Editor ga baca buku, Aneh kan? Februari 18, 2008
Posted by nurcha in Buku, Catatan Perjalanan, Error aja.trackback
Rasanya sudah lama sekali tidak membaca buku baru. Editor tidak membaca buku. Nah, aneh kan. Maksudnya di sini adalah buku-buku yang memang aku ingin baca, bukan buku karena memang wajib untuk dibaca. Hah, apa ini.
Sebenarnya ini hanya masalah persepsi saja. Bukankah, seharusnya buku-buku yang diedit itu juga adalah buku yang ingin juga dibaca kan. Jadi sebenarnya sama saja kan, hanya berbeda versi pandangan saja.
Bulan ini, aku sudah menghabiskan hampir 500 ribu untuk beli buku. Gila kan. Ada bukunya George Soros yang ingin aku baca. Open Society, sebenarnya buku Soros yang hadiah dari temanku saja belum tamat kubaca. Tamat sih, tapi aku belum mengerti. Yang ada hanya gatal mata saja, lantaran banyak banget yang harus diedit. Mengurangi kenikmatan membaca. Sungguh. Ha ha ha ha… dasar. Padahal buku-buku hasil editannya sendiri belum sempurna. Wha ha ha ha…
Yuk lah kita lihat sebentar… refreshing… secara sekarang sedang mengedit naskahnya Soraya Haque…. (aku ngedit naskahnya Soraya…. Whaaaaw….). Ah, lagi ngomong ini, bahas dulu lah sebentar.
Bocoran aja, sampe nanti diterbitkan oleh salah satu penerbit di Indonesia. Naskahnya kontemplatif banget, sampe-sampe kalo dah siang atau pagi, pokoknya masih ada matahari gitu, ga bisa ngebacanya. Tapi kalo malam, siap-siaplah tissue… untuk membasuh air mata dan ingus dari hidung (ih jorok ya) karena tiba-tiba saja jadi bercucuran air mata ketika membacanya. Itu dari segi konten. Tapi dari segi penulisan, terutama penulisan ayat agak parah karena mau tidak mau harus disesuaikan dengan gaya selingkung penerbit yang ngotsorcin (bahasa apa pula ini?) naskahnya ke aku. Dan banget itu. Jadi isinya belum kubaca banget-banget karena konsen dulu ke hal yang renik-renik dan pelatih kesabaran itu. Belum lagi tanda-tanda kutip yang kebalik-balik… wah pokoknya mah indah sekali lah. (bohong ya… kan harus berpikir positif… jadi membohongi otak untuk ini ga pa pa kan, wakakak).
Nah, sekarang baru pindah ke buku yang lain dulu lah, judulnya how to be an even better manager. Buku kuambil dari fotokopian siang tadi. Wah ketauan ngebajak ya. Tapi ga papalah. Karena kalo beli buku aslinya mahal bok! Yang penting kan isinya. Halah pembelaan diri kan.
Jadi manajer ternyata susah juga ya. Ya, tetapi bukan sesuatu hal yang tidak bisa dilatihkan. Pemimpin. Lagi-lagi yang dibahas adalah kepemimpinan seseorang. Bukan bos. Not a boss, but a leader, that is what we need. Orang bilang begitu.
Ah, ini bahasan berat sebenarnya. Bahasan yang paling malas aku bahas, tapi aku pengen tau banyak. Akhirnyalah, karena ada hukum tarik menarik itu, tepatnya seminggu inilah, kurasakan perkembangan suasana kantor meningkat dan menghangat begitu cepat.
Ah, konflik itu wajar pada setiap perusahaan (emang ada konflik gitu?). Adanya konflik menunjukkan kesehatan pada organisasi tersebut, kata buku itu. Wakakak, lagaknya kayak yang paham. Padahal sih belum tau apa-apa. Secara masih anak kemarin sore di dunia penerbitan. Belum juga dua tahun berkecimpung. Baru 15 bulan. Keur masih banyak melakukan kesalahan-kesalahan keneh. Halah, kenapa jadi beralih ke bahasa sunda begini.
Udah lah…
Jadi, L.o.A, eh?
Secara editor sebenarnya harus banyak buku sebagai referensi. Meskipun tidak harus buku-buku yang serius, yang penting sesuai dengan hati.
Oh ya Mbak, udah berapa buku yang dihasilkan?