Ruwet koq dibikin sendiri!
Ya Tuhan, berilah aku kedamaian hati,
Untuk menerima hal-hal yang tidak bisa aku ubah,
Keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa saya ubah,
Dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya.
Entah kenapa, beberapa hari terakhir ini, kejadian-kejadian yang ku alami di kantor cukup menguras energi. Entah itu yang terlalu rumit, atau yah entahlah. Aku tidak tahu. Aku dan teman-teman ingin memberdayakan diri, tapi mekanismenya harus bagaimana? Kadang aku tidak mengerti dengan suasana itu.
Kenapa semua harus melibatkan semua, memang kembali pada rasa kepemilikan sih, tetapi kadang itu cukup mengganggu, apalagi jika ada hal yang memang lebih prioritas untuk dikerjakan. Setiap kali rapat, seringkali aku stress, karena ujung-ujungnya pasti produksi, pasti publishing. Kalo ada apa-apa publishing, tolong ini, tolong itu. Dll. Kalo lagi ga sibuk sih ga papa, nah kalo lagi sibuk, akhirnya kan jadi ga fokus.
Dan dualisme kepemimpinan ini terus terang menggangguku. Yang satu begini, yang satu begitu. Dan membawa orang yang kurang kapabel ke dalam lingkaran, itulah yang menyebalkannya. Orang yang kurang kapabel, dimasukkan dan tiba-tiba berbuat seolah dia adalah seorang general manager, yang harus menangani semua masalah di kantor (memang tetap harus dibereskan sih).
Ah, ruwet, koq dibikin sendiri nur…nur…
Ini membuat aku pingin belajar manajemen. Intinya memang mengurus orang itu ruwet. Apalagi dalam sebuah organisasi bernama perusahaan. Rasanya aku jadi pingin membaca semua buku manajemen. Tapi, kalau udah sampai rumah….udah capek. Jadilah buku-buku itu hanya menemani awal ketika aku mau tidur….halah…
Ngomong-ngomong soal pengaruh sesuatu terhadap sesuatu, aku baca di the eight habit, tentang tujuh tingkat inisiatif atau pemberdayaan diri. Kukutip sesukanya sesuai keperluanku saja lah.
Dalam memberdayakan diri ada tujuh tingkat inisiatif. Pilihan mengenai tingkat inisiatif mana yang hendak digunakan berdasarkan sejauh mana perkara yang kita alami dan tangani dengan lingkaran pengaruh. Memilih tingkat inisiatif ini, akan memperluas suara kita, sehingga kita bisa menemukan suara kita dalam kondisi apapun, termasuk pada pekerjaan yang samasekali tidak kita sukai.
1. menunggu sampai diperintahkan
ini adalah tingkatan yang berkaitan dengan hal-hal di luar lingkaran pengaruh dan pekerjaan kita. dalam hal ini kita hanya menunggu. Termasuk promosi kan. Promosi yang kerjaan promosi, kalo mereka minta masukan sama produksi, mereka harus punya konsep dulu, barulah konsep itu kita kaji bersama dan kita cari jalan keluarnya bersama-sama. Terus terang saja itu menghabiskan energi untuk hal-hal yang sama sekali bukan menjadi urusan kita. ini berbeda jika yang meminta punya pengaruh yang lebih. Tetapi tidaklah mudah sementara untuk tersenyum dan tidak melakukan apa pun dengan masalah-masalah tersebut. Kita ingin bilang itu bukan kewajiban kita, tapi jika kita lepaskan, wah sudahlah. Kita tetap membantu. Tapi akhirnya ada kanker emosional yang memengaruhi hubungan ini. Dan itu sudah terjadi. Mengkritik, mengeluh, membanding-bandingkan, bersaing, dan menentang. Memang itu terjadi, tapi semua pihak harus tetap saling bantu untuk berusaha memberikan solusi dan yang terbaik pada para pelanggan, serta belajar pada yang berpengalaman. Kita harus selalu ingat untuk berdwibahasa dan menghindari perangkap picik pikiran.
2. bertanya
3. membuat rekomendasi
4. saya bermaksud untuk
5. melakukan dan langsung melaporkannya
6. melakukan dan melaporkannya secara berkala
7. melakukannya
Ya, itulah romantika berorganisasi. Seharusnya aku bisa melihat bahwa apa pun masalah dan kekhawatiran yang aku miliki, aku tetap bisa memberdayakan diri dengan mengambil inisiatif dalam berbagai cara. Harusnya menjadi peka, bijaksana, dan berhati hati dengan penetapan waktu, tetapi yang penting lakukan sesuati berkaitan dengan hal tersebut. Aku harus menghindari kecenderungan untuk mengeluh, mengkritik, atu bersikap negatif. Harus berhati-hati juga, untuk tidak melepaskan tanggung jawab dan sekadar menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi. Kita seharusnya membantu bos kita, dan tidak mengecamnya, tapi siapa bos kita?
(padahal ini kan namanya ngeluh juga ha ha ha…kacau)
Udah lah….sekarang yang penting,
1. apa yang harus saya lakukan?
2. bagaimana saya melakukannya
3. mengapa saya harus melakukannya
4. kapan saya melakukannya
just do the best.