Pisang Untuk Cegah Kanker Kolorektal Agustus 13, 2007
Posted by nurcha in Kesehatan & Gizi.trackback
KANKER kolorektal berada di peringkat keempat pada kebanyakan kejadian kanker dan menyebabkan kematian akibat kanker di seluruh dunia. Pada tahun 1996 diperkirakan terjadi 875. 000 kasus. Angka kematian yang terjadi akibat kanker ini diperkirakan terus meningkat, kebanyakan kasusnya terjadi dinegara maju dan daerah perkotaan di negara berkembang (American Institute for Cancer Research, 1997).
KANKER merupakan penyakit tidak menular yang berawal dari perubahan materi genetika, atau DNA, yang ada pada sel normal dan menghasilkan sel yang tidak sama lagi dengan induknya.
Kanker kolorektal adalah kanker yang terjadi di daerah kolon (usus besar) dan daerah rektum. Secara anatomis, kolon berada sebelum rektum. Dan daerah kolon yang berdekatan dengan rektum tersebutlah daerah rawan kanker. Karena hampir setengah dari seluruh kasus kanker kolorektal terjadi di daerah rektum dan daerah rektosigmoid (American Institute for Cancer Research, 1997).
Yang menjadi target karsinogensis kolon dan rektum adalah kripta sel epitel kolon, dan 98 persen tumor jahat yang ada di kolon dan rektum adalah adenokarsinoma. Awalnya lesi kolorektal muncul sebagai satu jenis polip adenoma yang akhirnya berkembang menjadi kanker (American Institute for Cancer Research, 1997).
Selama ini kekurangan serat masih disebutkan sebagai satu-satunya kandidat yang diduga kuat sebagai penyebab kanker kolorektal. Kekurangan serat pada makanan yang dikonsumsi akan memengaruhi kelancaran proses pencernaan. Apabila hal ini dibiarkan terus-menerus akan berbahaya bagi manusia.
Tahapan awal tanda kekurangan serat adalah terjadinya konstipasi yang mengakibatkan buang air besar kurang lancar, tahapan selanjutnya jika terus berlanjut akan mengakibatkan terjadinya divertikulosis dan tahapan yang ekstrem kekurangan serat yang “severe” dapat menyebabkan terjadinya kanker kolorektal (Muchtadi, 2003).
Meskipun serat merupakan penyebab utama kanker kolorektal, saat ini mulai berkembang asumsi baru bahwa kanker kolorektal ini tidak hanya disebabkan oleh kekurangan serat saja. Masih ada penyebab-penyebab lain yang menyertai kekurangan serat sebagai penyebab kanker kolorektal ini, yang terbaru adalah dugaan yang dikembangkan oleh Martinez et al dari Arizona Cancer Center.
Martinez et al (2004) mencurigai bahwa folat, B12, dan B6 memiliki keterkaitan dengan korektal neoplasia pada 1.014 pria dan wanita usia 40-80 tahun yang pernah mengalami pembuangan adenoma polip kolorektal.
Hasil penelitian yang telah dimuat di American Journal of Clinical Nutrition tahun 2004 ini menyebutkan bahwa mereka yang mengonsumsi folat, B6, dan B12 yang lebih tinggi memiliki kejadian kembali adenoma kolorektal yang rebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi makanan atau suplemen sumber ketiga vitamin tersebut lebih sedikit.
Pada dekade terakhir ini folat, B6, dan B12 dapat dikatakan menjadi primadona di bidang pangan dan gizi, hal ini lebih kepada peran folat, B6, dan B12 sebagai koenzim yang memiliki spektrum kerja yang luas. Diketahui bahwa folat dan kofaktor lainnya seperti vitamin B6, B12, dan metionin, berperan dalam metilasi biologis dan pemeliharaan pool folat intraseluler untuk sintesis DNA; karenanya defisiensi folat diperkirakan dapat mengarah pada kejadian kanker melalui kerusakan atau terganggunya kejadian ini.
Saat ini cukup terdapat bukti epidemiologis yang dikumpulkan dari penelitian secara prospektif dan retrospektif yang mendukung adanya peran asam folat dalam menurunkan risiko kanker kolorektal. Setidaknya terdapat lebih dari tujuh penelitian mengenai hal ini. Dan secara keseluruhannya melaporkan efek positif folat dalam mencegah kanker kolorektal. Demikian juga dengan vitamin B12, dan B6 yang fungsinya memaksimalkan kerja folat dalam tubuh.
Konsentrasi folat merupakan determinan penting dari total homosistein. Meningkatnya konsentrasi homosistein diperkirakan berpengaruh secara langsung mempengaruhi karsinogenesis dengan berkurangnya DNA di jaringan yang penting melalui peningkatan secara simultan S Adenosilhomosistein. Penggunaan homosistein sebagai cara untuk menilai folat dalam karsinogenesis ini penting karena hal ini mungkin berkaitan dengan metabolisme folat yang merupakan indikasi berkurangnya fungsi-fungsi enzim yang terlibat dalam metabolisme homosistein.
