Jilbab dalam Pelukan Uncle Sam
Oleh: Ari Peach
Menapakkan kakiku yang entah ke berapa puluh kalinya di sana (selalu ada rasa itu). Rasa yang sulit untuk dijabarkan seperti ketika membaca tulisan Office of the Immigration Judge tertatah di marmer hitam itu. Marmer dingin itu pernah aku duduki sampai petugas keamanan menghampiriku, melarangku duduk di sana.
Tersipu malu ketika menyadarinya. Dengan kata maaf, kuseret tas kerjaku dan pindah duduk ke kursi taman. Beberapa perahu cantik dengan tenang melintas di sungai besar di tepi gedung Pengadilan Imigrasi Miami di pojokan One River View Square itu, seolah tidak peduli pada sibuknya wajah-wajah lalu- lalang yang silih berganti melewati pintu penjagaan.
Wajah-wajah itu tidak berbeda jauh dengan wajahku, berkulit cokelat hangat (juga seperti kulitku). Wajah-wajah Hispanic seperti wajah-wajah anak negeriku itu terasa begitu dekat di hati.
Kuhabiskan cuban coffee yang kubeli dari café di dalam ruang tunggu dan kulirik jam tanganku. Sudah waktunya untuk masuk ke ruang sidang. Di lantai tujuh, ada satu ruang besar khusus untuk para penerjemah, tapi setiap aku menengok ke ruangan itu selalu saja gelap dan sepi. Aku pun jadi lebih suka menunggu di luar gedung pengadilan, di tepian sungai sambil minum kopi khas Miami dan memandangi perahu yang lewat, asyik melamun, dan mereka-reka apa kiranya kasus yang akan disidangkan pada hari itu.
Kebanyakan kasus orang Indonesia adalah overstay karena masa berlaku visa yang sudah kedaluwarsa. Banyak orang yang bertahan berada di Amerika sampai melewati batas waktu yang diberikan. Krisis moneter yang mengguncang ibu pertiwi beberapa tahun silam adalah salah satu penyebab utama kenekatan mereka.
Banyak yang mati-matian mempertahankan kenyamanan bekerja di Negeri Paman Sam ini meski itu secara ilegal, meskipun harus kucing-kucingan dengan FBI dan petugas negara lainnya. Akibatnya, ketika harus duduk di ruang pengadilan imigrasi, sebagian besar dari mereka dideportasi karena melanggar hukum dan aturan yang berlaku di negeri ini.
Untuk menghindari kemungkinan dipulangkan, banyak yang meminta suaka politik dengan mengacu pada rentetan tragedi 1998 antara lain pemerkosaan wanita-wanita keturunan Cina, pembakaran gereja-gereja, diskriminasi terhadap kaum minoritas, penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, dan reformasi yang mengawali lengsernya kepemimpinan pemerintah Orde Baru.
Sementara itu, dari sudut Amerika sendiri, tragedi 9/11 telah meluluhlantakkan kepercayaan Amerika pada dunia luar dan khususnya pada negara-negara berbasis Islam. Jika keadaan ini dihubungkan dengan politik luar negeri dan situasi keamanan Indonesia, peristiwa pengeboman yang beruntun dari bom di Bali, bom di Hotel Marriott, bom di Kedutaan Australia, dan bom di Bali yang lebih besar lagi (dan entah daftar perilaku kebiadaban yang menewaskan orang tidak bersalah yang mana lagi) mengakibatkan negeriku masuk daftar 25 negara yang dicurigai sebagai “sarang” teroris. Sungguh, fakta sejarah kelabu negeriku yang menyesakkan hati.
Pemikiranku tentang kekalutan politik Indonesia dan terorisme langsung lenyap ketika mataku tertuju pada kursi di sebelah kursi pengacara. Seorang wanita muda, kurus kecil, dan tampak pucat sepucat jilbabnya duduk di kursi itu. Kepalanya tertunduk memandangi jari-jarinya yang berkaitan satu dengan lainnya. Dari bahasa tubuhnya yang resah dan gelisah, ia kelihatan takut dan tidak nyaman duduk di kursi kulit warna merah marun gelap dan berada di ruangan pengadilan yang dingin itu.
