Apakah aku yang terlambat paham?
Kupikir tidak ada masalah ada load pekerjaan yang begitu banyak yang harus kukerjakan. Memang ada support dari teman-teman, tapi sekali lagi aku mengaca pada diriku, apakah aku yang belum bisa mengatur load pekerjaan dengan baik, belum bisa memanajemeni teman-teman dengan baik, dan sebagai dan sebagainya.
Aku tidak melihat hal yang ganjil–atau katakan itu sebuah kesalahan–pada orang lain. Aku hanya melihat, mungkin ada yang salah padaku, tuntutan padaku yang terlalu tinggi, aku yang semua dan semua, dan ya memang seperti itulah harusnya seorang editor yang baik.
Apakah aku tidak mencintai pekerjaanku? Apakah dan apakah dan sejuta pertanyaan lain yang menyambangiku. Sampai ada orang yang bertanya padaku, Nung ada yang salahkah? Ada sesuatu kah? Kenapa hilang senyum di wajahmu? Kenapa hilang keceriaanmu? Dan lain-lainnya. Aku hanya tersenyum saja, karena kupikir ada yang salah dengan aku.
Sampai akhirnya hari ini ada yang bertanya kepadaku, tentang hal itu, yang membantu aku menunjukkan, ini lo, Nung, ada yang miss di sini dan ada yang miss di sana. Kamu harus tau itu, dan kamu harus bicara.
Oh, aku paham, ternyata aku terlambat paham.
Jadi, intinya aku harus bicara.
Tunggulah aku bicara.
Aku hanya ingin keadilan bagi teman-temanku.
Aku hanya ingin melihat senyum di wajah mereka.
Aku hanya ingin melihat teman-teman bahagia ketika mengerjakan pekerjaan mereka.
Aku hanya ingin bisa membantu mereka sebisa yang aku bisa bantu.