jump to navigation

EDITOR: JENDERAL BINTANG LIMA Februari 5, 2008

Posted by nurcha in All About Editing, Kisah.
trackback

Oleh Agung Prihantoro 

David Rosenthal, seorang editor pada Little Random (salah satu anak perusahaan penerbit terbesar di dunia, Random House), dalam Book Editors Talk To Writers (Judy Mandell, 1995) pernah berkata, “Editor adalah jenderal berbintang lima.” Bukan membeo Soekarno atau Soeharto, tetapi Rosenthal di sini hendak menekankan pentingnya peran editor atau penyunting dalam penerbitan buku.

 

Syahdan, tak heran bila sejumlah penerbit di negara kita didirikan dan dipimpin oleh editor atau mantan editor, misalnya Mizan Pustaka, Nuansa, Serambi, Pustaka Hidayah. Meski seorang editor telah naik jabatan jadi general manager atau direktur penerbit, dia kerap kali masih terlibat dalam kerja-kerja redaksi, misalnya menentukan kelayakan terbit suatu naskah. Sebaliknya, editor tak jarang dimintai pertimbangannya dalam mengambil putusan-putusan penting di tingkat perusahaan.

 

Beratnya kerja editor juga terbukti dengan banyaknya keluhan para pembaca tentang buruknya penyuntingan (dan penerjemahan) buku-buku atau kitab-kitab di Nusantara ini. Dengan perkataan lain, suntingan yang buruk memperlihatkan bahwa menyunting (dan menerjemah) itu tidaklah mudah, dan bahwa para editor kita belum bekerja secara optimal.

 Lantas, apa saja sebenarnya pekerjaan editor sehingga dia laik mendapat pangkat jenderal bintang lima? Setiap penerbit mempunyai job description yang berbeda untuk editor, tetapi secara umum editor bertugas mencari naskah sampai ikut memasarkan dan mempromosikan buku. Tugas ini boleh dibilang merentang dari hulu hingga hilir, dari meja redaksi, pencetakan sampai pemasaran—tiga bagian pokok dalam alur produksi buku. 

Di meja redaksi, editor bertanggung jawab untuk mencari atau menerima naskah, memutuskan apakah sebuah naskah hendak diterbitkan atau ditolak, dan juga menyunting naskah. Setelah ratusan penerbit di Indonesia tumbuh bak jamur di musim hujan sejak paro 1998, editor tak bisa sekadar menunggu naskah-naskah yang ditawarkan oleh para penulis. Jika dulu para penulis berebut penerbit, sekarang para penerbitlah yang berebut penulis. Editor mesti memburu naskah dan rajin turun ke kampus-kampus atau kantong-kantong budaya untuk mencari penulis-penulis pemula atau memelihara hubungan baik dengan para penulis senior.

 

Lantaran banyak sekali buku berbahasa asing yang bagus untuk diindonesiakan, para editor dari berbagai penerbit bersaing mendapatkan naskah asing tersebut. Editor di penerbit kecil biasanya sekaligus menjadi literary agent yang berwenang mengurus copyright pada pemegangnya di luar negeri. Kini, persaingan antarpenerbit untuk memenangi copyright sudah sangat ketat.

 

Setelah memperoleh naskah, editor mempelajarinya dari pelbagai sudut pandang—ekonomis, intelektual, politis, sosio-kultural— untuk menetapkan apakah naskah tersebut patut diterbitkan. Secara ekonomis, dia menimbang apakah naskahnya akan menjadi buku bestseller; secara intelektual, apakah ide dan isi naskahnya baru dan selaras dengan misi dan visi penerbit; secara politis, apakah naskahnya berisiko untuk dilarang oleh kekuatan politik yang tengah berkuasa; dan secara sosio-kultural, apakah naskahnya bermuatan SARA.

 Apabila naskahnya berbahasa asing, editor terlebih dahulu mencari penerjemah untuk mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia. Lalu, editor menyunting atau mengedit naskah yang hendak diterbitkannya itu. Dia bisa melakukannya sendiri atau meminta editor outsourcer untuk mengerjakan tugas ini. Sekali lagi, menyunting bukanlah pekerjaan gampang, apalagi kalau naskahnya masih mentah, sebab editor harus mengolahnya supaya pembaca nanti dapat membacanya dengan nikmat senikmat melahap makanan yang diracik oleh koki ulung. Dalam hal ini dibutuhkan ketelitian. Seorang negarawan Amerika Serikat, Adlai Stevenson (1900-1965), melukiskan ketelitian kerja editor dengan kata-kata: “Editor bagaikan orang yang memisahkan gandum dari sekam.” Pada fase pracetak, editor menentukan format buku yang tepat—besar (15,5×23,5 cm), sedang (14×20,5 cm), atau kecil (11,5×17,5 cm). Dia juga memberi arahan-arahan kepada setter tentang jenis font, letak gambar, catchword dan nomor halaman, dan juga jenis aksesorinya. Dia pun mesti memesan sampul buku, dan memberi rambu-rambu kepada perancang sampul untuk membuat sampul yang memikat dan informatif (Meracik Buku Menjadi Bestseller, 2006). Pada tahap pemasaran, editor jamaknya diajak berembuk perihal bentuk promosinya: bedah buku, lomba resensi, ataukah pembacaan buku. Editor diikutsertakan dalam pemasaran pasalnya dialah yang tahu persis siapa sasaran atau segmen pasar yang dibidik oleh sebuah buku. 

Sebetulnya, ada satu peran penting lagi yang dimainkan oleh editor di negara-negara yang tradisi perbukuannya sudah maju, tetapi belum banyak dilakukan oleh editor di tanah air kita. Peran itu adalah mendampingi penulis selama menggarap kitabnya—fiksi maupun nonfiksi. Dalam konteks ini, editor membantu penulis memilih topik-topik yang baru dan laku dan menulisnya dalam bab-bab yang sistematis dan dengan bahasa yang clear (jelas), concise (ringkas), coherent (koheren), dan courtesy (santun). Editor di sini berkiprah sebagai konsultan bagi penulis untuk menelurkan buku-buku yang bermutu dan bestseller.

 Karena editor dituntut memenuhi seluruh tugas ini, dia wajib mempunyai kemampuan yang mumpuni. Dia mesti mendalami bidang kajian tertentu, memiliki kecakapan menulis, menguasai peta perbukuan, dan mengetahui seluk-beluk pemasaran. David Rosenthal mengimbuhkan bahwa editor harus mempunyai citarasa dan pendirian menyangkut dunia buku. 

Segunung masuliah ini dipikul di pundak editor. Bagi perusahaan, penyunting sangat menentukan untung dan ruginya. Bagi penulis, editor membantu menganggit kitab yang berkualitas. Bagi masyarakat, editor menentukan terbitnya buku-buku yang mencerahkan dan memandu gerak peradaban. Hatta, menimbang semua peran, pekerjaan dan tanggung jawab ini, kiranya editor pantas diganjar dengan pangkat jenderal pancabintang. []

Komentar»

No comments yet — be the first.