“Nama saya Neneng, asal dari Cianjur. Usia tujuh belas tahun. Orangtua saya miskin dan tidak punya pekerjaan. Waktu saya umur 12 tahun saya dijual oleh orangtua saya kepada tetangga dengan bayaran lima puluh kilogram beras. Lalu, saya dibawa ke agen tenaga kerja di Jakarta. Setelah training bahasa Arab dan pekerjaan rumah tangga lainnya, saya dikirim ke Arab Saudi untuk menjadi pembantu sebuah keluarga dengan lima anak yang masih kecil-kecil. Tadinya, saya senang karena saya kira saya akan punya kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Akan tetapi, majikan saya mendapat pekerjaan di sini sehingga saya pun dibawa ke negeri ini.”
Ruangan hening. Semua pertanyaan dari hakim dijawabnya dengan suaranya yang pelan dan terdengar gemetaran.
“Majikan saya punya adik yang berdekatan apartemennya. Mereka juga punya lima anak yang seusia dengan anak-anak majikan saya. Tiap hari mereka datang ke apartemen kami. Saya harus mengasuh dan menjaga semuanya. Total sepuluh anak. Kalau ada anak yang berkelahi, jatuh, atau terluka, maka saya dipukuli, ditendang, atau ditampar oleh majikan saya. Kadang pakai sepatu, pakai kayu, pakai tangan, atau apa saja yang bisa dipukulkan ke badan saya. Kadang, anak-anaknya juga memukuli saya, meniru ibunya. Sampai akhirnya saya tidak tahan lagi dan ketika mereka tidur, saya lari ke masjid di dekat apartemen mereka.”
Suara Neneng putus-putus menahan isak. Sesekali, ia mengambil napas kala suaranya mulai menyesak di lehernya, berkali-kali mengusap mata basahnya dengan ujung jilbab putihnya.
“Dan di masjid itu kamu bertemu dengan istri bapak ini?” tanya Hakim seraya menunjuk pada seorang lelaki setengah baya, dokter anak dari Mesir―yang duduk di bangku panjang di belakang ruangan, mengikuti jalannya persidangan dengan tenang.
“Ya. Istri bapak ini membawa saya ke rumahnya. Sampai sekarang saya tinggal bersama mereka dan belum kembali ke rumah majikan saya. Saya takut kembali ke sana lagi. Saya takut dipukuli lagi. Saya tahu, saya salah karena melarikan diri dari rumah majikan saya. Saya mau dihukum penjara, tapi tolong jangan kembalikan saya pada majikan saya.”
Tanpa bisa dihentikan, Neneng menangis tergugu. Hakim sesaat terpaku sebelum memberikan waktu istirahat setengah jam, lalu menyelinap keluar ruang sidang. Neneng adalah wajah dalam cermin kemiskinan negeriku. Refleksi bayangan ketidakmampuan bangsaku untuk mengayominya dan keluarganya.
Ekonomi carut marut negara memaksa anak sebelia itu untuk jadi tenaga kerja di negeri orang. Tanpa digaji, malah disiksa. Ternyata, jiwa perbudakan di mana-mana masih ada juga! Pikiran Neneng sangat sederhana. Dia hanya tahu, orangtuanya sudah melakukan transaksi jual beli atas dirinya. Ada sebersit harapan sewaktu datang ke Arab Saudi untuk bisa menunaikan ibadah haji, meski seumur hidup hanya sekali. Menginjakkan kakinya di tanah suci adalah hal yang sungguh tidak ternilai dalam hidupnya. Ketidakmengertiannya akan kepergiannya ke Arab Saudi itu sebagai pembantu rumah tangga yang tidak punya hak diri, itu tanggung jawab siapa?
