Jejak Langkah Seorang “The Grand Old Man”
Haji Agus Salim (1884-1954)
Oleh: ST Sularto
LIMA panelis “menyemarakkan” diskusi panel bertema “Aktualisasi Pemikiran dan Sosok H Agus Salim” di ruang rapat Redaksi “Kompas”, 9 Agustus 2004. Mereka adalah Mestika Zed (pengajar Universitas Andalas, Padang), Emil Salim (mantan menteri dalam Kabinet Pembangunan), Budhy Munawar-Rachman (Yayasan Paramadina), Ahmad Syafii Maarif (Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah), dan Siti Ruhaini Dzuhayatin (pengajar IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Aktivis LSM, Moeslim Abdurrahman, bertindak selaku moderator pada diskusi sehari yang hasilnya dituangkan di rubrik “Fokus” halaman 49 sampai 54 edisi hari ini. Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam melengkapi dengan tulisan di halaman 55 dan Litbang “Kompas” menyelusuri jejak H Agus Salim di halaman 56. Tanggal 4 November mendatang genap 50 tahun H Agus Salim wafat. Almarhum dilahirkan 1884 dan wafat 1954.
***
“THE grand old man Haji Agus Salim adalah seorang ulama dan intelek,” kata Bung Karno tentang Haji Agus Salim (1884-1954). Julukan “orang besar yang sudah tua” itu masuk akal. Ketika rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia berlangsung, Juni-Agustus 1945, mungkin Agus Salim anggota tertua. Rata-rata umur para Bapak Bangsa adalah 30-45 tahun. Soekarno berumur 39 tahun, Hatta 43 tahun, sedangkan Haji Agus Salim sudah 61 tahun.
Komentar Terakhir