jump to navigation

Aku dideportasi Juli 31, 2007

Posted by nurcha in Curhatan.
1 comment so far

Kemaren, tepatnya 30 Juli 2007, manajerku ngajak ngobrol aku. Inti pembicaraan aku dideportasi alias tidak dilanjutkan lagi kontrak kerjaku untuk enam bulan mendatang. Terus terang aku ga tau alasan pastinya, tapi jika melihat kondisi perusahaan, ya aku anggap maklum sajalah. Aku dijanjikan untuk dipindahkan ke anak perusahaan yang lain. Aku oke kan saja, pengalaman baru, teman baru, tim baru, semuanya baru, aku bisa lebih banyak belajar.

tapi setegar-tegarnya aku pas diajak ngobrol sama pak manajer, ternyata luruh juga bentengku pas aku turun ke bawah dan ngobrol sama temen2 sesama editor. hiks..hiks..hiks..seharian kemaren mungkin wajahku terlihat mendung, pulang dari kantor juga nangis. padahal aku sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk hari kemaren itu. Saat tibanya aku dipanggil, untuk mengetahui keberlangsungan aku di kantor ini.

Setidaknya aku sudah mendapat penjelasannya. Allah sudah memberikanku jawaban. Mungkin waktuku di perusahaanku yang sekarang ini memang hanya sampai di sini saja. tapi itu bukan berarti aku berhenti. the most important thing is love the job not love the company and i do, walaupun memang, tiga bulan ke belakang ini progressku ga bagus-bagus amat. Aku ngerasa banyak banget ngelakuin kesalahan. dosa-dosa editan. hal-hal yang kecil dan yang besar, yang terlewat atau yang sengaja dilewatkan. memilih maksimal berusaha atau hanya seadanya saja. aku tau, aku memilih yang mana. dan aku tidak menyalahkan siapapun, itu semua kesalahanku sendiri. aku memilih dengan sadar untuk melakukan itu.

but, terlepas dari semua itu. itu sudah berlalu. kujalani saja semuanya sekarang. Allah tau yang terbaik untukku. go with the flow…

Mei…maafin aku Juli 28, 2007

Posted by nurcha in Curhatan.
add a comment

rasanya ngerasa bersalah banget sama memey.   kenapa?  Lantaran, aku kan jadi kopieditornya  buku yang dia edit, tapi aku tidak mengerjakannya dengan maksimal. aku terlalu sibuk dengan naskahku sendiri. serasa kerjaan bertumpuk-tumpuk. dan aku sebenarnya tidak begitu tertarik dengan naskah itu. aku juga ga tau kenapa. ga semangat aja bacanya ga ada darahnya. aku tau dan aku ngerasa mungkin mey juga kesel sama aku, aku  rasanya tidak bertanggung jawab banget. mei…maafin aku ya…

terakhir, naskah itu dibaca sama asmen, hiks hiks masih banyak banget yang salah, dan wajah memey yang manis itu berbalur kekesalan dan kemarahan, dan aku hanya bisa diam dan menghibur sedikit-sedikit. padahal naskah itu harus naik cetak hari kamis kemarin, dan tekanan pada mei juga jadi berlipat-lipat.

kamis itu juga ada rapat. dan aku merasa tersindir habis-habisan. mengedit itu adalah masalah gaya selingkung.  seorang editor, harus bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak hanya sekadar asal mencoret dan mengganti kata atau kalimat sesuai dengan kehendaknya sendiri.  aku hanya terpekur saja saat itu sambil mengenang dosa-dosa editan yang pernah kulakukan, sejak buku yang pertama ku edit hingga buku yang terakhir.

menyesal…pastinya…tapi aku heran, kenapa antusiasme ku jadi berkurang drastis begini. sekacau-kacaunya aku di kantor lama rasanya tidak pernah hingga sekronis ini.

tapi, ya sudahlah. toh sudah selesai. besok-besok jangan diulangi lagi. harus semangat. buku apapun yang diedit. jangan menyerah. harus tetap semangat dan berjuang.

it’s your journey nur. you must pursue your own happiness.

Kota Hujan,  28 Juli 2008

Nurcha-