Work and Love 2
Kelanjutan dari yang sebelumnya….
Masalah cinta dan pekerjaan. Dua topik yang hangat untuk dibicarakan oleh orang-orang pada usia sesuai dengan tugas perkembangannya. Pembicaraan masalah ini tidak akan ada habisnya. Kita bisa tidur terlambat bahkan ngobrol sampai pagi membicarakan masalah ini. Tapi, semuanya adalah topik yang sama hanya dengan versi yang berbeda. Ada yang versi sedikit, sedang, besar, bahkan extended. Ada-ada saja ya.
Pasangan
Bagi yang jomblo, persinggungan dengan orang lain ada pada pernikahan dan proses menemukan pasangan hidupnya. Dan topik ini adalah topik yang paling asyik dibicarakan. Ada yang kasusnya, banyak dikejar oleh para pria karena memang dia adalah idola para ikhwan. Ada yang kasusnya ada yang mendekati, tapi bukan orang yang diinginkan. Ada yang mendekati tapi orangnya plin plan. Ada yang cool-cool saja, meskipun usia terus merambat naik, dan masih banyak ragam macamnya.
Tapi benang merah yang menghubungkannya adalah, pasangan. Masalah boleh berbeda versinya. Setiap orang punya versi masalah dengan pasangannya masing-masing.
Bagaimana dengan aku?
Sebagian besar orang terdekatku bilang aku terlalu “lempeng”, cuek, dingin, minim ekspresi. Parahnya (menurut mereka), kelempenganku itu membuatku telat ngeh kalo ada seseorang yang suka sama aku. Dan ketika aku “ngeh”, orang yang suka sama aku malah udah pergi.
Mimik wajahku yang tanpa ekspresi, dingin, tapi ngomik (kalo mengutip bahasanya Dewi Lestari sih, Monokrom dan kurang dimensi) semakin menambah kelempengan itu. (masak iya sih gitu, perasaan aku dah cukup ekspresif).
Kalo ditanya kapan mau nikah, aku menjawabnya dengan cengiran. Kalo ditanya udah ada calonnya belum, aku menjawabnya dengan cengiran yang lebih lebar.
Sejujurnya, siapa sih yang ga mau menikah, aku juga mau. Hanya saja pertanyaan selanjutnya adalah, kapan dan sama siapa? Ha ha ha pertanyaan klasik kan.
Aku sih sekarang berpikir begini, kalo memang waktunya udah tepat untuk bertemu dengan seseorang yang akan menjadi pendamping hidup kita, ya udah, pasti ketemu lah. Ketemu sama orangnya dan chemistry-nya. Semua hal akan mendukung, semesta akan mendukung.
Aku yakin itu, yang penting sekarang, kita mempersiapkan diri aja untuk bertemu dengan waktu itu. Tapi kadang yang jadi pertanyaanku juga adalah membuat momentum itu tiba. Aku juga percaya itu tidak terjadi dengan sendirinya, waktu yang tepat, itu juga kita yang membuatnya (dengan ridho dari Allah tentunya).
Ku pikir, membuat momentum untuk menjemput jodoh (keren nih kata-katanya, membuat momentum untuk menjemput jodoh, bisa juga aku bikin kata-kata bagus) itulah yang harus disiasati caranya. Feel dan intuisi harus diasah betul-betul.
Jodoh tidak melulu masalah cinta. Meskipun cinta include satu paket ada didalamnya. Ketika sudah menemukan jodohnya, masih banyak konsekuensi yang harus ditanggung ketika memutuskan untuk melanjutkannya. Keputusan demi keputusan harus dibuat dan itu terkait dengan hal itu.
Menurut orang-orang yang sudah menikah yang pernah kutanya, mereka bilang, kalo udah jodoh engga kemana. Nobody’s perfect. Nothing’s perfect. Dan ketika bertemu dengan seseorang yang akan jadi pendamping kita, katanya ada perasaan cocok, entah itu datang cepat atau lambat. You know, it’s just fit. Perasaan itu baru muncul ketika ada bersamanya, dalam hati ada suara. Suara seperti suara botol dengan tutup ulirnya. Klik.
Ini hasil pengamatanku dan surveyku selama beberapa tahun ini.
Akhirnya tercetus pertanyaan ini,
Kapan ya waktuku?
ha ha ha ha ;P
Mei_dy berkata,
Nopember 20, 2007 @ 7:43 am
Teh, yg pasti-mah jodoh qta teh JOHAN!
Alias Jodoh di Tangan Tuhan :p
Bener yak, bukan hanya ngedit en ngadepin naskah yg butuh intuisi, tp dlm hal ngadepin cowok (calon jodoh qta) intuisi musti maen.
Johan… johan… dikau di mana? Kapan kamu dateng ke sini? Nama panjangmu siapa? Halah…
(Ups, buat yg namanya Johan, maaf yak)
Mei ini… bisa aja