Ketika Sebuah Kapal Akan Karam
Jika menjadi nakhoda sebuah kapal, apa yang akan kita lakukan jika kita mengetahui kapal kita akan karam? Akankah kita bertahan menyelamatkan seluruh penumpang kapal terlebih dahulu, dan kita adalah orang yang terakhir pergi setelah seluruh penumpang selamat, ataukah kita akan menjadi orang pertama yang menyelamatkan diri sebelum penumpang kita.
Sebenarnya itu terserah kepada si nakhoda. Toh, itu adalah pilihannya. Akan tetapi, manakah nakhoda yang baik itu? Kita bisa melihat dari keputusan yang diambilnya.
Kemarin malam, aku mendapat kata-kata bagus dari seorang teman, katanya saya tidak akan karam bersama kapal yang sedang saya naiki, tapi saya akan berusaha sekuat tenaga agar kapal tersebut tidak karam. Dan kata-kata itulah yang menginspirasi dan menjiwai seluruh tulisan ini.
Hidup, daur hidup sebuah perusahaan, dan banyak hal lainnya, sering diibaratkan sebagai sebuah kapal yang sedang berlayar di tengah samudra. Karena, memang demikian, kita tidak tahu kapan ombak itu menerjang dan mengombang-ambingkan sebuah kapal, entah itu ombak yang besar atau ombak yang kecil. Jika sebuah kapal mampu bertahan dari terjangan gelombang besar, otomatis, salah satu yang menjadi penyebabnya adalah kepemimpinan nakhoda itu. Jika tanpa pengalaman dan kekuatan serta banyak hal lainnya, tentunya kapal tersebut tidak akan bertahan dihantam badai. Mungkin kapal itu bisa bertahan dihantam badai, akan tetapi, ada badai-badai lain yang akhirnya menjadikan sebuah kapal karam.
Kita kadang sudah mengetahui ketika kapal kita akan karam, dan keputusan kitalah yang akan menjadikan kapal itu benar-benar karam atau masih bisa diselamatkan. Analogi kapal karam ini bertahan atau pergi, mengingatkan pada Umar bin Khattab, yang berucap “biarlah aku menjadi orang yang pertama kelaparan sebelum rakyatku, dan biarlah aku menjadi orang yang terakhir kenyang setelah seluruh rakyatku.” Itu pulalah ciri nakhoda kapal yang baik, jangan lantas ketika kita sudah punya kapal yang lain, kita meninggalkan kapal kita yang sudah karam. Memang itu pilihan, tetapi tentunya akan lebih bijaksana dan lebih terhormat jika kita meninggalkan budi dan dikenang sebagai “pahlawan” daripada sebagai “pecundang” karena kita melarikan diri dari badai yang menguji kepemimpinan kita.
Jadi, bagi seorang nakhoda pun, ketika dia memilih untuk meninggalkan awak kapal dan penumpang lainnya dan berpindah ke kapal yang lain itu adalah pilihannya. Namun ini bukan soal di mana ladangnya.
Aku teringat nasihat seorang teman, tentang masalah bertahan atau pergi. Keluar atau bertahan itu adalah pilihan kita sendiri. Beliau bertanya kepadaku, lebih tepatnya menegaskan apakah kita mau kalah hanya karena kondisi yang sudah tidak menguntungkan kita? Jika ada sesuatu yang tidak beres, kita harus mencari jalan keluarnya bersama-sama, bersama dengan seluruh awak kapalnya. Bukannya mencari jalan keluar dengan menyelamatkan diri. Tapi, masalah keluar atau bertahan itu pilihan si nakhoda itu sendiri, karena dialah nakhoda dari kapal yang sedang berlayar, artinya dia sendirilah yang akan menentukan kemana hendak diarahkan bahtera tersebut. Ini bukan karena tempat di mana kita berada sekarang, ingat bukan ladangnya, tapi siapa petaninya.
Karena setiap kita adalah pemimpin, dan seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Adalah kesalahan seorang pemimpin, jika dia pergi dengan meninggalkan generasi yang lemah.
Jika seorang nakhoda pergi meninggalkan kapal yang sudah akan karam, kelak di tempat lain pun mungkin dia akan berbuat hal yang sama. Kepergiannya tidak akan memutus siklus karakter—kalau boleh dikatakan—oportunis dan pengecutnya. Ketika jelas-jelas kapalnya akan karam, jangan hanya sekadar menyalahkan dan mengecam awak kapal yang lain karena tidak becus mengurusi kapalnya. Namun seharusnya dia bertanya atau menanyakan kembali kepada dirinya tentang struktur, sistem, dan proses-proses yang saat ini ada dalam organisasi kapal tersebut. Apakah semuanya memungkinkan orang untuk menjalankan prioritas-prioritas tertinggi atau malah sebaliknya.
Ibarat menanam pohon, tidak mungkin kan, jika kepada salah satu pohon bunga kita bilang “Tumbuh!”, tetapi kita malah menyiram pohon yang lain, tentunya pohon yang pertama tidak akan tumbuh. Meskipun nakhoda itu bilang pada awak kapalnya, “Ayo kita berusaha agar kapal kita tidak karam”, tetapi jika nakhoda itu berpikir secara independen dan otoritatif dan membuat banyak keputusan yang sewenang-wenang secara sepihak, nakhoda itu tetap akan membuat kapal itu karam.
Jika perusahaan atau negara atau seluruh jenis organisasi dianggap sebagai sebuah kapal, bisa dianalogikan dengan mengingat kembali pernyataan dari John Garder, “Sebagian besar organisasi yang mengalami masalah telah mengembangkan kebutaan fungsional terhadap kelemahan mereka sendiri. Mereka mengalami kesulitan bukan karena tidak bisa memecahkan masalah, tetapi karena mereka tidak bisa melihat masalah mereka.” Persis, itulah yang terjadi.
Jadi, ketika terjadi krisis dalam kapal kita yang bisa menyebabkan kapal menjadi karam, kita membutuhkan orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar. Semangat untuk melakukan kerja-kerja besar dalam sunyi yang panjang. Jika nakhoda meninggalkan kapal kita, janganlah kita melakukan hal yang sama, tapi tunjukkan jiwa besar kita, bahwa kita bukan orang yang seperti itu. Karena ketika kita menghindar darinya, jika kita kembali berada pada keadaan yang sama, kita akan kembali berbuat seperti itu secara sadar atau tidak sadar. Jika bukan pemimpin kita yang menjadi penyelamat kapal kita, seharusnya para awak kapal dan anggota organisasilah yang bersatu bahu membahu menjadi para penyelamat kapal yang hendak karam itu.
Mengutip perkataan Anis Matta, jangan menunggu kedatangannya. Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka.