Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis
Oleh Herry Mardian, Yayasan Paramartha
SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat `Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?
Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan utab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, aka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada
kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka endaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”
Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang manis-manis’ ? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex
carbohydrate) . Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) .
Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah ’sunnah Nabi’. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.
Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa `disunnahkan’ minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis.
Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma
yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa `manisan kurma’, bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal.
Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?
Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.
Mari kita bicara `indeks glikemik’ (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin.
Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.
Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya) , sehingga respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat cepat merespons untuk menimbun lemak.
Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah `ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas,
lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau. Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia adalah `manisan kurma’, bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.
Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah.
Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena
langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.
Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti `buah pir’, penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah ’sunnah’, maka puasa bukannya malah menyehatkan kita. Banyak orang di
bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas, maka efeknya `rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.’
Ingin `Kurus’
Melenceng dikit dari topik blog ya. Dikit aja. Untuk sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam pengertian mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah kecenderungan tubuh
untuk menabung lemak karena `dilaparkan’ . Ketika diet memang makanan tidak masuk, tapi begitu makanan masuk, kecenderungan tubuh untuk menimbun lemak dari makanan justru lebih besar.
Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respons insulin dalam tubuh stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan makanan yang memberi respon insulin rendah, yaitu yang indeks glikemiknya rendah.
Respon insulin tubuh meningkat bila:
(1) Makin tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu porsi, makin tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya porsi kita di Indonesia: lebih dari 70 persen dari satu porsi makannya adalah nasi). Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup lima puluh persennya saja. Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak ini cukup dari lemak yang terkandung dalam daging yang kita makan, misalnya. Atau kuning telur. Tidak perlu menambah minyak atau memakan lemak hewan (yang justru buruk pengaruhnya bagi tubuh). Lemak (sedikit!) masih diperlukan untuk mengolah beberapa nutrisi dan vitamin, dan untuk membawa nutrisi ke seluruh tubuh.
(2) Semakin tinggi GI (Glycemic Index) karbohidrat yang dikonsumsi, semakin meningkat pula respon insulin tubuh. Makanya, makan hanya makanan yang GI-nya rendah. Nanti saya jelaskan di bawah.
(3) Semakin jarang makan, semakin meningkat respon insulin setiap kali makan.
Ini sebabnya diet (dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan supaya kurus) tidak akan pernah berhasil untuk jangka lama. Setelah diet selesai, tubuh justru akan cenderung lebih gemuk dari sebelum diet. Supaya kurus justru harus makan lebih sering (4-5 kali sehari) tapi dengan porsi setengah atau
sepertiga porsi biasa, dengan karbohidrat maksimal 50 persen saja setiap porsi.
Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur: kalau ingin kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari kalori makanan yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. Tambah dengan olahraga
teratur untuk membakar lemak berlebih dalam tubuh, dan memperbesar otot. Otot membutuhkan energi, maka makin terlatih otot, ia akan makin mengkonsumsi lemak dalam tubuh kita untuk energi.
Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau mengencangkan badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih banyak dari jumlah kalori yang akan kita pakai untuk aktivitas selama sehari,
agar otot mengalami pertumbuhan. Otot sendiri dirangsang pertumbuhannya dan `kekencangannya’ dengan olahraga teratur. Perbanyak protein agar pertumbuhan otot optimal. Karbohidrat cukup diposisikan sebagai bahan pemberi energi, bukan untuk mengenyangkan perut.
Lucu ya: kalau ingin kurus atau memperbaiki bentuk badan, termasuk menumbuhkan otot, justru harus makan lebih sering dengan porsi kecil. Makan yang mengandung lemak, goreng-gorengan, kanji, atau karbohidrat sederhana seperti gula, manisan, minuman ringan bersoda dan sebangsanya itu sudah out of the question. Kalau kita jarang makan, atau makan tidak teratur dan sekalinya makan `balas dendam
habis-habisan’ , ya justru respon insulin kita juga melonjak dan membuat tubuh jadi menimbun lemak.
Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan keseharian, makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat kompleks, 40-45 persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya. Jauhilah karbohidrat sederhana sebisa mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat
sederhana karena butuh energi cepat carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah.
Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan tenaga diperoleh sedikit demi sedikit. Dengan demikian, kita tidak cepat lapar dan energi tersedia dalam waktu lama, cukup untuk aktivitas sehari penuh. Sebaliknya, karbohidrat sederhana menyediakan energi sangat cepat, tapi akan cepat sekali habis sehingga kita mudah lemas.
