Posted by: nurcha on: Agustus 11, 2007
Ulasan singkat World Development Report 2007
“Kaum muda harus dilibatkan sejak awal karena sebuah masyarakat tanpa kaum muda akan menanggung derita dalam garis kehidupannya.” (Kofi Annan)
Hari Kemerdekaan ke-62 diperingati pada 17 Agustus ini. Masih banyak PR pasca kemerdekaan kita pada 1945 yang lalu. Persoalan itu masih terbawa hingga 2007. Persoalan kemiskinan, bencana kemanusiaan akibat dari krisis ekologi, tatanan dunia yang timpang, dan ancaman keamanan seperti terorisme, menjadikan Indonesia bak tak putus dirundung malang. Banyak pihak pesimis bahwa peluang melakukan perbaikan pun terbatas. Meskipun demikian tetap ada peluang, yakni pemberdayaan dan investasi pada kaum muda.
Pemberdayaan dan investasi kaum muda merupakan bagian penting dari 8 tujuan pembangunan millenium (Millenium Development Goals), 7 dari 8 tujuan pembangunan millenium berhubungan erat dengan kaum muda. Oleh karenanya Paul Wolfowitz, dalam kata pengantarnya di WDR (World Development Report) 2007 ini amat menekankan pentingnya berinvestasi pada kaum muda.
Mengapa?
Jumlah pemuda berusia 12–14 tahun telah mencapai 1,3 juta miliar, dan ini jumlah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia! Potensi ini harus dikelola dengan baik dalam berbagai aspeknya, karena jika tidak, ongkos perbaikannya akan menjadi sangat mahal untuk dibayar secara ekonomis maupun secara kualitas sumber daya manusia.
Mengelola kaum muda dengan cara berinvestasi kepada mereka merupakan upaya penting untuk memerangi kemiskinan, dan ini adalah tantangan bagi seluruh negara yang ada di dunia. Namun demikian, berinvestasi pada kaum muda bukanlah investasi instan, yang bisa langsung dipetik hasilnya. Ini adalah investasi jangka panjang karena butuh waktu 12-24 tahun untuk melihat hasilnya, hasil yang diinginkan oleh semua negara, keberdayaan ekonomi, keamanan, ketentraman, dan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Dalam salah satu kolomnya, Eileen Rachman dan koleganya pernah menulis tentang manajemen multigenerasi. Ada benang merah yang menghubungkan antara isi WDR 2007 dengan artikel ini. Intinya sama-sama mengelola generasi, terutama generasi muda. Akan tetapi, mengelola kaum muda dengan seluruh aspek kehidupannya bukanlah hal yang sederhana. Bagi kaum muda sendiri, tantangan yang mereka hadapi saat ini lebih nyata dan berat dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Meskipun demikian, tantangan berat yang mereka hadapi diimbangi dengan karakteristik khusus yang dimiliki oleh generasi muda saat ini; generasi millenial, demikian Eileen Rachman menyebutnya. Para millennial ini gila belajar, punya daya orientasi lebih kuat, lebih berani hands on, fleksibel, dan bisa bekerja sama dalam sebuah tim. Mereka pun lebih senang belajar secara praktis daripada teoretis. Secara tersirat, karakteristik ini juga tampak pada WDR 2007 ini. Karakteristik millenial mereka tampak dari banyak kutipan kata-kata para kaum muda di seluruh dunia yang tersebar di setiap halaman buku ini, baik itu berupa kutipan yang optimis, pesimis, keprihatinan, dan banyak lagi.
Investasi dan pengelolaan kaum muda oleh negara-negara di dunia harus memerhatikan segala aspek yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Ada tiga hal yang dikemukakan dan ditawarkan WDR 2007 ini untuk mengajak kaum muda turut serta dalam pembangunan dan membuat mereka menjadi modal manusia yang berkualitas di masa depan, yakni perluasan kesempatan, peningkatan kemampuan, dan pemberian kesempatan kedua. Ini penting untuk dilakukan, karena ke depan merekalah yang akan memegang tampuk kelangsungan hidup di bumi ini.
Hingga saat ini, kemiskinan masih menjadi masalah bersama di seluruh dunia. Untuk keluar dari lingkaran kemiskinan, maka WDR 2007 mengembangkan isi WDR 2004 dengan mencoba melibatkan generasi muda untuk menjadi motor pemutus lingkaran setan kemiskinan di seluruh dunia karena dua alasan. Pertama, kemampuan belajar kaum muda lebih baik daripada kaum tua. Sehingga, jika pada saat tersebut mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keterampilan, kebiasaan hidup sehat, dan bergabung di suatu komunitas dan masyarakat, hal tersebut akan menjadi sangat mahal untuk diperbaiki. Kedua, modal manusia saat muda akan memengaruhi kualitas anak-anak mereka di masa depan. Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kualitas sebuah generasi akan berdampak pada generasi berikutnya. Kualitas generasi yang baik dari generasi sebelumnya akan mampu mengangkat keluarganya (dan generasi berikutnya) keluar dari kemiskinan dalam jangka panjang.
