jump to navigation

Gaya Nulis Blog, Gaya nulis khas kita? Januari 3, 2008

Posted by nurcha in Blogroll, Catatan Perjalanan, Curhatan, Error aja.
trackback

Ngeblog adalah cara yang baik buat melatih gaya nulis. Setiap orang punya cara khas nulis masing-masing. Dan cara nulis orang biasanya terpengaruh apa yang dibacanya sama orang atawa penulis yang disukainya.
Pertanyaannya jadi, siapa penulis favorit kita?

Aku menyukai beberapa gaya penulisan orang. Ada beberapa orang yang menjadi teladanku dalam menulis. Aku mengambil gaya nulis yang ku kenal aja. Mungkin itu juga turunan dari penulis-penulis idolanya yang ujung-ujungnya mungkin akan sampai pada orang yang sama, tapi apa peduliku.

Untuk angkatan Tua (setidaknya menurutku) Aku menyukai gaya nulis Putu Wijaya, Hernowo, Samuel Mulia, dan Anis Matta.
Untuk angkatan di bawahnya aku suka gaya nulisnya Dewi Lestari (meskipun aku belum punya supernova, petir, dan akar: tapi aku dah baca semua bukunya, yang supernova aja aku baca beberapa kali, Andrea Hirata (aku punya lengkap), dan Daniel Mahendra (yang terakhir ini aku belum pernah nemu bukunya, Cuma aku suka aja baca blognya, dan setelah ku selidiki, gaya nulis DM ini begitu beliau biasa disingkat ternyata sangat dipengaruhi oleh PAT).
Untuk angkatan di bawahnya lagi aku suka gaya nulisnya Adithya Mulya dan Ninit Yunita.
Untuk angkatan bawahnya lagi, belum ada.

Mereka punya karakternya masing-masing dan unik-unik. Untuk gaya nulis angkatan tua belum aku teladani. Saat ini, aku sedang berusaha meneladani gaya nulis DL dan DM. Mereka (menurutku) punya gaya nulis yang hampir sama tapi beda versi. Cara mereka bercerita dan menulis itu yang aku sukai. Cerdas dan tetap runtut dengan rima Bahasa Indonesia yang baik. Mematuhi EYD dan sesuai KBBI, walau ada juga yang tidak, tapi itu lebih disebabkan karena nilai sastranya. Cara mereka bertutur dalam Bahasa Inggris juga ok. Terutama DL, kalo DM (aku gak tau), tapi DM adalah penutur bahasa indonesia yang baik. (Halah jadi analisis blog begini). Dan Blog mereka berdua memberikan pembelajaran menulis yang baik buat aku.

Lalu bagaimana dengan Adithya Mulya (AM) dan Ninit Yunita (NY).
Awalnya aku berkenalan dengan tulisan AM pada bukunya yang pertama Jomblo. Awalnya karena baca Koran yang bercerita tentang booming tulisan teenlit, chiklit versi penulis Indonesia. Ada banyak sekali pujian terhadap buku Jomblo ini. Itu jelas buat aku penasaran. Emang apa sih isinya. Pas aku main ke rumah teman, aku nemu ada bukunya di kamarnya, ya sudahlah aku baca. Pas baca, wah vulgar gini (menurutku, padahal mungkin menurut yang lain biasa aja dan itu mungkin juga itu memotret realitas mahasiswa saat AM menulis buku itu). Sudah setelah itu aku tidak tahu lagi kalo AM menulis buku lagi atau tidak.

Aku berkenalan dengan tulisan NY, karena diperkenalkan oleh seorang kawan baik. Dia bilang, Baca deh Nur Testpack, Bagus, rekomendasinya. Dan aku penasaran. Karena saat itu kondisi keuangan terbatas (secara waktu itu emang udah kerja tapi gajih terbatas, dan agak berasa sayang gimana gitu kalo beli bukunya). Akhirnya aku baca saja di salah satu toko buku yang terletak di dekat kantin Fateta. Waktu itu pas jum’atan dan kerjaanku dah kuselesaikan). Aku turun dan nongkrong baca di sana sampe setengah buku selesai. Aku hentikan baca bukunya dengan sengaja, lantaran pegawai yang ngejaganya dah ngeliatin aku aja dan bolak-balik ngedeketin aku (hwaah, itu bikin ga nyaman orang baca, secara aku pas waktu itu baca sambil berdiri…. Pegel, tapi penasaran). Akhirnya dengan berat hati aku menghentikan baca buku itu. Separonya lagi, entahlah akan kubaca dimana. Beberapa minggu kemudian, aku entah sepulang dari mana, aku mampir ke Gunung Agung di Plaza Jembatan Merah, nah di sanalah aku menyelesaikan Testpack itu. Ketawa ngakak, bari jeung nangis Bombay pas baca akhir-akhir cerita itu. Sekarang gua udah beli bukunya. Testpack! Entar gua mau beli Gege Mengejar Cinta dan Travelers Tale!
Ha ha ha tuh kan aku ikutan gayanya NY dan AM.
Lalu sekarang aku juga sering mampir ke blog mereka. Pas lagi udah bosen ngedit, ngebaca tulisan AM kadang bikin ngakak, kadang juga bikin kening berkerut. Sedangkan tulisan NY, lebih simple, tapi ya sama jugalah.

Nah membaca tulisan-tulisan mereka semua, rasanya aku menemukan mozaik-mozaik yang indah untuk membangun gaya nulisku sendiri. Memang mungkin akhirnya malah jadi bunglon, tapi aku akan menerapkan prinsip ATM untuk akhirnya membangun gaya nulisku sendiri.

Sekarang aku mau mencoba membuat novel atau kumpulan cerita tentang sebuah tempat, dan aku akan mengadopsi gaya nulisnya AM dan NY untuk tulisan tersebut. Sementara ini ga papa dulu kali ya. Ntar juga kalo dah diedit tetep akan keluar gayaku sendiri. Urusan edit mengedit itu nanti, sekarang mah yang penting dikeluarin aja dulu semuanya. Sampe novel itu bener-bener jadi. Kalo jadi, gua harap novel itu bisa diterbitin sama penerbit gagasmedia. Atau grasindo. Amin. (ha ha ha, gaya AM banget kan)!.

Ahad, 16 Desember 2007, 5.20

Komentar»

1. DM - Januari 3, 2008

Hmmm… jadi tersipu-sipu malu begini. Hehehe!
But thanx.
Kamu juga punya gaya tersendiri. Ayoh!
-DM-

2. Gaya Nulis Blog, Gaya Nulis Khas Kita? « Penganyam Kata - Januari 4, 2008

[...] kutengok tulisan yang ia maksud, aku jadi tertawa geli sendiri. Nggak nyangka dengan apa yang ia [...]

3. Donny Verdian - Januari 5, 2008

Yeahh! DM Superstar :D

4. komara - April 21, 2008

hai…..lam kenal yah…
saya juga dari cirebon neh….
btw, cirebonnya wilayah mana yah?>??