Maka, ketika makan sahur, jangan makan yang banyak mengandung gula, karena kita akan cepat lemas. Makanlah karbohidrat kompleks (protein jangan dilupakan!) sehingga kita tetap berenergi sampai waktu berbuka.
Karbohidrat sederhana, GI tinggi (energi sangat cepat habis, respons insulin tinggi: merangsang penimbunan lemak) adalah: sukrosa (gula-gulaan) , makanan manis-manis, manisan, minuman ringan, jagung manis, sirop, atau apapun makanan dan minuman yang mengandung banyak gula. Hindari, puasa atau tidak puasa.
Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respons insulin rendah): buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang, apel, pir, dan sebagainya. Sekarang ngerti kan, kenapa para pemain tenis
dunia, pemain bola, pemain basket atau pelari sering terlihat `ngemil pisang’ di pinggir lapangan? Karena mereka butuh energi cepat, tapi nggak ingin badannya gembul berlemak.
Karbohidrat Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan, tapi respon insulinnya tinggi): Nasi putih, kentang, jagung.
Karbohidrat Kompleks, GI rendah (energi dilepas pelan-pelan sehingga tahan lama, respon insulin juga rendah): Gandum, beras merah, umbi-umbian, sayuran. Ini yang paling dicari para praktisi fitness.
Makanan yang diproses pelan-pelan (karbohidrat kompleks) akan membuat kita tidak cepat lapar dan energi dihabiskan cukup untuk aktivitas satu hari penuh; respon insulin rendah membuat tubuh kita tidak
cenderung untuk menabung lemak.
Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah gula sedikiiiiiit) , atau roti coklat gandum, dua atau tiga butir telur rebus (kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di rumput untuk makanan semut-semut di halaman rumah), sayuran segar, dan air putih. Ini sudah cukup untuk membuat tenaga saya tidak habis sampai buka puasa karena energi dari karbohidrat kompleksnya (gandum) akan dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh sepanjang hari. Ketika berbuka, sesuai anjuran Rasulullah dan sufi tadi, saya biasanya minum segelas air, lalu shalat maghrib. Setelah shalat makan nasi seperti biasa, sebisa mungkin dengan porsi karbohidrat- protein-lemak- air proporsional. Dan tentu tidak untuk `balas dendam’ karena puasa seharian. Ini justru saat yang penting untuk melatih melawan keinginan hawa nafsu `makan sekenyang-kenyangnya’. Belajar sabar.
Kembali ke topik.
Jadi, saya kira, “berbukalah dengan yang manis-manis” itu adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka di atas. Karena kurma rasanya manis, maka muncul anggapan bahwa
(disunahkan) berbuka harus dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang jelas, `berbukalah dengan yang manis’ itu disosialisasikan oleh slogan advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.
Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para sahabat yang lain, ingin sekali tahu.
Semoga tidak termakan waham umum `berbukalah dengan yang manis’. Atau lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu kebenarannya.
Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: “Makanlah hanya ketika lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang.” Juga, isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya
biarkan kosong.
“Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang,” kata Rasulullah.
“Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari,
cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma’di Kasib)
Semoga bermanfaat….
Wassalaamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalaamu’alaykum,
Silakan kunjungi tanggapan berikut:
http://aridha.multiply.com/journal/item/36/Bantahan_Berbuka_puasa_dengan_yang_manis-manis
Semoga bermanfaat.
ini artikel yang menarik. memberikan pengetahuan tambahan. namun tulisan mohon agak dirapihkan dikit agar mudah dibaca dan enak dilihat.
salam .
met puasa
—————–
pahala di bulan ramadhan dilipatgandakan oleh Allah SWT.
karena itu berlomba-lombalah dalam kebaikan.
sangatpenting.com
berbukalah dengan cukup.
makanlah yang mengandung vitamin dan penting bagi tubuh.
klik http://www.sangatpenting.com
ada trik tips, sms murah, hadiah, bonus, uang, ini merupakan kesempatan bagi pencari kerja yang inign dapat uang tambahan sekaligus ilmu penting, cara menjawab wawancara dan lain-lain
Assalamua’laikum Wr. Wb Ya akhi,
Maaf, menurut saya ada beberapa kekeliruan di dalam posting di bawah ini. Mungkin ini sedikit usaha dr ana, sesuai dengan ilmu yg pernah ana pelajari di bangku kuliah dulu, untuk menjelaskan kesalah-fahaman tulisan dr saudara kita yg satu ini (afwan ana tdk tahu penulisnya).
