Judulnya Panik!

Dosa-dosa editan itu mencuat lagi. Seharusnya semakin lama menjadi editor jadi semakin jeli. Hmm… entahlah.. lagi jenuh kali… atau sebenarnya emang ga fokus.

Naskah yang itu, emang aku lalai sih. Secara waktu itu, kerjaan lumayan numpuk (nah kan tetep aja nyalahin kerjaan). Padahal seharusnya banyaknya kerjaan bukan alasan atas kelalaian yang memang aku lakukan. Again another prelim mistakes. Ha ha ha….

Sebenarnya yang memang lalai. Hanya saja kelalaian ketika bertemu kepanikan, maka jadilah ya… runyam. Tapi ketika aku berhenti sejenak, menertawakan kesalahan itu, berbagi dengan teman-teman satu tim…. Hilang sudah, dan ketika pikiran sudah jernih lagi…. THERE… Semua ada solusinya. Dan ternyata kesalahan tidak sebesar yang aku dan layouterku bayangkan. Meskipun masalah itu sebenarnya besar juga.

Kenapa aku jadi panik. Ya karena sebelumnya ada kesalahan fatal juga, dan meskipun bukan aku editornya tapi aku in charge juga di dalamnya. Dan sekarang, jelas-jelas akulah kopieditornya… jadi ya… wajarlah kena.

Hari sebelumnya (22-11-2007) aku ditelp sama boss publishing, ya soal kesalahan di buku yang lain. Ya diomongin panjang lebar sama beliau. Intinya sih beliau sayang sama aku, makanya ketika aku salah ya dikasih tau… harus jeli jadi editor. Ironis juga sebenarnya, aku pemerhati orang yang baik, tapi belum bisa jadi pemerhati naskah yang baik (but I am on progress to achieve it).

Still, setelah ku analisis cepat (setelah aku tenang tentunya), kepanikanku ini, aku melihat peran supervisor cukup besar di sana. Padahal pas diajak ngomong berempat (aku, layouter, supervisor, dan manajer), sempet juga berkaca-kaca. Untungnya bisa nahan nangis, kalo engga udah deh….lagu India keluar…. Judulnya nangis bombay…. Dengan segala konsekuensinya aku siap menanggungnya, bahkan kalo sampe harus dikeluarkan dari perusahaan ini sekalipun karena seringnya kelalaian itu (dua kali termasuk sering kan).

But anyway, it’s done. Ketika disentuh kelemahan kita, kita jadi fragile, How fragile we are.

Salah itu biasa asal jangan jadi habit. Itu kata seorang teman. Pokoknya harus positif thinking, ketika kita fokus pada masalahnya, kita ga akan bisa ngeliat jalan keluarnya. See, now aku ngerasain sendiri hal itu.

Yup… penting untuk tidak panik. Kalau panik, segeralah menyeimbangkan diri. Semua punya mekanisme yang berbeda-beda untuk mengatasi kepanikan itu. Baik cepat maupun lambat.

Mulai sekarang aku dan teman-teman harus sering-sering memohon kepada Allah. Bahkan untuk sesuatu yang kita anggap tidak mungkin. Sebab Allah Teramat Kuasa untuk menjadikan apa yang menurut kita tidak mungkin, menjadi mungkin.

2 Komentar »

  1. Daniel Mahendra berkata,

    Nopember 23, 2007 @ 10:26 am

    Never give up, girl! Orang yang sukses adalah orang yang berani mengalami kesalahan demi kesalahan, untuk kemudian belajar dari kesalahan tersebut.

    Jangan lupa: kesuksesan dan kegagalan itu satu paket. Kita tidak bisa mengharapkan sukses tanpa sebelumnya pernah mengalami kegagalan.

    Ada harga yang harus dibayar. Right?

    Never give up,
    -DM-

    Siap

  2. Indari Mastuti berkata,

    Nopember 24, 2007 @ 2:21 am

    Kesalahan itu kadang terjadi berulang tanpa kita sadari, bukan cuman kamu, bahkan aku pernah melakukannya, mungkin juga semua orang. Well, well, well, untungnya Allah selalu memberi kesempatan untuk kita bernafas sehingga Insya Allah ketika kita menyadari kita salah maka ke depannya harus melangkah lebih baik. I LOVE U MY SWEET SISTER!

    I would be good teh iin….aku akan selalu bersemangat… adanya kesalahan berarti, itu pembelajaran buat jadi lebih baik dari waktu ke waktu. Ciayo

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan Komentar