jump to navigation

Paradoks Teknologi Kloning Manusia Februari 9, 2008

Posted by nurcha in Filosofi.
trackback

Oleh : Nurchasanah

Ilmu pengetahuan harus dicari dalam rangka pengabdian kepada Allah dan untuk mencari ridho-Nya. Mencari ilmu adalah ibadah maka ia tidak boleh dicari untuk mengadakan pengingkaran kepada-Nya atau bahkan untuk menandingi-Nya. Oleh karenanya manusia sebagai wakil Allah yang memegang amanah-Nya tidak boleh memajukan ilmu pengetahuan dengan mengorbankan alam. Melainkan sebagai penjaga alam manusia harus mempelajari alam untuk mengapresiasi ayat-ayat Allah dan bukan malah sebaliknya menjarah alam demi kesejahteraan pribadi atau golongan.
Oleh karenanya studi tentang semesta seharusnya diarahkan pada dua hasil yaitu pemahaman tentang dunia material yang diperoleh dari pemahaman dan refleksi atas realitas-realitas spiritual—walau kadang hal sebaliknya juga dapat terjadi. Maka dapat dirunut bahwa sebenarnya ada keterkaitan antara ilmu, keadilan dan kepentingan publik. Ketiga hal itu memberikan panduan bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan untuk memajukan prinsip-prinsip persamaan, keadilan sosial dan nilai-nilai lain yang didukung oleh masyarakat dan kebudayaan muslim.