Mari kita mulai dr pemahaman bhw Segala yg datang dr Allah dan Rosululloh adalah benar.
Menjelaskan ttng karbohidrat, maka kita harus tahu terlebih dulu pengertian karbohidrat itu sendiri, fungsi dan macam2nya.
Karbohidrat/ Saccharides adl Suatu senyawa organik sederhana seperti senyawa aldehide/keton yg didalamnya terdapat banyak gugus hidroksil. Karbohidrat mempunyai peranan yg sangat penting dalam kehidupan, yaitu sbg sumber energi bagi tubuh manusia. Peranan yg lain dr Karbohidrat dan turunannya adl dlm proses pembentukan sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan, dll.
Karbohidrat yg paling sederhana disebut Monosakarida dengan struktur kimia dasar (CH2O)n (contoh; Glukosa, Fruktosa dan Galaktosa), sedangkan polimerisasi/ penggabungan monosakarida membentuk Disakarida (Sukrosa dan Laktosa), Oligosakarida dan Polisakarida (glikogen, cellulosa, dll).
Mari kita batasi ttng karbohidrat yg berhubungan dengan kurma yaitu yang tergolong dalam jenis Monosakarida (karbohidrat sederhana).
Glukosa adlh salah satu hasil utama dalam proses fotosintesis. Scr komersial, glukosa diperoleh dr proses hidrolisis dengan metode enzimatis dr bahan2 seperti; jagung, beras, gandum, kentang, ketela, dll.
Sedangkan Fruktosa (levulose) adalah suatu karbohidrat sederhana yg banyak terkandung di dalam Madu, Buah2an (Berry, Kurma, melon, dll) dan bbrp sayuran dr jenis umbi2an (Kentang manis, bit, wortel). Jadi Kurma adl tergolong karbohidrat sederhana bukan karbohidrat komplek seperti yg tertulis dalam posting di bawah ini. Dan Kurma termasuk dalam golongan Fruktosa bukan Glukosa.
Didalam Kurma kandungan utamanya adl fruktosanya. Menurut para ahli gizi, Fruktosa direkomendasikan untuk dikonsumsi bagi para penderita penyakit Diabetes melitus (kencing manis) karena fruktosa mempunyai Glycemic Index (GI)yg sangat rendah, seperti juga sukrosa.
1. Saya melihat bahwa orang ini telah keliru dalam mengklasifikasikan Kurma dalam klasifikasi karbohidrat komplek. Jk orang ini mengklasifikasikan kurma dalam karbohidrat komplek (polisakarida) , so pasti lambung kita tidak bisa mencernanya. Krn untuk memecahnya menjadi diperlukan enzim khusus yg tidak dipunyai oleh manusia. Contoh; dr dulu sampai sekarang tidak ada manusia yg memakan rumput, kertas, kapas, dll, karena lambung manusia tidak bisa mencernanya so tidak ada tambahan energi pada tubuh manusia. Bahan2 tersebut kandungan utamanya adalah cellulosa (Polisakarida/ karbohidrat komplek). Yg benar adl Kurma mengandung gula fruktosa yg tmsk dalam karbohidrat sederhana, sedankan makanan or minuman seperti kolak dan es teh mengandung Gula Glukosa yg jg tmsk dalam karbohidrat sederhana.
2. Pendapat keliru yg lain adl “Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.”
Kurma yg faktor kandungan utamanya adl Fruktosa (tmsk karbohidrat sederhana) mempunyai Glycemic Index yg sangat rendah sehingga aman untuk dikonsumsi bagi penderita penyakit kencing manis. Kita sering mendengar para penderita diabetes suka mengkonsumsi gula sukrosa (gabungan dr 2 molekul fruktosa), kenapa tidak gula fruktosa?? karena untuk memadatkan fruktosa menjadi kristal atau butiran memerlukan proses pendinginan dengan temperatur yg sangat rendah. Scr indutrial dan pertimbangan pasar, ini tidak memungkinkan dilakukan. He..he..he.. . saya jd ingat cara pengujian madu murni dengan yg campur gula, masukkan saja kedua produk tsb di dalam lemari es dan tunggu 3 -4 hari. Jk ada yg mengeras bisa dipastikan itu madu palsu, karena banyak kandungan glukosanya karena Titik beku fruktosa lebih rendah drpd glukosa. Berbeda dengan glukosa, yg mempunyai GI yg tinggi, para ahli gizi melarang makanan yg mengandung glukosa tinggi bagi para penderita kencing manis.
