untitled 1 - ngutip dee

Aku selalu ingin mencuri waktumu. Menyita perhatianmu. Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya kan kau dapatkan angka ini: 4.354.560.000.

Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik, dan di dalamnya lagi, lagi dan lagi…

Petunjuk waktuku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku sensasi keabadian sekaligus mortalitas.

Mengertilah. Tulisan ini bukan bertujuan untuk merayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang menor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta tak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.

Entah pukul berapa sekarang di tempatmu, tapi tak terasa sudah satu jam aku di sini. Menyumbangkan lagi 216.000 milisekon ke dalam rekening waktuku. Terima kasih. Aku semakin kaya saja. Andaikan bisa ku tambahkan satuan rupiah, atau lebih baik lagi, dolar, di belakangmu. Tapi engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung, dan segalanya yang di tengah-tengah. Anugerah/sensasi ilahi. Tidak dolar, tidak juga yen, mampu menyajikannya.

Sumber: Ngutip sesukanya dari Selagi Kau Lelap – Filosofi Kopi – Dee.

2 Komentar »

  1. loveprince berkata,

    Agustus 21, 2007 @ 12:27 pm

    Is there any real “untitled” besides Dee’s and Maliq’s?

  2. nurcha berkata,

    Agustus 22, 2007 @ 8:56 am

    betul ada…dan ada kata-kata indah dari keduanya yang mewakilinya…
    jadi ga perlu repot2 menuliskannya dalam bahasaku sendiri.
    ya kapan2 akan kutulis dengan bahasaku sendiri, biar feelnya lebih dapet…he he he

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan Komentar