Cirebonku Agustus 15, 2007
Posted by nurcha in Tentang Cirebon.trackback
Cukup menarik laporan akhir metropolitan mengenai sebuah kota yang terasing dari warganya. Kasarnya artikel ini menceritakan tentang Jakarta, warganya serta pengelolanya. Setidaknya dengan membaca artikel ini mengingatkan saya akan kota kelahiran, Cirebon.
Cirebon adalah sebuah kota kecil di Pantura Jawa yang merupakan kota perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Lokasi yang strategis, terutama untuk iklim usaha, khususnya usaha pusat perbelanjaan. Bisnis pusat perbelanjaan di kota Cirebon dalam satu dasawarsa terakhir ini tumbuh bak jamur di musim hujan.
Awal tahun 90-an mungkin hanya ada 2-3 pusat perbelanjaan tapi sekarang pusat perbelanjaan sudah lebih dari 10 buah. Dan pusat perbelanjaan itu mengambil tempat di berbagai lokasi strategis di kota Cirebon, bahkan tak jarang mengambil lokasi di lokasi-lokasi memiliki nilai sejarah. Bahkan sampai tumbuh rumor di masyarakat bahwa kantor balai kota pun akan di jual untuk pembuatan pusat perbelanjaan. Lama kelamaan mungkin aset-aset bersejarah itu akan habis dijual guna mempertebal kantong PAD Pemkot Cirebon.
Secara rasional mungkin wajar saja, karena untuk memelihara aset kota lama membutuh biaya yang cukup besar sementara pemasukan mungkin hanya sedikit. Cara yang paling mudah adalah menjualnya untuk dijadikan pusat perbelanjaan. Dengan demikian selain mendapatkan dana hasil penjualan lokasi dan tanah setiap tahunnya Pemkot akan mendapatkan pajak dari pusat-pusat perbelanjaan yang ada dan PAD akan terus meningkat jika pusat perbelanjaan semakin banyak, mungkin seperti itu yang ada di benak Pemkot, DPRD dan jajarannya. Padahal cara seperti itu menunjukkan tingkat kreativitas pengelolaan daerah yang rata-rata terutama perencanaan tata kotanya.
Ini mungkin satu diantara sekian banyak masalah yang dimiliki oleh kota Cirebon, tapi tidak ada salahnya untuk kita sorot dan kita kaji bersama. Semakin menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan di Cirebon akan menimbulkan ekses bagi kota ini, baik yang positif maupun yang negatif.
Efek positifnya tentu dapat mengurangi tingkat pengangguran dikota ini. Dengan semakin banyaknya pusat perbelanjaan maka akan menyerap banyak tenaga kerja lokal untuk bekerja. Hal itu mengurangi beban Pemkot dalam menangani masalah tenaga kerja di Cirebon selain itu semakin banyaknya pusat perbelanjaan maka konsumen dapat memilih barang-barang yang berkualitas baik dengan harga bersaing. Itu mungkin dua keuntungan yang akan diperoleh warga kota Cirebon dan juga pengelolanya. Akan tetapi walaupun demikian seperti sebuah mata uang pasti ada sisi yang lainnya, yaitu sisi negatifnya.
Efek negatif yang dapat mungkin ditimbulkan adalah tingkat konsumtifitas yang akan semakin meningkat dikalangan warga kota Cirebon dan sekitarnya. Kemudian selain itu akan nampak banyak sekali anak-anak sekolah yang nongkrong di mall-mall itu bahkan pada jam sekolah sehingga generasi muda kita bukan lagi menajdi generasi yang menghargai waktu dan sekolah dan tentunya itu akan berdampak buruk bagi generasi muda itu dan kota cirebon dimasa yang akan datang. Hal yang demikian juga dapat menimpa para pegawai yang bekerja.
Masalah lain yang juga timbul adalah letak pusat-pusat perbelanjaan yang kebanyakan menempati lokasi-lokasi strategis membuat jalan-jalan disekitarnya menjadi rawan kemacetan pada hari-hari biasa dan tingkat kemacetan itu akan semakin meningkat pada hari-hari libur. Karena banyak warga sekitar Cirebon yang datang untuk ngeceng, berbelanja dan lain-lainnya di kota Cirebon.
Kemacetan cenderung terjadi karena lalu lalang pejalan kaki, turun naik penumpang dari angkot, pengemudi becak dan lain-lainyya semakin menambah gerah kota Cirebon yang memang sudah panas. Dampak negatif yang lain diderita oleh pengelola pusat perbelanjaan itu sendiri. Karena bannyaknya pusat perbelanjaan mereka harus giat-giat berpromosi guna menarik pengunjung agar tetap berbelanja di pusat perbelanjaan yang mereka kelola.
Jadi sebenarnya home work Pemkot Cirebon bukan tidak sedikit. Menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan intu secara langsung maupun tidak langsung memiliki Dampak terhadap kehidupan sosial, perencanaan tata kota, pelayanan angkutan umum dan rute jalannya, padagang kaki lima dan lainnya yang turut mempengaruhi aspek-aspek yang berkaitan dengan perkembangan kota Cirebon di masa yang akan datang.
Lalu apa kaitannya dengan keterasingan warga. Boleh jadi kebanyakan warga asli atau yang sudah lama bermukim di kota ini berpendapat bahwa kota Cirebon ini sudah tidak seperti dulu lagi. Memang perubahan diperlukan agar kota ini tetap dapat bertahan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu nuansa religius kota ini yang sempat kondang dengan julukan kota wali mungkin akan musnah dan berubah menjadi kota 1000 mall seperti yang diangankan Pemkot. Dan nampaknya memang demikian usia kota yang semakin tua justru membuat kota ini seperti neli alias nenek lincah yang genit.
Cirebon, Nama itu tereja dalam lubuk jiwa
Nuansa itu perlahan sirna di telan masa
Seiring dengan keteduhan yang semakin memudar tertelan gempuran kuasa
Hingga lenyap satu persatu peneduh raga di sisi-sisi kota
Sehingga terik semakin menyengat melumat eolia-eolia rasa, raga dan jiwa
Diantara fraktal palsu tak bernyawa.
Asslkm…
Hahaha…Cirebon… Yang terlintas pertama kali ketika saya sampai di lampu merah Kanggraksan,
“Ada putra daerah yang siap pulang kampung membangun kota Cirebon??”
waalaikum salam…
yang siap pulang membangun cirebon?
aku belum…
teman2 dari cirebon, adakah?
Insya Allah SIAAAP!!! hehehe saya kan backgroundnya teknik sipil yang kerjaannya bangun-membangun…