Negeriku adalah negeri yang konon bangga dengan jumlah Muslimnya yang terbesar di dunia. Tetapi, apakah jumlah itu punya daya, mampu memberikan hak dan perlindungan pada anak-anak seperti Neneng dan jutaan Neneng lainnya? Aku tercenung lama dan terbersit tanya, kapan negeriku yang gemah ripah loh jinawi bisa memberikan ketenteraman pada anak-anak bangsanya sendiri, sehingga mereka tidak perlu mencari dan mengais rezeki di negeri orang.
Sebagai Muslim, aku malu. Sebagai bangsa Indonesia, aku malu. Akan tetapi, sesungguhnya adakah pilihan itu? Andai ada, Neneng tidak pernah memiliki pilihan itu. Amerika tidak bisa dipungkiri adalah negara yang dibenci banyak negara lain di dunia. Ia dikutuk. Dihujat. Dimaki. Tapi seiring dengan itu, bangsa Amerika juga adalah bangsa yang dicintai, perlindungan dan keamanannya dicari, dan stabilitas ekonominya diingini.
Dengan seribu satu alasan dan tujuan, manusia dari seluruh penjuru dunia berlomba untuk hijrah ke negara ini. Rasa yang kulihat pada wajah orang-orang yang keluar masuk di pintu pengadilan imigrasi itu adalah rasa yang berkecamuk antara harapan untuk menetap, bekerja keras, dan memiliki penghidupan yang lebih baik di Amerika atau harus pulang dan tidak tahu kehidupan apa yang menanti di negara asalnya masing-masing.
Kasus Neneng, bukanlah kasus ketika orang yang ketahuan overstay lalu minta suaka dengan merekayasa cerita tentang kebobrokan bangsa atau kebiadaban manusia di Tanah Air. Kasus Neneng bukanlah kasus di mana dia ingin mendapatkan green card dan visa kerja di Amerika (sementara apa itu green card dan apa itu social security, Neneng tidak pernah tahu dan tidak pernah dengar).
Kasus Neneng adalah akibat penjajahan kemiskinan dan kebodohan yang makin merajalela di negerinya, yang juga adalah negeriku. Amerika pun dengan tulus memunguti serpihan luka yang berhamburan di benuanya ini dan melindungi Neneng ini dan Neneng-Neneng lainnya dalam rengkuhan senyum tipis Lady Liberty yang bersahaja tapi sarat makna: Give me your tired, your poor .…
Hakim kembali ke ruang sidang siap dengan keputusannya atas nama negara Amerika. Kudengar suara lembut keibuannya yang tidak pernah kubayangkan akan terdengar dari sidang pengadilan seperti ini ketika Neneng memberikan persetujuannya dijadikan anak negara.
Neneng diberi hak untuk bersekolah dengan biaya negara, diberikan pekerjaan dengan gaji minimum, mendapat tempat tinggal, diberi jaminan pelayanan kesehatan seumur hidupnya. Neneng diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya. Terdengar dokter Mesir itu membisikkan puji syukur, “Allahu Akbar.”
Sore itu, sambil menunggu taksi untuk kembali ke bandara udara, dengan hati menyesak rindu pada kampung halaman, kuguratkan tulisan di lembar kertas kuning lagu yang kuingat sebagai penutup acara televisi di masa kecilku, “Tanah Airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa. Tanah airku aman dan makmur. Pulau kelapa yang amat subur. Pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala .…” dari tempat dudukku di tepian sungai di sudut One River View Square.
Neneng, sekuntum melati bangsaku yang tidak pernah hidup dalam negeri yang aman dan makmur itu kini jauh dari Indonesia, negeri elok yang hanya ada dalam lagu penutup acara di televisi itu. Hari ini dan hari esoknya bergantung pada belas kasih dan perlindungan negara ini. Ketika kulihat taksiku datang, aku segera beranjak. Sekilas kuletakkan tanganku di marmer hitam di depan gedung pengadilan imigrasi itu. Bayangan wajah bercahaya Neneng yang berjilbab putih mengenakan toga dan merengkuh selembar diploma di tangannya, dengan latar belakang bendera Amerika melintas di mataku yang mulai berembun.