Kebijakan yang akan memengaruhi kaum muda untuk hidup layak dan bersosialisasi dengan baik adalah kebijakan yang membentuk fondasi sumber daya manusia agar menjadi para pekerja yang produktif, kepala keluarga, warga negara, dan pemimpin komunitas yang berkualitas. Inilah yang menjadi alasan mengapa laporan ini fokus pada transisi saat kaum muda menjalani masa pembelajaran, bekerja, hidup sehat, berkeluarga, dan berwarga negara. Jika dilakukan dengan baik, maka segala kebijakan yang berkaitan dengan transisi ini akan memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Sebaliknya, jika dilakukan dengan buruk, maka konsekuensinya akan menjadi sangat mahal untuk diperbaiki. Kegagalan itu berarti tingginya angka putus sekolah, jumlah pengangguran yang tinggi, masa pengangguran yang lama, tindak kejahatan, tingkah laku yang tidak sehat dapat meninggalkan efek buruk pada kesehatan pemuda yang permanen (contoh: HIV/AIDS).
Kebijakan publik sangat berperan dalam menentukan arah mana yang harus dituju para pemuda. Ketika para pemuda menjalani setiap masa transisi, mereka rentan mengalami hambatan dalam mengembangkan potensi sumber daya manusia yang dimilikinya, tidak hanya akibat kemiskinan, tetapi juga karena kegagalan kebijakan yang memengaruhi pilihan mereka, terutama kegagalan untuk menyediakan atau membiayai pelayanan kesehatan, dan pendidikan.
Transisi ini secara alamiah bergantung pada negara dan individu pemuda masing-masing. Negara seharusnya dapat menentukan arah kebijakan melalui transisi pekerja, pemimpin, dan pengusaha generasi mendatang. Transisi sebagaimana manajemen multigenerasi menawarkan potensi yang besar (dan mengandung risiko yang besar pula) bagi pertumbuhan dan pemberantasan kemiskinan di negara-negara berkembang. Modal manusia dan modal sosial yang berasal dari kaum muda akan menentukan pendapatan nasional.
Keputusan-keputusan yang diambil kaum muda, sebagai generasi yang mengepalai rumah tangga, masyarakat, angkatan kerja, dan bangsa di masa yang akan datang, akan memengaruhi kesejahteraan setiap orang dalam masyarakat. Dan sekali lagi ditekankan, bahwa kesempatan, kemampuan untuk memilih, dan kesempatan kedua adalah lensa-lensa kebijakan yang harus digunakan sebagai kacamata untuk menelaah dan melihat dengan lebih jelas apakah para pemegang kebijakan telah menciptakan iklim yang tepat untuk berinvestasi dalam modal manusia dari kaum muda. Sekali lagi meminjam istilah Eileen Rachman, bukan hanya perusahaan saja yang harus menerapkan manajemen multigenerasi, tetapi pemerintahan suatu negara juga harus menerapkan manajemen multigenerasi untuk pembinaan kaum mudanya.
Akan tetapi, permasalahan ini bukanlah hal yang mudah untuk diatasi, karena batasan-batasan yang dihadapi kaum muda sangat beragam di setiap negara. Meskipun demikian, prioritas kebijakan yang harus diutamakan adalah kebijakan yang meningkatkan kualitas modal manusia kaum muda di semua aspek di semua negara termasuk aspek kualitas pendidikan dan tingkat keikutsertaan di pendidikan dasar dan menengah, aspek pelayanan dan pendidikan kesehatan. Aspek lainnya adalah perluasan kesempatan kerja dan peningkatan keterampilan para pemuda sebagai upaya memuluskan transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja, mengasah keterampilan sosial kaum muda di tempat kerja, karena saat itu mereka cepat belajar dari pengalaman kerja dan dari para mentor mereka di tempat kerja—ini merupakan bekal yang penting saat mereka mulai mandiri kelak. Aspek pendidikan kewarganegaraan berupa penyediaan kesempatan bagi kaum muda untuk didengarkan aspirasinya dan mengajak mereka berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat di luar keluarga. Menjawab prioritas–prioritas tersebut, bukanlah tantangan yang mudah dan ringan bagi pemerintah, namun bukan tidak mungkin teratasi jika ada kedisiplinan dan terjalin kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan kaum muda itu sendiri.
World Development Report 2007 merupakan laporan yang padat berisi dan bisa menjadi inspirasi, masukan, bahkan yang menjadi tujuan buku ini dapat menggerakkan siapa saja yang membacanya, entah birokrat, ekonom, mahasiswa, dosen, atau siapa pun yang peduli, untuk berbuat sesuatu yang dapat berguna untuk meningkatkan kualitas generasi muda bangsa ini, berdasarkan contoh-contoh program pemberdayaan yang ada dalam buku ini. Berkaca dari pengalaman negara lain, dan menyesuaikan program mereka dengan kebudayaan lokal bangsa ini, tentunya akan menghasilkan kolaborasi luar biasa agar bangsa ini bisa menjadi lebih baik daripada keadaannya saat ini.
Ironis sebenarnya, kita di Indonesia punya hari sumpah pemuda, tapi gemanya terlupa dan peringatannya terkesan hanya sekadar seremonial belaka. Padahal saat ini, Indonesia punya jumlah kaum mudanya yang bisa dibilang sangat banyak, tapi pembinaannya serta kepedulian pemerintah nampaknya masih kurang meskipun ada Menteri Pemuda dan Olahraga.
September 25, 2007 pada 1:14 pm
Semangat!!!
Ayo bangun Bangsa Indonesia…
Don’t give up….
Together…we can change Indonesia…
Indonesia sebagai negara yang agung budi dan makmur…
Amin…