang India itu. Apa pun akan dikomersilkan, selama masih bisa dikomersilkan. So… kenapa harus repot. Jujur saja, kita pun menikmati bajakannya juga koq. Kenapa pula akhirnya harus jadi harus sok bersih, dengan mengkritik ini itu ini itu ….
Sekarang sih, gampang bicara. gampang nulis. ….
Apa yang sulit. Berkarya…. sanggup ga, bikin versi baru ayat2 cinta?
Kalo ada yang bisa, kenapa engga dicoba ….
Aku bakal jadi yang nonton pertama kali ….
aku mau liat ….
(halah kenapa jadi panas begini)
Hormon PYY, Alternatif Untuk Mengurangi Berat Badan? Maret 29, 2008
Posted by nurcha in Kesehatan & Gizi, Tulisan aku!.add a comment
Dunia dilanda oleh obesitas, bahkan gejala obesitas yang sudah mendunia ini diplesetkan menjadi globesitas. Diet makanan ala barat dan gaya hidup sedentary (santai) sering kali dituduh menjadi penyebab mendunianya obesitas ini. Maraknya gerai-gerai fast food di negara berkembang seringkali diplesetkan pula menjadi salah satu parameter modern suatu negara. Gerai-gerai fast food tersebut diantaranya menyajikan 2 menu utama yaitu Burger dan Coca Cola. Dan lagi-lagi dua ikon itu diplesetkan menjadi cara ekspansi pola makan ala barat ke negara-negara berkembang sebagai Burgerisasi dan Coca-Colanisasi.
EQ vs IQ …. in Life Maret 29, 2008
Posted by nurcha in Curhatan, My Mind, Tulisan aku!.add a comment
(QS At-Tiin: 4)
Sebuah kesuksesan menuntut kematangan pribadi dan itu adalah kecerdasan emosi.
Kerasnya kehidupan saat ini membuat manusia menjadi buta emosi. Derasnya informasi yang sampai kepada kita penuh dengan lenyapnya sopan santun dan rasa aman, menyiratkan adanya serbuan dorongan sifat jahat. Dan dalam skala yang lebih besar berita itu memberikan gambaran adanya emosi-emosi yang secara perlahan tidak terkendalikan dalam kehidupan kita sendiri dan dalam kehidupan orang-orang sekitar kita. Tidak ada orang yang mampu bertahan dari gelombang ketidaktentuan ledakan kemarahan dan sesal ini. Gelombang ini telah menembus sisi sisi kehidupan kita dengan segala cara.
Mengglobalnya tindak kekerasan di seluruh dunia memncerminkan meningkatnya ketidakseimbangan emosi, keputusasaan dan rapuhnya moral di dalam keluarga kita, masyarakat dan kehidupan kita bersama. Tekanan moral berupa terurainya jalinan masyarakat yang semakin cepat, sifat mementingkan diri sendiri, kekerasan dan sifat jahat nampaknya telah menggerogoti sisi – sisi baik kehidupan masyarakat. Dan hal tersebut sudah merupakan alasan yang cukup untuk mendukung perlunya kecerdasan emosional yang bertumpu pada hubungan antara perasaan, watak dan naluri moral.
Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa sikap etik dasar dalam kehidupan berasal dari kemampuan emosional yang melandasinya. Misalnya dorongan hati merupakan medium emosi; benih semua dorongan hati adalah perasaan yang memunculkan diri dalam bentuk tindakan. Orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri menderita kekurangmampuan pengendalian moral: kemauan dan watak. Dengan cara yang sama akar cinta sesama terletak pada empati, yaitu kemampuan membaca emosi orang lain tanpa adanya kepekaan terhadap kebutuhan atau penderitaan orang lain, tidak akan timbul rasa kasih sayang.
Warisan genetik memberi kita serangkaian muatan emosi tertentu yang menentukan temperamen kita. Tetapi jaringan otak yang terlibat sangat mudah dibentuk-bentuk. Pelajaran-pelajaran emosi yang kita peroleh semasa kanak-kanak, dirumah dan di sekolah akan membentuk sirkuit-sirkuit emosi, membuat kita cakap atau tidak cakap dalam hal dasar-dasar kecerdasan emosional. Ini berarti bahwa masa kanak-kanak dan remaja merupakan peluang terbuka yang penting untuk mengarahkan kebiasaan-kebiasaan dan mengembangkan emosi yang esensial yang akan menentukan kehidupan kita di masa yang akan datang.
Pakar EQ (Emotional Quotient), Goleman berpendapat bahwa meningkatkan kualitas kecerdasan emosi sangat berbeda dengan IQ (Intellegent Quotient). IQ umumnya tidak berubah selama kita hidup. Sementara kemampuan yang murni kognitif relatif tidak berubah (IQ), maka kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja. Tidak peduli orang itu peka atau tidak, pemalu atau pemarah atau sulit bergaul dengan orang lain sekalipun, dengan motivasi dan usaha yang benar kita dapat mempelajari kecakapan emosi tersebut. Dan yang paling penting adalah kecerdasan emosi ini dapat meningkat dan terus ditingkatkan sepanjang kita hidup.
NB: Ini tulisan jaman dulu…. bekas makalah kuliah