Pergi merupakan Syarat Perubahan
Dikutip sesukanya dari The Power of Goodbye (2) - Daniel Mahendra
Timbal, tembaga, dan besi punya takdir sendiri untuk dipenuhi. Dan siapa pun yang campur tangan dalam takdir orang lain, tidak akan pernah menemukan takdirnya sendiri.
Aku seperti telah melakukan perjalanan ribuan kilometer jauhnya. Menelusuri bentangan padang pasir, bermain dengan domba-domba gembala, anggur, angin, teduh mata perempuan gurun, serta kekuatan manusia untuk mewujudkan impiannya. Ini yang kubutuhkan saat ini. Ya, aku menginsyafi betul hukum dialektika: ada pertemuan, sudah barang tentu ada perpisahan. Seperti halnya ada cinta, sudah barang tentu ada cerca. Jangan mengkhayal tentang keabadian. Bukankah semua dan segala diciptakan oleh satu tangan dalam pola berpasangan. Tak ada yang tunggal selain ketunggalan itu sendiri.
Bukankah sudah sering dikatakan: cinta yang berhasil bukanlah menjadikan orang lain mengikuti apa yang kita inginkan. Bukankah cinta tak berorientasi membentuk seseorang untuk mengikuti jalan pikiran kita. Namun sebaliknya, kita-lah yang melebur pada arti kata cinta itu sendiri. Kita mencintai bukan karena seseorang. Karena jika demikian pemaknaan cinta, kita hanya berpamrih pada orang yang kita cintai. Kita mencintai karena memang kita mencintai. Untuk mendapatkan pemaknaan spiritual dari rasa cinta itu sendiri. Seperti halnya kita mencintai seseorang bukan karena kecantikan atau ketampanan parasnya. Juga bukan karena tutur katanya yang memesona atau baik hatinya. Karena jika hal-hal semacam itu tak tersemat lagi pada orang yang kita pilih, apakah berarti kita tak lagi mencintainya? Maka usia hubungan kita berangsur menjadi sekadar sepasang teman ketimbang kekasih dalam ikatan perkawinan. Maka alangkah lugunya pemaknaan kita akan cinta.
Padang pasir memberi nafkah pada binatang piaraannya, dan binatang piaraannya menjadi makanan bagi burung-burung yang terbang di atasnya, burung-burung memberi makan pada manusia, dan manusia memberi makan pada padang pasir. Segala dan semua telah diciptakan tepat berada pada kapasitasnya. Hanya saja apakah kita menjemput takdir tersebut atau tidak. Apakah kita menjadi jalan seseorang untuk menjemput takdirnya, atau justru menghalanginya? Cinta tak pernah menghalangi orang untuk mengejar takdirnya. Kalau ia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati…