Jejak Langkah Seorang “The Grand Old Man” Februari 9, 2008
Posted by nurcha in Kisah.trackback
Haji Agus Salim (1884-1954)
Oleh: ST Sularto
LIMA panelis “menyemarakkan” diskusi panel bertema “Aktualisasi Pemikiran dan Sosok H Agus Salim” di ruang rapat Redaksi “Kompas”, 9 Agustus 2004. Mereka adalah Mestika Zed (pengajar Universitas Andalas, Padang), Emil Salim (mantan menteri dalam Kabinet Pembangunan), Budhy Munawar-Rachman (Yayasan Paramadina), Ahmad Syafii Maarif (Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah), dan Siti Ruhaini Dzuhayatin (pengajar IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Aktivis LSM, Moeslim Abdurrahman, bertindak selaku moderator pada diskusi sehari yang hasilnya dituangkan di rubrik “Fokus” halaman 49 sampai 54 edisi hari ini. Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam melengkapi dengan tulisan di halaman 55 dan Litbang “Kompas” menyelusuri jejak H Agus Salim di halaman 56. Tanggal 4 November mendatang genap 50 tahun H Agus Salim wafat. Almarhum dilahirkan 1884 dan wafat 1954.
***
“THE grand old man Haji Agus Salim adalah seorang ulama dan intelek,” kata Bung Karno tentang Haji Agus Salim (1884-1954). Julukan “orang besar yang sudah tua” itu masuk akal. Ketika rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia berlangsung, Juni-Agustus 1945, mungkin Agus Salim anggota tertua. Rata-rata umur para Bapak Bangsa adalah 30-45 tahun. Soekarno berumur 39 tahun, Hatta 43 tahun, sedangkan Haji Agus Salim sudah 61 tahun.
JULUKAN itu tidak melecehkan. Bung Karno menaruh hormat kepada Haji Agus Salim. Tidak saja karena punya pengalaman diplomasi internasional, tetapi juga Agus Salim memang genius. “Salim op zijn best,” kata Bung Hatta. Salim pada masa terbaiknya. Penghargaan yang pantas baginya adalah julukan “Indonesia’s grand old man”.
Nama Haji Agus Salim adalah nama besar. Sama seperti umumnya 67 Bapak Bangsa Indonesia yang lain, pemikiran Agus Salim keluar dari kepompong kepentingan pribadi. Mereka mendahului zaman. Begitu juga Agus Salim. Mereka meninggalkan jejak langkah, warisan nilai-nilai luhur cita-cita kemerdekaan. Sementara posisi “mendahului zaman” itu bagi Agus Salim tidak selalu mengenakkan.
Sejarawan Taufik Abdullah pernah mencoba membuka tabir Haji Agus Salim sebagai aktor sejarah. Ia merasakan kegetiran Agus Salim menjadi pemimpin yang berorientasi pada pembaruan. Peran seseorang dalam ruang publik, seperti ditunjukkan Agus Salim, menjadi lebih getir ketika dia tidak hanya terbatas mengisi peran sosialnya, tetapi melampaui batas-batas kesejarahan.
“Salim menyelami apa artinya kegetiran itu. Ia menjalaninya dengan segala cerita lucu dan menarik,” tulis Taufik Abdullah dalam “Haji Agus Salim dan Pembentukan Tradisi Kecendekiaan Islam di Indonesia” dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim (Penerbit Sinar Harapan, 1984).
Menurut Taufik, kumpulan cerita lucu dan menarik tentang tokoh the grand old man ini membuka tabir apa yang terjadi dalam dirinya. Sosok Haji Agus Salim menjadi ironis. Ironi Salim adalah ironi yang dilahirkan situasi kolonial ketika seseorang mempunyai harga diri yang tinggi. Bahkan juga ironi dari keteguhan sikap tentang seorang pejuang yang ditolak. Salim menyikapi ironi dalam komentar dan pernyataan yang lucu-lucu.
Dalam diskusi sehari itu, pemakalah Ahmad Syafii Maarif mengingatkan lelucon kambing, salah satu anekdot yang banyak diingat dan dikutip orang tentang Agus Salim. “Embek, embek,” ejek hadirin ketika Agus Salim sebagai pemimpin Syarikat Islam bersama HOS Tjokroaminoto naik ke mimbar. Ia disamakan dengan kambing. “Saya harap kambing-kambing dikeluarkan dari ruangan,” kata Agus Salim setelah menyapa hadirin dengan kalimat “saudara-saudara dan kambing-kambing yang terhormat”. Kini siapakah yang jadi kambing sesungguhnya? Keadaan telah berbalik. Agus Salim memberi makna penolakan itu dengan sikap melucu, bagian dari luapan kegetirannya.
Tepatlah mengangkat kembali pemikiran dan sosok Agus Salim di hari-hari kita merayakan kemerdekaan. Sosoknya menjadi aktual justru di tengah bangsa Indonesia semakin kehilangan sosok teladan dan sosok pemimpin, di tengah bangsa ini mencari calon pemimpin nasionalnya lewat pemilihan umum presiden 20 September.
DUA hal spontan muncul tentang tokoh Haji Agus Salim. Dialah seorang politikus ulung dan seorang ulama besar.
Sebagai politikus, satu dari 68 Bapak Bangsa (founding fathers) itu memiliki beberapa kelebihan. Dalam tubuhnya yang kecil, berjanggut putih lebat, terhimpun berbagai kelebihan. Tidak hanya politikus ulung, tetapi juga seorang wartawan, ahli sejarah, ahli bahasa, praktisi pendidikan, dan filosof. Selain politikus ulung, Salim juga sosok politikus beretika dan berkarakter.
Menengok sejarah, ada yang membagi 68 Bapak Bangsa dalam empat kelompok, yakni Soekarno, Hatta, Soepomo, dan Mohamad Yamin. Di antara empat kelompok itu tersebut nama Haji Agus Salim, yang dituakan tidak karena umur tetapi juga karena pengalaman internasionalnya, terutama dalam penguasaan bahasa-bahasa asing. Karena kelebihan-kelebihan itu dia diminta menjadi salah seorang anggota Panitia Sembilan yang berperan besar dalam perumusan Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang semula berjudul Piagam Jakarta.
Agus Salim merupakan satu dari para Bapak Bangsa yang semua mewariskan tradisi intelektualisme dan moral nasionalisme ke anak negeri ini. Karena itu, seorang panelis menyarankan warisan mereka tetap perlu dihidupkan. Merekalah tokoh-tokoh yang mendahului zaman. Transendensi pemikiran mereka diperoleh berkat mesu budhi atau tradisi asketisisme intelektual menurut istilah Sartono Kartodirdjo, kebajikan yang belakangan ini surut dari kehidupan sehari-hari politisi Indonesia.
Meskipun besar dan penting peranannya dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, mengapa nama Salim kurang menonjol? Atau paling tidak, kurang bisa digali lebih banyak informasi tentang Agus Salim. Sementara selama ini yang menonjol dari nama Agus Salim adalah dia tidak mau mengirim semua anaknya ke sekolah Belanda. Seluruh anaknya dia didik sendiri di rumah. Padahal pada usia 41, tahun 1925, dia membentuk Jong Islamieten Bond, tempat berkumpulnya anak-anak muda Muslim yang kemudian setelah proklamasi tergabung dalam Partai Masyumi, suatu partai moralis pembela demokrasi.
Di samping itu, sebagai wartawan ia tercatat menjadi Ketua Dewan Pers pertama; menjabat beberapa kali jabatan menteri luar negeri. Namun, lagi-lagi kita memperoleh kesan nama Agus Salim seolah-olah tenggelam oleh bayang-bayang nama Soekarno, Mohammad Hatta, Soepomo, dan Mohamad Yamin.