3. Dia juga berkata “Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini)”.
Makanan yg berkalori tinggi tidak selalu identik dengan kegemukan. Contoh: Pisang Ambon, apakah ornag makan pisang ambon bisa bikin gemuk, sekarangun banyak suplemen untuk diet namun mengandung kalori tinggi, shg konsumennya tidak cepat lemas or cape.
Menurut dr. Anwar El Mufti dari Mesir, kurma mengandung zat gula (fruktosa)paling banyak yakni 70 persen serta umumnya sudah diolah alami. Karenanya, akomodatif bagi kesehatan. Sebagaimana zat gula pada buah lainnya, zat ini pada kurma mudah dicerna atau dibakar dalam tubuh sehingga menghasilkan tenaga besar. Dilihat dari proses penyerapan, zat gula pada kurma memang lain. Ia habis diserap bisa sampai pada menit ke-60 untuk jumlah tertentu. Hal yang sama terjadi dalam tempo setengahnya seperti teh manis. Karena itu, tidak perlu heran bila banyak ilmuwan mengatakan bahwa kurma bisa membuat kita lebih mampu tahan lapar. Sampai kini, masih banyak ilmuwan penasaran dengan misteri salisilat pada kurma.
4. Tidak semua molekul yg tergolong dalam karbohidrat sederhana mempunyai GI yg tinggi, contohnya adlah Fruktosa.
5. Saya setuju dengan pendapat orang ini, ttng pendapat untuk makan kurma yg asli bukan manisan kurma. InsyaAllah di Indonesia msh banyak kurma yg asli.
6. Kesimpulan: Sesuai dengan kebiasaan Rosululloh Saw, berbukalah dengan kurma basah (Ruthab), jk tidak ada kurma kering (Tamr), jk tdk ada air putih. jadi kurma itu adl anjurannya bukan kolak, empek2, bakso, pizza, es teh manis, es jeruk manis, dst. So tidak ada yg salah dgn hadist Rosululloh Saw.
Berikut info ttng manfaat dr korma;
KURMA ternyata mengandung rahasia medis yang positif. Sebuah situs internet mencatat, setiap butir kurma mengandung kekayaan gizi antara lain hidrat arang, serat, kalsium, potasium, dan zat besi. Ini dianggap sudah mampu mengganti energi.
Dalam penelitiannya, Dr. dr. Wahjooetomo mengatakan, selama berpuasa, perubahan kadar gula yang terjadi dalam tubuh ternyata sangat kecil. Karenanya, kandungan potasium dalam kurma sangat signifikan untuk mengatasi kelelahan.
Seratnya cocok untuk mengantisipasi sukar buang air besar. Sedangkan teksturnya yang halus itu cukup aman bagi lambung yang sensitif dan radang usus. Bukan hanya itu, kombinasi zat besi dan hidrat arang pada buah kurma sangat baik bagi penderita anemia dan lesu kronis.
Sementara itu, di tempat lain diketahui, makanan khas Timur Tengah tersebut pun bisa menurunkan risiko serangan stroke berkat tingginya kalium.
Memang buah-buahan dikenal sebagai sumber utama vitamin, khususnya C. Kandungan energi atau kalorinya pun rendah, sebab lemak yang dikandungnya juga rendah. Namun tidak berlaku bagi kurma. Kandungan lemak pada kurma juga bisa dikesampingkan. Namun, tingginya karbohidrat menyebabkan tersedianya energi. Bahkan boleh dikatakan lebih tinggi dibandingkan sebagian jenis buah lainnya.
Selain itu, kurma mempunyai zat penting bagi metabolisme tubuh, terutama organ jantung dan pembuluh darah, yaitu kalium. Fungsi mineral ini membuat organ jantung dan pembuluh darah berfungsi baik, plus kian mengaktifkan kontraksi otot, serta membantu mengatur tekanan darah.
Hanya dengan memakan buah kurma lima butir per hari, itu sudah memenuhi persyaratan untuk kesehatan tubuh. Para peneliti menyimpulkan dengan hanya makan satu porsi ekstra makanan kaya kalium (minimal 0,4 setiap hari) risiko fatal stroke bisa diturunkan sampai 40 persen.
