Lihat, Saya dari Cirebon

Terobsesi Koma!

Posted by: nurcha on: Juli 31, 2007

Koma menurut Kitab Besar Bahasa Indonesia adalah tanda baca yang dipakai untuk memisahkan unsur di suatu perincian, memisahkan nama orang dari gelar akademik yang mengiringinya, memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat, mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi di kalimat.

Sinonimnya dalam bidang kedokteran koma berarti keadaan tidak sadar sama sekali dan tidak mampu memberi reaksi terhadap suatu rangsangan. Sedangkan di bidang astrologi koma merupakan bagian yang seperti kabut di sekitar kepala komet (bintang berekor).  

Untuk serial televisinya ada miniseri Dunia Tanpa Koma, maknanya kesan filosofis koma nampaknya lebih membekas dibandingkan titik. Demikianlah adanya tampaknya. Tapi masih perlu dicari lagi referensi tentang koma. Membahas koma, dari segi ilmiahnya atau segi yang lainnya.

Editor sih, memang nampaknya terobsesi koma, rasanya mungkin gatal aja jika melihat ada kalimat yang terlalu panjang dan tanpa ada koma. Selain itu kalimat yang terlalu panjang dari penulis, seringkali membuat editor bingung menentukan mana anak kalimat mana induk kalimat. Mau dipotong di sini pake koma, atau mau dipotong di sana pake koma juga, nanti malah kebanyakan koma.

Terlalu banyak koma, selain diprotes sama layouter, bisa juga diprotes sama penulisnya. Ngomong-ngomong soal penulis yang protes salah satu diantaranya adalah Romo Mangun yang protes sama editornya. Tentang anak kalimat, ya…mungkin juga berkaitan dengan koma, atau menghilangkan anak kalimat ya. Sampe-sampe Romo Mangun bilang, wong kenyataan di dunia saja sudah tidak punya anak, ini anak kalimat saja harus dihilangkan.

Selain dunia tanpa koma, ada juga teater koma. Coba teater koma itu, namanya bukan teater koma, mungkin namanya tidak sekondang sekarang. Mungkin perlu bertanya pada N. Riantiarno mengapa dia memilih nama koma.

Menurutku—nebak-nebak aja—mungkin N Riantiarno mengambil nama koma, berkaitan dengan sifat berhenti sejenak. Koma berarti berhenti sejenak. Mungkin itu, berhenti sejenak dari lari-lari dalam kalimat.

Bayangkan saja, kalimat tanpa koma apalagi dengan jumlah kata lebih dari 20, yang tertangkap oleh pembaca adalah tersengal-sengal ketika membacanya. Rasanya seperti di buru-buru oleh sesuatu. Seperti sedang sprint saja rasanya. Tapi coba kalo ada koma, mungkin kesan sprint tersebut bisa dikurangi, jadi rasanya seperti sedang lari cross country. Lari melintasi wilayah yang indah, ya tetap ada target waktu sih, tapi tidak perlu terlalu cepat kan.

Meskipun demikian terlalu banyak koma juga, tidak enak juga. Lantaran, kalimat jadi terpotong-potong banyak sekali. Jadi, terlalu banyak jeda di dalamnya. Secara, terlalu banyak jeda juga kurang enak kan. Belum apa-apa sudah berhenti…berhenti…

Editor yang baik, harus bisa menentukan dimana letak koma yang pas agar kalimat itu jadi enak. Rada sulit memang, tapi pake feel aja mungkin. Sebenarnya masalah koma ini masih bisa di-explore lagi. Masih bisa dijelajahi lagi. Lain waktu lah…kapan-kapan dikaji lagi masalah koma ini.

Ini sih, intermezzo aja….

Jika dilihat dari bentuknya, tanda koma mirip dengan huruf wawu dalam abjad arab dan sebentuk harakat dhommah. Hmmm… sebenarnya jadi penasaran, adakah hubungan antara huruf wawu dan tanda harakat dhommah dengan tanda koma?

Well, is there an explanation for me?

Kota Kembang, 31 Juli 2007

Nurchasanah

 

Tinggalkan Balasan

Quote for Today

Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan perutnya dengan makanan. (Frederick E. Crane)

 

Juli 2007
S S R K J S M
    Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Klasifikasi

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Blog Stats

  • 38,274 hits