jump to navigation

Perokok yang ‘Sok Jagoan’ Desember 12, 2007

Posted by nurcha in Blogroll, Catatan Perjalanan.
trackback

www.KRLmania.com

Naik KRL diganngu asap rokok memang sangat mengganggu. Salah satunya seperti dituturkan oleh Julie, salah seorang Roker, yang punya yang sangat tidak mengenakan dengan para perokok di dalam gerbong.

“Saya selalu berangkat naik KA ekonomi Bogor-Tanah Abang yang jam 12.30-an dari cilebut dan pulang Bogor Ekspres Tanah Abang-Bogor jam 19.20, jadi Alhamdulillah, jarang menderita karena desak-desakan. Tapi, kadang kala saya harus berangkat pagi, kalau sudah kepalang janji sama orang. Nah,beberapa hari lalu saya harus ketemu orang jam 08.00 pagi. Menghindari berdiri, saya naik KRL ke Bogor yang pertama dari Cilebut dan kemudian ikut balik ke Jakarta,” ujarnya.

Ketika sedang menunggu pemberangkatan, seorang bapak merokok di sebelahnya. Tanpa ia sadari, dirinya yang sedang baca koran dan sarapan mengibas-ngibaskan tangan asap rokok si bapak yang melintasi hidungnya itu. Tiba-tiba, lanjutnya lagi, si Bapak tersebut marah dan mengeluarkan cutter. Dia memaki-maki dirinya. “Baru naik kereta ya, kalo enggak mau kena asap, naik taksi sono!,” teriak pria yang sebagian rambutnya sudah mulai memutih itu.

“Terus terang saya shock, lalu saya bilang, kenapa bapak marah, saya kan enggak melarang bapak merokok dan meminta bapak mematikan rokok. Jadi, bapak merokok
saja, dan biarkan saya menutup hidung dan mengibas-ngibaskan asap yang lewat,” ujarnya.

Bapak itu menjawab, “Dasar belagu. Saya ini pernah bunuh orang, jadi kalo
saya tersinggung, saya langsung tusuk lo. Untung elo perempuan, coba kalo laki-laki. Kalo saya bunuh orang, paling dipenjara tiga hari..”

Selanjutnya dirinya mengaku malas mendengarkan ocehan Bapak itu yang menurutnya sangat ngawur. “Saya tetap tidak mau pindah, sambil terus membaca koran disambung beberapa berkas yang harus saya pelajari. Dia saya cuekin, walaupun hati kebat kebit takut ditusuk. Dan ketika penumpang makin ramai akhirnya, dia diem.”

Ia merasa heran, merokok itu adalah hak asasi, tetapi orang yang tidak merokok juga punya hak asasi. “Saya berasal dari keluarga perokok, ayah saya, kakak, adik, suami, teman, tetapi ketika ada yang tidak mau terganggu asap rokok, mereka bisa mengerti.” ujarnya.

Komentar»

No comments yet — be the first.