Dicari! Penulis yang ramah editor!
He he he ini adalah pembelaan diri para editor…Ya kalau tidak semuanya, setidaknya ini akulah yang berpendapat. Selama ini banyak sekali penulis yang banyak karyanya ditulis ulang oleh editornya—tidak hanya penulis—penerjemah juga. Tekanan kerjanya lumayan. Ada yang bilang, kalo editor tuh kayak daging di antara roti sandwich antara penerbit (atasannya) dan penulis. Penerbit pengen naskahnya bagus, sedangkan naskah yang masuk ada yang bisa dibilang naskahnya “indaaah sekali” saking indahnya sampe-sampe naskah itu harus ditulis ulang lah sama editornya.
Ya, itulah gunanya editor…kata penulis. Apa fungsinya editor kalo gitu. Fungsi editor kan buat membuat naskah juga jadi bagus. Kalo naskah udah zero defect dari penulis lantas apa gunanya editor dipekerjakan oleh penerbit!
Emang bener sih. Tapi editor kan juga manusia, dan naskah yang ditangani editor tidak hanya satu naskah aja—tapi banyak dan bejibun—belum lagi kerjaan sampingan lainnya. Kalo aku bilangnya, aku nyari naskah yang “berdarah” tapi bukan naskah yang bikin “berdarah-darah” nah lho…bingung ga?
Maksudnya naskah yang “berdarah” adalah naskah yang bikin editor semangat membacanya dan rela doing anything buat bikin naskah itu jadi lebih bagus lagi lebih dari yang penulisnya harapkan. Tapi kalo’ naskah yang “berdarah-darah” ya..naskah yang…phhweeeew…udah bacanya males karena gaya bahasa yang kurang baik, cara berpikir yang tidak runtut, dan banyak lagi lah…yang intinya sebenernya gak layak terbit, tapi harus terbit lantaran emang dibutuhkan sama pasar (terutama buku teks mahasiswa) tambah lagi harus cepet dikerjain karena kejar deadline. Wah itu bener-bener indah banget.
Bukannya editor pilih-pilih pengen naskah yang bikin editor enak sendiri aja. Tapi ada baiknya penulis mengedit terlebih dahulu tulisannya sebelum dikirimkan ke penerbit. Karena itu akan lebih mempermudah kerja editor. Selain itu, kerja sama antar penulis dan editor harus benar-benar harmonis. Bukan berarti ketika editor mengobrak-abrik naskah asli penulis, maka dia adalah orang yang sok tahu atau gimana. Tapi begitu cintanya dia pada naskah penulis sehingga dia ingin membuat yang terbaik supaya naskah penulis menjadi lebih cantik.
Tapi untuk urusan merombak total naskah pun tetap harus dengan persetujuan atasan dan penulis. Aku pribadi tidak takut untuk melakukan itu, ada seorang teman yang bilang, kebanggaan pribadi seorang editor ada pada keberanian itu, dan dia tidak takut dan tidak peduli sama penulis yang galak atau rewel. Dan aku SETUJU dengan itu. Ya, meskipun demikian masih tetep harus liat-liat juga kan. Kalo penulisnya emang bener-bener galak, ya sesuaikan sajalah. Makanya menurutku editor harus lebih pinter dari penulisnya dan tidak segan untuk membaca lebih banyak lagi. Riset referensi lebih intensif supaya naskah yang diedit benar-benar bermutu dan tidak hanya sekadar naskah yang jadi, dicetak dan dijual…dan seringkali dilupakan.
Well, ada yang bilang juga kalo menulis adalah pekerjaan manusia, maka mengedit adalah pekerjaan dewa. Tapi menurutku kalo dewanya kecapekan, ya editannya tetep aja ada yang kacau atau kelewat juga..……he he he he….
Tau lagunya SEURIEUS kan, kita rombak sedikit lah…EDITOR JUGA MANUSIA…PUNYA RASA PUNYA HATI…dst…
Ya liat aja tulisan ini banyak yang perlu dieditkan….he he he….
Kota Kembang, 29 Mei 2007
Nurchasanah
Rani berkata,
September 3, 2007 @ 5:44 am
Daftar dong Bu…
Btw.. ulasan sturbucknya mana? kok gada… ^_^