Seorang ilmuwan jika ia tidak merupakan orang yang paling membawa manfaat maka ia adalah yang paling membawa petaka. Sebuah statemen yang menarik dan nampaknya memang benar adanya. Jika seorang ilmuwan tidak dibekali oleh ilmu agama dan etika yang cukup maka ia akan terjebak oleh obsesi dan hawa nafsunya. Bayangkan sebuah obsesi akan hal yang mungkin dikatakan sebagai hal yang tabu namun jika ilmuwan itu bersifat dan berpikir profit oriented karena obsesinya didanai maka tentunya ilmuwan itu akan tetap bekerja dan menggali ide guna mewujudkan obsesinya tersebut.
Mengapa ? karena sejak renaissance bergulir sains adalah hal yang sangat menjanjikan dan dapat dikatakan paling banyak menghasilkan profit. Pada tahun 1995 domba Dolly berhasil dilahirkan, dan seketika kontroversi dan perdebatan mengenai kloning merebak. Bahkan kabar terakhir kloning manusia pertama telah berhasil dan bayi hasil kloning tersebut sudah lahir dan bernama Eve.
Seorang dosen biologi molekuler Universitas Diponegoro Drs Widjanarka MSi pernah menulis mengenai status biologis produk kloning. Beliau mengungkapkan bahwa status biologis domba Dolly sebenarnya tetap saja makhluk ciptaan Allah. Karena para penelitinya Ian Wilmuth dan kawan-kawan tetap saja bukan penciptanya. Hanya saja mereka secara kebetulan mampu menangkap fenomena alamiah tentang reproduksi domba secara molekuler.
Dalam hal ini mereka hanya melakukan transfer inti sel diploid ambing untuk dititipkan pada oocyt domba lain. Sampai kapanpun dapat dipastikan para peneliti itu tidak akan mampu membuat inti sel ambing yang berisi materi genetik, dan mereka juga tidak akan dapat membuat oocyt domba untuk kemudian di ganti dengan inti sel ambing lalu membiakkan dalam medium pembiak sebelum dititipkan lagi pada induk domba lain. Maka dalam hal ini jelas bahwa perkembangan embrional berjalan secara alami karena terjadi dalam rahim domba yang dititipi.
Sehingga menurut beliau status biologis domba Dolly sebenarnya tidak ada masalah karena tidak menyinggung etika dan nilai-nilai agama karena domba hanyalah binatang. Pada akhir refleksinya beliau mengungkapkan selain kita bersikap khawatir atau bahkan ada yang apriori terhadap teknologi kloning tetapi tetap saja kita harus menghargai temuan spektakuler itu. Dan ungkapnya lebih lanjut kita tunggu saja apakah para ilmuwan tega untuk melakukan “kejahatan” iptek untuk membuat duplikat manusia.
Pertanyaan itu dijawab oleh ilmuwan asal Italia Severino Antinori pada awal April 2001 dia beserta koleganya telah tega untuk melakukan “kejahatan” sains dengan merencanakan untuk melakukan percobaan pada anak manusia. Kemudian pada April 2002 dia mengaku telah sukses melakukan kloning manusia. Dan awal tahun 2003 bayi tersebut dikabarkan telah lahir seorang bayi perempuan hasil kloning yang diberi nama Eve. Namun entah kabarnya masih antah berantah karena buktinya tidak dipublikasi sebagaimana domba Dolly.
Jika apa yang diklaim oleh dr. Antinori diatas memang benar maka perkembangan teknologi kloning sudah sedemikian maju dan secara dramatis mendapat publisitas apalagi setelah munculnya domba Dolly. Tetapi apakah benar sudah sedemikian maju. Karena jangankan mengkloning manusia, kloning pada hewan saja masih memperlihatkan banyak janin yang gugur sebelum dilahirkan. Lalu jika memang hewan-hewan tersebut bisa lahir dengan selamat maka tidak sedikit diantaranya yang mati pada usia dini punya cacat lahir dan rentan terhadap penyakit. Sehingga klaim dr. Antinori atas hasil percobaanya belum dapat dijadikan jaminan akan seperti apa kemudiannya. Karena resiko potensi kerusakan emosi atau abnormalisasi tragis dan mutasi mungkin dapat terjadi.
Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2002 menyatakan bahwa tikus hasil kloning tenyata mengandung ratusan gen abnormal. Hasil penelitian ini menerangkan suatu kenyataan mengapa begitu banyak hewan kloning mati pada saat itu bahkan sebelum kelahirannya.
Temuan hasil penelitian ini sekaligus merekomendasikan bahwa akan sangat tidak bertanggung jawab bila kita melakukan eksperimen kloning terhadap manusia. Karena teknik kloning yang ada pada saat ini menyebabkan terjadinya mutasi genetik pada hewan kloning yang dihasilkan dan nampaknya belum ada pemecahan segera untuk masalah ini.
Hal lain yang mengganjal dalam kloning manusia ini adalah mengenai bagaimana kekerabatan manusia kloning dengan orang yang diambil dengan orang yang diambil sel somatiknya? Pembuatan manusia kloning ini jelas akan mengacaukan hubungan-hubungan kekerabatan maupun sosial dan ini dapat menjurus kearah kerusakan tatanan kemanusiaan.
Kloning manusia apapun tujuannya akan menjadi bencana dan sumber kerusakan bagi dunia. Kloning manusia akan menghilangkan garis nasab (garis keturunan) padahal Islam telah mewajibkan pemeliharaan nasab.
Kloning yang bertujuan memproduksi manusia unggul dalam hal kekuatan fisik, kecerdasan, kesehatan kecantikan dan sebagainya jelas mengharuskan adanya seleksi terhadap orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut tanpa mempertimbangkan apakah suami istri atau bukan, sudah menikah atau belum. Inti sel somatik yang akan di klon di ambil dari orang yang memiliki sifat-sifat yang diinginkan dan sel telur akan diambil dari perempuan terpilih dan diletakkan pada rahim perempuan yang terpilih juga. Semua ini akan mengakibatkan hilangnya nasab dan bercampur aduknya nasab.
Memproduksi anak melalui proses kloning akan mencegah pelaksanaan banyak sekali hukum syara` seperti hukum tentang perkawinan nasab, nafkah, waris, hak dan kewajiban antara bapak dan anak perawatan anak, hubungan kemahroman, dan lainnya.
Akan tetapi meski dengan resiko yang besar dan kecaman publik yang luar biasa, ilmuwan dari berbagai negara tetap akan terlibat dalam program eksperimen kloning manusia ini. Hal tersebut boleh jadi didorong oleh potensi yang ada dan itu dilihat sebagai satu aktivitas yang menguntungkan dan pasti akan menghasilkan banyak uang.

Teknologi reprogenetika ini lebih menjual dibanding teknologi nuklir karena ini sangat manusiawi dan dibutuhkan siapa saja dan dahsyatnya teknologi ini memiliki kemampuan untuk menata ulang pola orang tua anak, makna kehidupan bahkan mungkin juga mampu mengontrol nasib kemanusiaan itu sendiri. Dan sebenarnya industri mengerikan ini sebenarnya bukan didorong oleh siapa-siapa tapi oleh individu dan pasangan yang ingin mereproduksi diri mereka sendiri sesuai dengan citra bayangan mereka dan citra itu ditunjang oleh perkembangan iptek yang amat progresif dengan hasil-hasil yang mengejutkan dan salah satunya adalah kloning.
Kekuasaan iptek makin tak terkendali itu terjadi karena ada anggapan bahwa dunia sains dan teknologi adalah dunia eksperimen dengan segala rumusan matematis dan itu tidak berhubungan dengan iman. Selama ini dikotomi itu begitu dominan seiring dengan ditancapkannya pilar renaissance yang katanya merupakan tonggak pencerahan pemikiran dalam lembaran sejarah. Sehingga walaupun pro-kontra kloning manusia masih berlangsung, percobaan kloning masih akan berlangsung seperti sebuah pepatah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.
Maka nampaknya ilmu pengetahuan hanya menjadi kendaraan manusia untuk membuat sebuah norma kehidupan sesuai keinginan pemilik dana walaupun para etikawan dan agamawan berkoar-koar bahwa kloning reproduksi bertentangan dengan maratabat manusia dan sebagainya. Karena menurut Francis Bacon de Verulam (1561-1626) ilmu pengetahuan baru dikatakan benar-benar bermanfaat bila mulai bersifat mecari untung artinya ilmu dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi ini. Ungkapan Bacon yang terkenal yakni knowledge is power merintis dan merumuskan arah perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan barat sejak abad ke-17.
Teknologi kloning haruslah dipakai dengan suatu tujuan yang Jelas. Jika tidak demikian teknologi ini hanya akan mempermainkan hewan atau manusia yang hasilnya sangat berlawanan dengan tujuan dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Jika hewan hasil kloning ternyata justru mengandung ratusan gen abnormal maka usaha untuk membuat manusia kloning kiranya bijak untuk ditinggalkan.
Jika Allah telah berfirman melalui kitabnya:
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tien : 4)
dan sekali lagi Allah berfirman
“Tiada tampak olehmu sesuatu yang tidak seimbang dalam ciptaaan (Tuhan ) yang Maha Pengasih. Cobalah pandang sekali lagi adakah sesuatu yang retak? Kemudian pandanglah sekali lagi dan sekali lagi. Pandanganmu akan kembali lagi pada dirimu seperti pandangan orang hilang ingatan , letih dan lesu.”
(QS Al-Mulk 3-4).
Maka mengapa manusia sendiri harus merusaknya dengan membuat makhluk kloning yang banyak mengandung ratusan gen abnormal tersebut. Padahal manusia bukan hanya sekedar hasil penjumlahan fungsi-fungsi biologi sebagaimana lukisan tidak dapat dikurangi nilainya setara dengan jumlah cat yang digunakannya, atau puisi dengan kata-katanya. Morfologi dan psikologi hanya menggambarkan bagian luar dari manusia. Karena manusia bukan sejumlah atau beberapa materi pembangunnya. Manusia lebih seperti sebuah lukisan, sebuah masjid atau sebuah puisi. Man is more than all the essence together can say about him.
Sains mungkin dapat melukis manusia dengan baik, tetapi sains modern seringkali gagal menangkap dimensi hakiki dari realitas. Pengetahuan mengenai manusia adalah mungkin hanya jika manusia itu merupakan bagian dari dunia atau produk dunia. Namun ini tidak terjadi jika ia berbeda dari alam, manusia adalah makhluk yang didalamnya, jika dia adalah suatu kepribadian.
Kloning manusia tidak akan menuju ke arah kesempurnaan fisik dan intelektual. Dan dari sana ke arah “super-intelligence” dan “super-animal” ke arah super-man-nya Nietzche. Jika “super-animal/human” dilahirkan dari proses kloning maka bisa jadi dia akan menjadi makhluk tanpa inner-life, tanpa kemanusiaan, tanpa drama, tanpa karakter dan tanpa perasaan……….

Dikompilasi dari :
Hartiko Harry Dkk, 1995, Bioteknologi Dan Keselamatan Hayati, Konphalindo, Jakarta.
Jenie A, Umar, 2002, Aplikasi Teknologi Kloning Pada Manusia, Makalah Seminar.
Kompas, 2002, Fokus Kloning, Edisi Minggu, 11 April 2002
Sardar Ziauddin, 2000, Jihad Intelektual, Penerbit Risalah Gusti, Jakarta
Syamsudin, 2002, Pandangan Islam Tentang Aplikasi Bioteknologi, Makalah Seminar.
Widjanarka, 2000, Teknologi Kloning Dan Status Biologis Makhluk Hidup, Niche Edisi 06/V/2000, Majalah Ilmiah Biologi Universitas Diponegoro, Semarang.
Yahya Harun, 2001, Keruntuhan Teori Evolusi, Penerbit Dzikra, Bandung.

Komentar»

1. yarn - Maret 3, 2008

serius x paham ..xde ke dalam standard language??
mean bahasa melayu standard..sory

maksudnya? artikel ini diterjemahkan ke bahasa melayu atau bagaimana?
maaf kalo kurang mengerti? kalo mau, silakan terjemahkan sendiri ke bahasa melayu.

2. yarn - Maret 3, 2008

oooo..never mind
thanks a lot @>—