jump to navigation

Dicari! Penulis yang ramah editor! Juli 31, 2007

Posted by nurcha in All About Editing.
1 comment so far

He he he ini adalah pembelaan diri para editor…Ya kalau tidak semuanya, setidaknya ini akulah yang berpendapat. Selama ini banyak sekali penulis yang banyak karyanya ditulis ulang oleh editornya—tidak hanya penulis—penerjemah juga. Tekanan kerjanya lumayan. Ada yang bilang, kalo editor tuh kayak daging di antara roti sandwich antara penerbit (atasannya) dan penulis. Penerbit pengen naskahnya bagus, sedangkan naskah yang masuk ada yang bisa dibilang naskahnya “indaaah sekali” saking indahnya sampe-sampe naskah itu harus ditulis ulang lah sama editornya.

(more…)

Toilet Reading Juli 31, 2007

Posted by nurcha in My Mind.
add a comment

Jadi teringat sesuatu kan?

Ya toilet reading ini mungkin kedengerannya mirip-mirip sama toilet training yang dilakukan sama adik-adik kita  yang masih kecil-kecil yang  baru menyesuaikan diri untuk mandiri ke toilet untuk melakukan kegiatan number one dan number two.

Entah  ini kebiasaan baik atau buruk. Mungkin tidak beradab bagi bukunya atau tepatnya tidak berperikebukuan, tapi itu sangat berperikewaktuan dan menyenangkan. Maaf, kalau terdengar agak saru, tapi toilet reading menurutku sangat menyenangkan. Kenapa? Kalau aku sih ngerasanya rugi aja. Rugi mata dan rugi pikiran pas di toilet. Lantaran melakukan kegiatan number one itu (alias BAB) kan lumayan makan waktu. Kalau bengong saja rasanya rugi, karena itu kalo berasa ingin  buang hajat…ya aku mencari teman yang baik…ya  buku itu. Memang risikonya, buku bisa saja jatuh dan terendam di air, atau tersiram, atau apa saja deh…itu kan sebenarnya tidak beradab bagi buku…menzalimi buku.

Sama juga tidak ya dengan mencari ilham…tak taulah. Tapi, aku pernah baca, kalau ada juga penulis terkenal yang mencari ilhamnya dengan duduk di toilet.

Kota kembang, 4 Juli 2007

Nurchasanah

Terobsesi Koma! Juli 31, 2007

Posted by nurcha in All About Editing.
add a comment

Koma menurut Kitab Besar Bahasa Indonesia adalah tanda baca yang dipakai untuk memisahkan unsur di suatu perincian, memisahkan nama orang dari gelar akademik yang mengiringinya, memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat, mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi di kalimat.

Sinonimnya dalam bidang kedokteran koma berarti keadaan tidak sadar sama sekali dan tidak mampu memberi reaksi terhadap suatu rangsangan. Sedangkan di bidang astrologi koma merupakan bagian yang seperti kabut di sekitar kepala komet (bintang berekor).  

Untuk serial televisinya ada miniseri Dunia Tanpa Koma, maknanya kesan filosofis koma nampaknya lebih membekas dibandingkan titik. Demikianlah adanya tampaknya. Tapi masih perlu dicari lagi referensi tentang koma. Membahas koma, dari segi ilmiahnya atau segi yang lainnya.

Editor sih, memang nampaknya terobsesi koma, rasanya mungkin gatal aja jika melihat ada kalimat yang terlalu panjang dan tanpa ada koma. Selain itu kalimat yang terlalu panjang dari penulis, seringkali membuat editor bingung menentukan mana anak kalimat mana induk kalimat. Mau dipotong di sini pake koma, atau mau dipotong di sana pake koma juga, nanti malah kebanyakan koma.

Terlalu banyak koma, selain diprotes sama layouter, bisa juga diprotes sama penulisnya. Ngomong-ngomong soal penulis yang protes salah satu diantaranya adalah Romo Mangun yang protes sama editornya. Tentang anak kalimat, ya…mungkin juga berkaitan dengan koma, atau menghilangkan anak kalimat ya. Sampe-sampe Romo Mangun bilang, wong kenyataan di dunia saja sudah tidak punya anak, ini anak kalimat saja harus dihilangkan.

Selain dunia tanpa koma, ada juga teater koma. Coba teater koma itu, namanya bukan teater koma, mungkin namanya tidak sekondang sekarang. Mungkin perlu bertanya pada N. Riantiarno mengapa dia memilih nama koma.

Menurutku—nebak-nebak aja—mungkin N Riantiarno mengambil nama koma, berkaitan dengan sifat berhenti sejenak. Koma berarti berhenti sejenak. Mungkin itu, berhenti sejenak dari lari-lari dalam kalimat.

Bayangkan saja, kalimat tanpa koma apalagi dengan jumlah kata lebih dari 20, yang tertangkap oleh pembaca adalah tersengal-sengal ketika membacanya. Rasanya seperti di buru-buru oleh sesuatu. Seperti sedang sprint saja rasanya. Tapi coba kalo ada koma, mungkin kesan sprint tersebut bisa dikurangi, jadi rasanya seperti sedang lari cross country. Lari melintasi wilayah yang indah, ya tetap ada target waktu sih, tapi tidak perlu terlalu cepat kan.