Homosistein merupakan asam amino yang terbentuk sebagai hasil demetilasi methionin. Homosistein akan terakumulasi dalam darah jika terjadi gangguan dan konsentrasinya tergantung pada status folat, B6, dan vitamin B12. Ketergantungan homosistein pada folat, B6, dan B12 cukup tinggi, mengingat secara biokimia pemecahan homosistein menjadi sistein membutuhkan vitamin B6, dan remetilasi kembali menjadi metionin membutuhkan B12 dependent enzyme dengan folat sebagai substratnya.
Kebutuhan vitamin B6, B12, dan folat harus tercukupi, baik melalui pangan sumber folat (sayur dan buah) maupun vitamin B12 (daging-dagingan), karena kedua vitamin tersebut penting untuk membantu mengurangi kadar homosistein dalam tubuh kita. Homosistein yang menjadi penyebab segala penyakit degeneratif, sebagai akibat dari pola makan dan gaya hidup kita dimasa lalu yang kurang sehat.
Meskipun mekanisme secara jelas belum dapat dipastikan akan tetapi mekanisme plausibel yang digambarkan dalam literatur termasuk peran folat dalam metabolisme karbon tunggal, metilasi DNA, sintesis DNA, dan proliferasi sel. Sehingga diduga ketidakseimbangan antara metilasi biologis dan sintesis nukleotida adalah kunci yang menjelaskan tentang mekanisme yang bertanggung jawab untuk peran folat dan B6 dalam karsinogenesis
Potensi pisang untuk mencegah kanker kolorektal
- Hasil penelitian dari Martinez et al (2004) menunjukkan bahwa vitamin B6 dan folat memiliki keterkaitan tertinggi dengan metabolisme folat dalam yang memiliki efek protektif dalam mencegah timbulnya kembali adenoma (neoplasia) di daerah kolorektal pada lansia.
Pisang merupakan sumber vitamin B6 dan folat yang sangat baik, ditambah dengan kandungan serat yang cukup baik pula, dan pisang mengandung vitamin ini lebih banyak dibandingkan dengan buah-buahan lain yang biasa dikonsumsi, selain itu pisang juga dikenal sebagai salah satu buah yang dapat melancarkan buang air besar.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di tahun 1990-an, menunjukkan bahwa pisang dapat memenuhi 2/3 kebutuhan vitamin B6 pada lansia dengan status ekonomi rendah yang tinggal di daerah metropolitan. Dan ada juga yang memenuhi kebutuhan vitamin B6-nya hanya dari sayur dan buah saja.
Dan fakta penting dari penelitian ini adalah bahwa pisang mengandung vitamin B6 yang dapat memenuhi sebanyak 30 persen dari total kebutuhan vitamin B6. Keuntungan lain dari pisang adalah sifatnya yang padat gizi, ekonomis, dan mampu memenuhi kebutuhan vitamin B6 dan folat dalam jumlah yang cukup signifikan dan siap santap serta sangat cocok untuk mencegah kanker kolorektal pada siapa saja.
Selain pada lansia, di Indonesia, Hasil penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (1999) dalam laporan disertasi doktornya di Nebraska University, menyebutkan bahwa pisang merupakan salah satu buah yang memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan vitamin B6.
Kontribusi yang diberikan pisang adalah sebesar mencapai 12 persen pada anak-anak usia 8-9 tahun. Tips mudahnya untuk memenuhi kebutuhan vitamin B6 dan folat dengan pisang adalah, mengonsumsi 1½-2 pisang dalam setiap hari. Karena 100 gram pisang mengandung 0.58 milligram vitamin B6.
Sementara satu buah pisang ukuran sedang seberat 120 gram mengandung 0.70 milligram, artinya untuk memenuhi kebutuhan vitamin B6 untuk lansia berkisar antara 1.5-2 mg per harinya, cukup mengonsumsi 2 buah pisang setiap harinya. Dua buah pisang setara dengan 58 mikrogram folat, meskipun hanya memenuhi sepertiga kebutuhan folat tubuh, karena 2/3-nya dapat dipenuhi dari sumber folat lainnya seperti brokoli, bayam, dan kacang-kacangan.
Kebutuhan B12 tidak dapat dipenuhi dari sumber pangan nabati, untuk memperolehnya harus mengonsumsi sumber pangan hewani, seperti susu, kerang-kerangan, dan daging. Untuk yang terakhir yakni daging sebaiknya yang tanpa lemak dan tidak terlalu banyak.
Jadi, tips mudah untuk mencegah kanker kolorektal adalah dengan dua buah pisang ukuran sedang dan minum susu setiap hari, sepertinya akan cukup membantu.*
Kompas, Selasa, 19 April 2005
http://www.kompas.com/kesehatan/news/0504/19/094912.htm
Komentar»
No comments yet — be the first.