jump to navigation

Kenapa Jadi Editor? Februari 23, 2008

Posted by nurcha in All About Editing, Catatan Perjalanan, Curhatan, Error aja.
trackback

Judul di atas adalah hal yang sering ditanyakan orang kepadaku. Mengingat latar belakang pendidikanku yang mungkin tidak nyambung dengan bidang editorial. Selain itu, sayang katanya lulusan magister koq “cuma” jadi editor.

Aku memilih menjadi editor dengan sengaja menceburkan diri. Jika tidak, kenapa juga susah-susah milih jadi editor, kenapa tidak bekerja di LSM, atau departemen lain yang sesuai dengan latar belakang pendidikan aku. Atau banyak juga yang menawarkan untuk menjadi pengajar, jadi dosen. Kan lebih enak katanya. Kupikir-pikir mungkin iya, tapi entah ada yang tak sreg di hati ini.

Aku juga sebenarnya tidak begitu menyukai pertanyaan yang menyudutkan seperti, kenapa lulusan magister jadi editor. Aku berpikir, menjadi seorang editor memang harus cerdas, harus pintar, dan pendidikan juga harus tinggi. Bukankah “harga” seorang editor ahli itu juga sangat mahal. Selain itu, itu juga bisa jadi jurus pamungkas jika kita menghadapi penulis yang “rewel” karena menganggap naskahnya sudah sempurna dan membodoh-bodohkan editor yang mengedit bukunya, sambil berkata, “ah, tau apa editor”. Karena dia menganggap tingkat pendidikannya lebih tinggi. Nah, kalau editor juga punya tingkat pendidikan yang tinggi, bukankah dia akan lebih “dipandang” oleh penulis yang “rewel” tersebut. Ya, bukan bermaksud untuk menang kalah dalam hal ini, tapi itu juga salah satu pertimbangan, bahwa seorang editor harus juga punya pendidikan yang baik, tanpa menafikkan bahwa banyak editor andal dan mumpuni dalam bidangnya, tapi tak terkenal namanya mungkin tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, setinggi buku yang ditulis oleh penulisnya.

Semangaat terusss! Korps Editor Indonesia… Cayo!

Komentar»

1. MC - Februari 24, 2008

Setuju…………
apapun pekerjaannya pendidikan tetep menjadi basis penunjangnya