SIMPATI UNTUK DR. TAUHID! Februari 6, 2008
Posted by nurcha in Buku, Kisah.trackback
Oleh: Bambang Trim
Dokter berusia 38 tahun ini bernama Tauhid Nur Azhar dan mungkin sudah Anda kenal ataupun ada yang belum. Beliau mengenyam pendidikan dokter di Undip Semarang dan melanjutkan pascasarjananya di UI serta Univ Kebangsaan Malaysia. Dengan keilmuannya, beliau tercatat juga sebagai pendiri dan perintis Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung.
Dokter Tauhid memang unik dan nyentrik. Tidak terlihat seperti orang berilmu tinggi.. Kesenangannya memakai jins belel dan terkadang t-shirt Esprit yang tampak kusam. Kerap dalam beberapa forum, audiens memandang beliau dengan sebelah mata. Namun, jika sudah mendengar pemaparannya, apalagi CV-nya barulah orang mafhum siapa sebenarnya Dr Tauhid.
Dr Tauhid ini juga terkenal multi-kemampuan. Kalau tidak, mana mungkin ia diminta menjadi salah satu konsultan untuk mengevaluasi secara teknis operasional kereta api. Bahkan, beliau mampu menjalankan lokomotif sendiri. Beliau juga menjadi konsultan untuk beberapa lembaga strategis di tanah air, termasuk juga Polri. Kalau sudah ngobrol, akan keluar berbagai bahasan yang mengesankan. Jauh sebelum tragedi dunia penerbangan kita, beliau sempat menjelaskan kepada saya tentang sistem sekuriti pesawat terbang. Beliau fasih bicara isi perut pesawat boeing.
Gaya Dr Tauhid memang juga kadang nyeleneh dan kurang disukai oleh beberapa koleganya. Ia mengajar dengan gaya tidak biasa–mengubah mind set banyak orang. Banyak yang tidak setuju ketika ia ikut mendukung buku ‘The True Power of Water’ yang dianggap pseudo-science oleh para ilmuwan.
Demikian sekilas tentang Dr Tauhid untuk mengantarkan tulisan saya tentang kisah pilu menulis buku. Kabar terakhir yang mengundang empati dan simpati saya untuk menulis pos-el ini adalah terdepaknya sang dokter dari Unisba yang dipicu oleh bukunya (kebetulan ditulis bersama saya) ‘Jangan ke Dokter Lagi!’. Buku yang disebut terakhir menjadi anti-klimaks dari kiprah dokter Tauhid sebagai dosen yang nyentrik dan kerap menyuntikkan pendapat- pendapat ajaib bin aneh di Unisba.
Secara pribadi miris sekali melihat dunia intelektualitas Indonesia yang sebagiannya masih dilingkupi oleh ‘ketakutan-ketakuta n’ akan gagasan menyimpang atau tepatnya out of the box. Buku ‘Jangan ke Dokter Lagi!’ hanya kebetulan saja judulnya provokatif, tetapi isinya justru memberikan gagasan gaya hidup sehat sehingga meminimalkan orang pergi ke dokter karena sakit. Apakah dengan buku ini lantas dokter akan kekurangan rezeki? Sungguh naif jika dimaksudkan demikian, apalagi mengingkari profesi dokter itu sendiri sebagai pembawa berkah dari Allah Swt. untuk kesembuhan.
Mengapa ya, para ilmuwan yang merasa tersengat dengan buku dan tidak menjawabnya dengan buku juga, misalnya ‘AYO KE DOKTER LAGI!’? Demikianlah, pendekatan kekuasaan lebih mudah untuk dilakukan guna menghalangi langkah seseorang, kalau perlu menghabisi kariernya sekaligus. Ah, apa guna disesali. .., sudah sunatull ah akan ada banyak sandungan untuk orang- orang yang bersikap berbeda.
Semoga Dr. Tauhid tetap diberi kekuatan dan kebersahajaan untuk meneruskan ide-ide liarnya. Kami tetap mendukung untuk lahirnya karya-karya baru yang berprinsip ‘no fear!’ untuk memberikan alternati f pemikiran baru yang mencerahkan.
Bambang Trim
praktisi perbukuan nasional
NB:
Karya-karya Dr. Tauhid dalam bentuk buku (beberapa di antaranya):
> Clink!, MQ Gress
> Jejak Kuliner, Madania Prima
> Haram Bikin Seram, Madania Prima
> Ajaib bin Aneh, Madania Prima
> Manusia Taqwim, Kampung DNA
Saya turut prihatin atas apa yg menimpa dr Tauhid,,saya pernah di ajar oleh beliau ketika smt 1 kuliah kedokteran di Undip, setelah itu beliau melanjutkan sekolah ke Malaysia..Secara pribadi sy tidak mengenal beliau tapi sy waktu itu sempat terkesan karena memang dr cara beliau mengajar itu berbeda dengan dosen2 yg lain..
Apa yang terjadi pd dr Tauhid sebetulnya tidak membuat saya kaget karena itulah realitas yg ada hari ini..Masyarakat kita belum siap untuk berbeda pendapat, termasuk masyarakat kampus yg katanya kalangan intelektual dan juga masyarakat medis/dokter..
Paradigma sakit yg menjadi mind set dokter selama ini sangat sulit untuk diubah karena mungkin ini menyangkut rezeki juga, klo banyak orang sakit pasti banyak yg datang ke dokter dan otomatis “omzet” sang dokter juga bertambah, tetapi itu bukan hanya dokter saja, pemerintah pun juga masih berparadigma sakit,, oleh karena itu menjadi PR besar kita bersama, bahwa masyarakat luas harus sadar menjaga kesehatan tetap optimal itu jauh lebih murah dibandingkan jika sudah terkena penyakit. Mencegah lebih baik daripada mengobati, salah satunya adalah dengan menjaga sistim imun, perubahan pola hidup, menjaga makanan, dll seperti yg telah dr Tauhid paparkan di dalam bukunya.
Btw adakah informasi ttg alamat email dr Tauhid? Saya minta tolong diberikan jika ada dan supaya lebih cepat dapat kontak sy via sms/ph dibawah ini.. Terima Kasih.
Salam sehat selalu!
-Adi-
dokter yg concern dlm ilmu kedokteran pencegahan
ph +62 812 28 92678
Saya adalah orang sering juga bersama orang yang anda ceritakan itu. Tapi selama ini enjoy aza tuch….Bukan karena dia adalah sohib saya, tapi menurut saya mereka yang mendepaknya karena kalah pamor kali….
Ya pokoknya Gambatte ne Tauhid san. Boku ga mada iru kara….
Sahabat Seperjuangan
Nandang Noor RH (AZMI)
Alumni Japan National Council of Social Welfare