Cuplikan cerpen “Ketika Fajar Sudah Tak Ada Lagi”
Oleh : Gola Gong
NAMA SAYA “FAJAR”, tapi tidak pernah bisa menikmati menyembulnya fajar, yang kata orang sangat indah. Kadangkala saya benci dengan orang yang memberi nama “Fajar”. Saya tidak tahu entah siapa yang memberi nama itu. Yang saya tahu hanya, bayi mungil itu tergeletak di depan rumah yatim-piatu di saat fajar menyembul. Lantas para pengurus panti sepakat memberi nama bayi itu: Fajar. Mereka punya keinginan, bahwa suatu saat nanti bayi mungil itu bisa mengubah dunia. Memberi cahaya terang pada orang-orang. Padahal bayi mungil itu orang kebanyakan.
Saya benci dengan nama “Fajar”. Seharusnya nama itu diberikan pada bayi-bayi mungil yang punya orang tua komplet dan bahagia. Bukankah “fajar” adalah pertanda dimulainya hari lain? Denyut lain?
Tapi saya, Fajar? Lelaki yang suka bersembunyi di kegelapan dan bangun kesiangan, hanya karena semalaman kurang tidur setelah membuat cerita-cerita?! Saya lebih cocok sebagai penyebar kegelapan dan selalu marah pada sekeliling. Marah terhadap wajah-wajah bertopeng.
Lantas, siapa orangtua saya? Berkali-kali saya tanyakan pada pengurus panti, tapi mereka hanya bercerita tentang bayi mungil di saat fajar itu! Sepasang manusia yang sedang dimabuk asmarakah? Yang belum sanggup mengurus bayi, sehingga bayi mungil itu mereka letakkan di muka pintu panti asuhan?
Saya capek hidup. Capek memikirkan semua itu. Saya tidak tahu untuk siapa menjalani hidup ini. Saya tidak punya kebanggaan dan tidak ada yang membangga-banggakan. Seharusnya, mungkin, saya tidak kabur dari panti asuhan dulu. Seharusnya saya diam saja sampai mati di sana. Berkumpul dengan kawan-kawan senasib, yang setiap malam selalu bermimpi punya segala-gala yang diidamkan. Keluarga yang bahagia, harta melimpah, juga kehormatan. Atau diadopsi oleh pasangan kaya-raya.
Pernah mimpi jadi orang seperti saya? Oh, lebih baik jangan. Lebih baik tidak pernah bermimpi ketika tidur. Lebih baik tidur nyenyak saja dan bangun di saat fajar menyembul.
Besok saya mau mencoba bangun lebih pagi, agar bisa menikmati menyembulnya fajar. Kalau begitu sebaiknya nanti malam saya tidak mengetik cerita. Saya akan lebih cepat tidur. Ya, saya ingin merasakan tidur nyenyak tanpa ditemani mimpi.
Ya, saya ingin tidur nyenyak, agar besok bisa bangun lebih pagi dan menikmati fajar.
Fajar — sebelum cahaya?
angthoink berkata,
Agustus 29, 2007 @ 4:04 pm
hi, salam kenal. Aku orang Cirebon tingggal di Jakarta