Laskar pelangi, Sang Pemimpi dan The Kite Runner

Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi
Judul pertama dan kedua adalah novel karya Andrea Hirata (yang akan ku ceritakan terlebih dahulu). Menurut endorsement dalam buku itu, bukunya adalah trance atau bersifat trance…he he he, masih asing dengan istilah itu…belum sempat cari di kamus pula. Masih menurutku, highly recommended book to read. Kita bisa menangis dan tertawa bersama buku itu. Mengingat penulisnya adalah orang melayu, maka tidak heran jika bahasa verbalnya luar biasa. Seperti pengakuannya penulisnya sendiri di salah satu halaman buku itu.

Ada dua, tokoh dalam buku itu yang berkesan buat aku, yang begitu membacanya bisa dibilang aku langsung “jatuh cinta” pada tokoh tersebut. Yang pertama (karena aku baca Sang Pemimpi terlebih dahulu) adalah Arai. Mungkin semangat dan daya juangnya yang membuat aku “jatuh cinta,” luar biasa, tidak pernah menyerah, selalu tersenyum, berpengetahuan luas, cerdas, cerdik, dan nasibnya sedikit lebih beruntung karena bisa melanjutkan kuliah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Setidaknya meskipun perjuangan untuk mencapainya tetap berat, akan tetapi Arai masih lebih beruntung dibandingkan tokoh kedua (yang juga membuat aku “jatuh cinta”) yaitu Lintang.

Lintang, seorang pemuda cerdas atau menurut penulisnya disebut sebagai orang yang paling jenius yang pernah dia temui. Pemuda jenius yang berhenti sekolah hanya empat bulan sebelum EBTANAS, karena ayahnya meninggal, sehingga dia sebagai anak pertama harus menanggung beban seluruh keluarganya. Dan dengan sangat terpaksa dia meninggalkan bangku sekolah yang amat dicintainya, karena telah membukakan pintu-pintu ilmu pengetahuan yang semakin mengasah intan kecerdasan alami yang ada pada dirinya. Lintang yang harus menempuh perjalanan sejauh 80 kilometer untuk bersekolah dengan bersepeda pulang pergi. Tapi dia tidak pernah menyerah. Cahaya ilmu telah memikat hatinya, menghilangkan segala penatnya dalam bekerja. He he he…terus terang aku iri dengan itu.

Untuk cerita jelasnya silakan, baca sendiri bukunya. He he he…..

Pagi ini, aku mendengan lagu yang dilantunkan oleh grup Band Rock Jadoel, judulnya Dreamer. Lagu itu mengingatkan aku pada Lintang. Mungkin, jika Ikal mendengar lagu ini, juga akan berpikir sama dengan aku.

The Kite Runner
Novel ini bercerita tentang persahabatan antara Amir dan Hassan. Hassan adalah tokoh yang membuat aku “jatuh cinta” pada novel ini, selain karena namanya mirip sama aku, namun yang paling berkesan adalah kebaikan hatinya, kecerdasannya, perjuangannya, sifat pantang menyerahnya. Aku melihatnya, Arai, Lintang, dan Hassan sebagai tiga orang tokoh dengan karakter yang hampir mirip.

Ada kata-kata Hassan yang sangat aku sukai dalam buku The Kite Runner ini. “Untukmu keseribu kalinya,” itu kata yang diucapkannya pada Amir ketika dia akan menangkap layang-layang terakhir yang dikalahkan oleh Amir pada lomba menerbangkan layang-layang. Entah kenapa aku menyukai kata-kata itu. Tapi, ada sesuatu yang sangat dalam pada dua kata itu, yang hanya dapat dideskripsikan sesuai dengan persepsi pembacanya masing-masing.

Masih ada dua kutipan lain yang meninggalkan kesan amat dalam, bahkan ketika buku itu telah selesai dibaca. Kutipan itu di ucapkan oleh Baba, ayah Amir. Menurut Baba, sesuatu hal yang terjadi dalam sehari atau sesaat, bisa mengubah keseluruhan hidup kita. Ini juga diungkapkan oleh Ikal dalam bentuk yang berbeda, katanya, “Momentum hidup seseorang bisa terjadi karena pertemuannya dengan seseorang atau karena kejadian yang tidak seakan tidak disengaja,” seperti juga kata Paulo Coelho pada bukunya The Alchemist, tentang momentum hidup seseorang. Dan, one thing leads to another, ini juga mengingatkan aku pada istilah Mestakung yang dipopulerkan oleh Yohannes Surya. Jika kita kembali pada firman Allah, maka ada ayat disana yang Allah telah beritahukan pada kita, berbuatlah maka Allah dan orang-orang beriman akan melihatnya, kemudian Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, tanpa kita berusaha memperjuangkan untuk mengubah keadaan kita. Dan hadist nabi, siapa yang bersungguh sungguh maka akan memetik hasilnya. Momentum hidup, mungkin juga berkaitan dengan bakat alami yang dimiliki oleh seseorang. Bisa saja, bakat itu langsung terlihat, atau bisa saja ditemukan dan disapa oleh nasib…setidaknya itu pelajaran moral keempat menurut Ikal.

Kutipan yang ketiga adalah, Perbuatan yang paling buruk adalah mencuri, termasuk didalam salah satu perbuatan mencuri adalah berbohong. Karena berbohong berarti kita mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran. Untuk ini, aku tidak akan menyimpulkannya. Biarlah itu menjadi perenungan kita masing-masing.

4 Komentar »

  1. Rani berkata,

    September 3, 2007 @ 5:38 am

    Hikksss… The Kite Runner bikin aku sesenggukan,
    Laskar Pelangi bikin aku senyum2 kayak orang gokil…
    T-O-P BGT lah 2-2nya, I love that Book

  2. abhe berkata,

    April 19, 2008 @ 7:02 pm

    andrea…kaulah inspirasi terbesarku saat ini…

    seniman kehidupan,…

    banyak orang meragukan aku saat ini….
    “Tuhan tahu, tapi menunggu”

    jangan takut bermimpi……(kata arai)

    A R A I,…..
    kaulah seniman kehidupan itu
    kaulah rektor life of university….

    bang ikal, Arai skrg dimana????

    wass.
    abhe (Antar.B)
    Laskar Pa’Bulu’

  3. intan berkata,

    Juli 1, 2008 @ 7:48 am

    Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpimu….ARAI banget ya…tapi bener tanpa mimpi kita akan mati…jadi bermimpilah, dan untuk mewujudkan mimpi itu, bangun dan berbuatlah…(setuju gak???)

  4. nurcha berkata,

    Juli 1, 2008 @ 8:53 am

    betul sekali, batu sandungan apa pun itu, akan membuat kita lebih kuat dalam menghadapi banyak hal …

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan Komentar