jump to navigation

Setiap Orang Punya Ceritanya Sendiri Oktober 25, 2007

Posted by nurcha in Curhatan, Filosofi, My Mind.
trackback

Benar, setiap orang punya ceritanya sendiri. Baik itu yang terceritakan keluar atau kepada orang lain atau yang dipendamnya sendiri. Ini tidak berkaitan dengan introvert atau extrovert, atau ya mungkin bisa juga sih. Tergantung dari mana kita mau melihatnya. Dari setiap cerita tersebut, akan ada selalu gembira, sedih, kecewa, kekesalan, dan berbagai jenis emosi lainnya. Yang tercetuskan atau yang terpendam.

Adakalanya kesedihan, kekecewaan, bercampur kemarahan menjadi satu. Mengapa? Tentu ada sebabnya. Karena ada seseorang yang menyentuh atau bahkan menyobek rasa ketidakadilan yang ada dalam diri kita. Dia atau orang itu berbuat tidak adil kepada kita dan orang yang kita cintai dan sangat berarti buat kita. Dan muncullah kebencian, akibat dari kemarahan yang tersisa. Kebencian ini tentunya akan berefek pada semua hal yang mirip dengan kejadian yang pernah kita alami sebelumnya. Kita cenderung akan membenci orang yang berbuat sama dengan orang yang pernah mengecewakan kita dan orang-orang yang kita cintai.

Dalam hidup, selalu ada liku-likunya. Dan di sanalah peran kekuatan iman dan ilmu. Ilmu tanpa iman, bencana, dan iman tanpa ilmu, pincang. Kombinasi antara keduanya akan menghasilkan akhlak yang baik, dan membuat kita bisa memiliki kecerdasan emosi yang baik. Dan tentunya itu tidak bisa instan, seketika didapatkan. Memang ada yang sudah menjadi karakter kita, tapi ada juga yang harus dilatih secara terus menerus. Kita harus bermujahadah untuk selalu menjadi baik.

Benci dan memaafkan. Itulah dua hal berlawanan yang sering kita temukan dalam kehidupan kita. Baik kita mengalaminya sendiri atau hal itu kita lihat di sekitar kita. Dan setiap orang punya cerita yang menyebabkan hal itu. Namun, benci dan kemarahan, tetap harus proporsional. Harus adil, dan harus pada tempatnya. Seperti hadits rasulullah yang menyebutkan bahwa seorang muslim yang baik tidak boleh marah. Rasulullah menyebutkan jangan marah sampai 3 kali. Bukan berarti kita diam ketika melihat ketidakadilan. Meski demikian, seperti pendapat Aristoteles, marah sebaiknya hanya dilakukan pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik.

….to be continued…

Komentar»

1. loveprince - Oktober 25, 2007

Ketidakadilan seperti apakah gerangan…?
Apakah dunia ini harus selalu adil…..?

Kurasa tidak selalu…..
agar hidup lebih berwarna….
dan kita bisa belajar darinya….

2. nurcha - Oktober 25, 2007

Ketidakadilan yang dirasakan oleh orang tersebut (ini tidak bercerita tentang aku). Memang dunia ini tidak selalu adil, karena kadang keadilan itu ada dalam ketidakadilan itu (halah apa coba).
Tapi untuk kasus ini, sesuatu yang memang harus ditempatkan pada tempatnya. Tinggallah kita melihatnya dari tempat yang berbeda dan cara pandang yang berbeda.
Tapi tidak semua orang punya cara pandang seperti itu kan.

3. loveprince - Oktober 26, 2007

Mana lanjutannya…….

Kutungguin lho….. (rada maksa neh….hehehe)

Gak ko’…. becanda…