Batas krisis 400 mg kalium itu, sangat mudah. Anda penuhi dengan makan kurma kering sekira 65 gram saja (ekuivalen 5 buah kurma). Sebaliknya, mereka dengan konsumsi kalium kurang dari 2 gram per hari mempunyai risiko stroke fatal jauh lebih tinggi ketimbang yang lain. Menurut Dr. Louis Tobian dari Minnesota University, kalium pun bisa memberikan atau menyuplai energi dalam mencegah stroke secara langsung, terlepas kondisi tensi saat itu.
Konsumsi ekstra kalium bisa menjaga dinding arteri tetap elastis dan normal, sehingga pembuluh darah tidak mudah rusak akibat tekanan darah.
“Jadi, jelas sudah, kurma menyimpan senjata potensial antistroke dan antiserangan jantung, meskipun masih memerlukan penelitian secara komprehensif demi memastikannya, ” tuturnya.
Zat salisilat pun terkandung juga pada kurma. Seperti kita ketahui bahwa zat itu sering dipakai sebagai bahan baku aspirin : obat pengurang rasa sakit atau penghilang nyeri. Salisilat pun bisa memengaruhi prostaglandin (kelompok asam lemak hidroksida yang merangsang kontraksi otot polos sehingga menurunkan tekanan darah).
Ilmuwan lain selaku peneliti kurma dari aspek medis datang dari Jean Carper. Ia lewat karya tulisnya, “Your Miracle Medicine” menyoroti kurma mempunyai aktivitas seperti aspirin.
Kurma kering mempunyai kandungan aspirin alami sangat tinggi. Dalam beberapa macam buah seperti ceri, prune, dan kismis pun banyak mengandung kalium ikut beruntung karena mereka juga mengandung salisilat. Karenanya, para peneliti berharap, salisilat pada makanan seperti kurma bisa meredakan sakit kepala.
Menurut dr. Anwar El Mufti dari Mesir, kurma mengandung zat gula paling banyak yakni 70 persen serta umumnya sudah diolah alami. Karenanya, akomodatif bagi kesehatan. Sebagaimana zat gula pada buah lainnya, zat ini pada kurma mudah dicerna atau dibakar dalam tubuh sehingga menghasilkan tenaga besar. Dilihat dari proses penyerapan, zat gula pada kurma memang lain. Ia habis diserap bisa sampai pada menit ke-60 untuk jumlah tertentu. Hal yang sama terjadi dalam tempo setengahnya seperti teh manis. Karena itu, tidak perlu heran bila banyak ilmuwan mengatakan bahwa kurma bisa membuat kita lebih mampu tahan lapar. Sampai kini, masih banyak ilmuwan penasaran dengan misteri salisilat pada kurma.
Sementara itu, kita sebenarnya sangat mudah memperoleh kurma pada bulan suci Ramadan. Datangilah pasar-pasar, pusat perbelanjaan, atau bazar alias pasar murah, tentu banyak penjaja yang menawarkan kurma.
Kualitas kurma dan harganya, jelas berragam. Hal itu tergantung dari asal-usul kurma tersebut serta kemasannya. Karena, harga kurma yang dikemas dalam kardus dan dibungkus pelastik secara baik, akan berbeda dengan kurma kiloan atau kurma yang dikilo dan hanya dikemas oleh kantong pelastik.
Sungguh, kurma yang biasanya hanya dapat diperoleh di tanah suci bila ada rekan atau tetangga pulang dari ibadah haji, kini saat Ramadan banyak dijumpai kurma yang dijajakan para penjual. Untuk itulah, alangkah baiknya bila kita mengonsumi kurma saat Ramadan dan mungkin juga menyimpannya untuk persediaan kelak pascaRamadan
7. Dr posting sebelumnya mengatakan bahwa nasi adalah karbohidrat kompleks. “Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks.”
Saya tidak maksud dr si penulis, apakah kita disuruh memakan nasi utk membatalkan puasa dan meninggalkan kurma atau…… Tp yg jelas sekali orang ini telah salah mengklasifikasikan Nasi ke dlm karbohidrat komplek, seharusnya tmsk di dalam karbohidrat sederhana. Yg mana kandungan karbohidratnya adl Glukosa, bukan Fruktosa. Oleh krn itu, setahu saya untuk para penderita diabetes yg cukup parah dokter menyarankan agar tidak memakan nasi, namun diganti dgn jenis karbohidrat yg lain. Glukosa mempunyai GI number yg tinggi.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
A2
Klik di sini untuk artikel asli
(ttd. friend of Herry Mardian)