Menurut seorang panelis, Siti Ruhaini Dzuhayatin, “tenggelamnya” nama Agus Salim disebabkan faktor dokumentasi gagasan. Agus Salim belum sempat mendokumentasikan gagasan-gagasannya secara utuh. Padahal ia relatif lebih punya pengalaman diplomatik ketimbang Bapak Bangsa yang lain. Padahal perannya dalam Panitia Sembilan, di antaranya menghapus tujuh kata itu, sangatlah besar.
Hilangnya kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” adalah peristiwa bersejarah. Itulah yang kemudian menempatkan Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi modern yang tidak menempatkan salah satu agama sebagai agama negara.
SEBAGAI ulama, banyak hal bisa dibicarakan tentang Agus Salim. Anekdot tentang kesadaran jendernya dipuji, dengan anekdot bagaimana pada zaman itu dia sudah menentang perbedaan dan pemisahan pria dan wanita. Membuka tabir pemisah tempat duduk pria dan wanita, seolah-olah tamsil bagaimana dia menempatkan kesamaan derajat pria dan wanita; sesuatu yang tentu mengguncangkan di zamannya.
Pandangan-pandangannya tentang Islam yang mendahului zaman memang sudah terlihat semasa muda. Pandangan-pandangan Agus Salim yang kritis tentang Islam bagi kita menjadi lengkap ketika membaca teks- teks ceramah yang disampaikan di Universitas Cornell tahun 1953. Seorang panelis, Buddy Munawar-Rachman, yang mendalami teks-teks naskah itu mengungkap tiga hal penting dalam Islam, yakni jihad, pluralisme, dan modernitas Islam. Ketika dipisahkan dari Partai Syarikat Islam dan membentuk Partai Penyadar tahun 1936, Agus Salim ingin menyadarkan umat untuk berpegang teguh pada Al Quran dan sunah Rasul. Dia ingin memberdayakan masyarakat melalui gerakan-gerakan swadaya masyarakat.
Jihad menurut Agus Salim tidak hanya berarti perjuangan fisik. Dalam Al Quran ada tiga kata yang yang merupakan satu akar dengan jihad, yakni ’juhd-un yang mengarah pada pengertian kerja keras; kedua, ijtihad yang lebih menunjuk kesungguhan dari segi pemikiran atau intelektualitas; ketiga, mujahadah, dalam arti mengarah pada spiritual exercise, sebuah olah rohani yang sungguh- sungguh yang biasa dilakukan kaum sufi. Karena itu, kalau jihad harus didefinisikan, lebih tepat diartikan kerja keras untuk membela kebenaran, atau menurut istilah Agus Salim “pertahanan diri dan pembelaan diri bukan untuk agresi atau menyerang”.
Islam dalam ceramah-ceramah tersebut oleh Agus Salim ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat pedesaan. Dalam konteks itu, peranan guru pengajar agama Islam di pondok pesantren dan surau sungguh besar. Di tengah perkembangan kecenderungan Islam menolak pandangan-pandangan non-islami atau membagi dunia jadi dua-Islam dan non-Islam-Salim melontarkan gagasan yang mencerminkan pikiran rasional. Pandangan- pandangannya tentang waktu salat, puasa, dan tentang orang mati membuat banyak orang terperangah. Dalam soal orang yang sudah mati, misalnya, Agus Salim berpendapat, proses kembali mayat ke tanah itu diperpendek dalam dapur pembakaran listrik krematorium.
Bagi Agus Salim, haluan negara sudah dipatrikan RI tidak menjadi negara teokrasi, kata Emil Salim. Pemakalah yang kebetulan keponakan Agus Salim itu juga menunjukkan, Agus Salim tak juga menginginkan sebuah negara yang dirumuskan dari ayat suci Al Quran atau hadis Rasul dalam tubuh UUD 1945. “I think that for Indonesia we have overcome that difficulty,” kata Agus Salim dalam salah satu ceramahnya di Universitas Cornell tahun 1953.
REAKTUALISASI pemikiran dan sosok Agus Salim berarti mengaktualkan kembali cita- cita dan pemikiran para Bapak Bangsa. Cita-cita mereka melampaui zaman, menembus langit biru. Pertanyaan besar yang selalu menyertai kita setiap kali adalah seberapa jauh pikiran-pikiran dan cita-cita besar mereka selalu kita segarkan dan dialogkan dengan perkembangan zaman. Seberapa jauh cita-cita menggapai bintang itu didialogkan dengan realitas?
Selalu pengakuan merasa kecil di depan sosok-sosok raksasa para Bapak Bangsa, yang meninggalkan jejak langkah masing-masing, mendorong kita terus bersyukur dan berterima kasih. Negara ini pernah memiliki sejumlah tokoh besar, satu di antaranya Haji Agus Salim.
Faktor geografis dianggap berperan penting. Agus Salim kalau tidak dibawa orangtuanya ke Riau, kata seorang panelis, dan tetap di Kota Gadang, tidak akan keluar dari kepompong. Orang harus merantau, sedangkan sumber alam Sumatera Barat tidak bisa menghidupi 30 persen penduduknya. Rasionalitas keagamaan Agus Salim juga tidak akan melambung tinggi kalau tidak bergaul dengan dunia luar. Kustiniyati Mochtar dalam “Agus Salim Manusia Bebas” dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim (Penerbit Sinar Harapan, 1984), wartawan yang pernah mewawancarai Agus Salim, menunjuk peranan besar Snouck Hurgronye.
Agus Salim membaca habis dua buku babon Snouck tentang Aceh. Bahkan, karena anjuran ilmuwan Belanda yang masuk Islam demi kepentingan politik itu, Pemerintah Belanda menempatkan orang pribumi Indonesia sebagai konsul Belanda di beberapa negara. Agus Salim pun mengawali karier politik diplomasi luar negeri di Konsulat Belanda di Jeddah, selepas lulus HBS di Sumatera Barat.
Faktor geografis ranah Minang yang disebut seorang panelis, Mestika Zed, sebagai “negeri kata-kata” menyuburkan pencarian gagasan dan cita-cita Agus Salim. Tradisi merantau melahirkan jiwa yang bebas dan kosmopolitis. Bahkan, katanya, tradisi itu dapat ditemukan di setiap tokoh Minang, meskipun dibandingkan dengan tokoh lainnya Salim punya kelebihan wacana kata-kata.
Pikiran besar, gagasan, dan cita-cita menembus langit dilandasi etika menjadi praksis mengandaikan perjuangan tak kenal lelah. Dalam soal ini lagi- lagi kita diingatkan kalimat bijak Sartono Kartodirdjo. Satu kebajikan yang hilang di antara kita, yakni mesu budhi, asketisisme intelektual yang diwariskan untuk kita. Kebajikan itu sekarang nyaris hilang. Budaya jalur pintas merajai naluri kita, pemimpin kita. Ucapan leiden is lijden (memimpin adalah menderita) dari sesama Bapak Bangsa, Kasman Singodimedjo, tentang Agus Salim tetap berlaku. “Memimpin adalah menderita”, sebuah pepatah yang sudah kita lupakan.
Memimpin adalah menderita, memimpin adalah melayani, tinggal menjadi slogan dan jadi aus saat ini, digantikan faham dan keyakinan praksis kekuasaan sebagai privilese, memimpin adalah mangreh, bukan momong. Niscaya para Bapak Bangsa, termasuk Soekarno, Hatta, Soepomo, Yamin, juga Agus Salim, terperangah kaget menyaksikan bangsa dan negara yang mereka dirikan saat ini secara budaya melapuk.
salam kenal dan kunjungi blog saya ya