Meskipun demikian terlalu banyak koma juga, tidak enak juga. Lantaran, kalimat jadi terpotong-potong banyak sekali. Jadi, terlalu banyak jeda di dalamnya. Secara, terlalu banyak jeda juga kurang enak kan. Belum apa-apa sudah berhenti…berhenti…

Editor yang baik, harus bisa menentukan dimana letak koma yang pas agar kalimat itu jadi enak. Rada sulit memang, tapi pake feel aja mungkin. Sebenarnya masalah koma ini masih bisa di-explore lagi. Masih bisa dijelajahi lagi. Lain waktu lah…kapan-kapan dikaji lagi masalah koma ini.

Ini sih, intermezzo aja….

Jika dilihat dari bentuknya, tanda koma mirip dengan huruf wawu dalam abjad arab dan sebentuk harakat dhommah. Hmmm… sebenarnya jadi penasaran, adakah hubungan antara huruf wawu dan tanda harakat dhommah dengan tanda koma?

Well, is there an explanation for me?

Kota Kembang, 31 Juli 2007

Nurchasanah

 

Resensi State of War Juli 31, 2007

Posted by nurcha in Buku.
add a comment

Zenit, an Imprint of MQS Publishing Presents

State of War

Irak, Iran, Afghanistan, dan Korea Utara, Disebut oleh Bush sebagai Poros Setan (satanic axes), pasca penyerangan 11 September 2001. keempat negara tersebut dianggap pembangkang karena tidak mau menuruti kemauan Amerika.

Dalam rentang lima tahun setelah serangan 11 September Bush telah berhasil melakukan penyerangan pada Afghanistan dan Irak serta mengklaim kemenangan besar di sana. Segala cara dihalalkan untuk menunjukkan kembali dominasi Amerika pada dunia.

Osama bin Laden yang dituduh sebagai dalang serangan 11 September diubek di seluruh sudut Afghanistan dan Irak, masih belum ditemukan hingga saat ini. Semua pengikut al Qaida dicari hingga diseluruh dunia. Amerika menjadi sangat paranoid terhadap semua hal yang berbau timur tengah terutama pria dewasa asal timur tengah.

Pemerintahan Bush melakukan penyadapan tanpa landasan hukum; mencuri data-data telepon dan catatan bank milik jutaan warga AS, meluncurkan operasi pengumpulan data melalui kaki tangan militer AS, mengawasi para demonstrator anti perang, memenjarakan warga AS atau warga keturunan timur tengah yang muslim tanpa alasan yang jelas tanpa batas waktu dan tanpa di adili.

Di luar negeri, terdapat praktik teknik kekerasan dalam pemeriksaan tahanan, penyiksaan, pembantaian warga sipil, pendirian penjara rahasia CIA, dan praktik gelap pengalihan tawanan, penculikan para tersangka yang kemudian dikirim ke negara lain untuk di tahan secara rahasia.

Semua ini dilakukan atas nama perang global terhadap teror. Bush memanfaatkan serangan 11 september untuk membenarkan ekspansi radikal kekuasaan kepresidenannya sekaligus mengingkari komitmen kuat AS terhadap HAM.

Ironisnya, dalam lima tahun pasca penyerangan itu, Bush justru sangat merugikan AS dan kedudukannya di dunia dan membuat ancaman terorisme semakin meningkat. Perang Irak dan Afghanistan menciptakan kondisi rawan dan menyuburkan terorisme.

Serangan Amerika ke Afghanistan telah membuat negara tersebut berkubang dalam kekerasan. Negara boneka bentukan AS tidak mampu meredam kekacauan di sana hingga saat ini. Selain itu, serangan AS ke Afghanistan membuat negara itu menjadi narco-state alias negara narkoba, lantaran produksi OPIUM Afghanistan menjadi tak terkendali pasca penyerangan AS ke sana.

Kekacauan pasca perang di irak dan Afghanistan tidak menjadikan mereka mengambil pelajaran dari kejadian itu, mereka mulai bersiap-siap menyerang iran, lantaran “kebandelan iran” meneruskan program pengembangan nuklirnya.

Amerika, dengan segala kepongahannya masih menganggap dirinya sebagai polisi dunia, padahal kebobrokan dan segala konspirasi busuk dalam pemerintahan Bush, CIA, NSA, dan badan-badan terkait lainnya telah banyak diungkapkan.

Kisah seputar aksi mata-mata di dalam negeri AS, demi kesetiaan politik atas nama keamanan nasional, dengan mengandalkan sumber-sumber berita koran: State of War (Negara Haus Perang) mengingatkan kembali pembaca akan kasus serupa pada era pemerintahan Nixon.

Atas usahanya yang gigih dan berani menghadapi akibat yang ditimbulkan oleh tulisannya, seorang wartawan New York Times, James Risen menyajikannya dengan cerdas dan menggigit ke hadapan Anda.

Penerbitan buku State of War ini sangat mengejutkan khalayak, James berhasil mendapatkan kisah-kisah rahasia dengan akurasi yang tinggi dari balik tembok gedung putih.

James Risen mengungkap berbagai kisah seputar penyalahgunaan kekuasaan pemerintahan Bush, mulai dari aksi penyadapan ilegal, pencarian data keuangan, hingga operasi kotor CIA.

Risen menunjukkan berulang kali bahwa kekuasaan eksekutif telah bertindak melewati batas, menghindari pembatasan dan pengawasan terhadap kekuasaan yang digenggamnya, serta menjaga kerahasiaan, bahkan terhadap para sekutunya di Kongres sekalipun. Berkat buku karya James Risen ini, “sejarah rahasia” pemerintahan Bush yang disembunyikan selama bertahun-tahun mulai terungkap sebagian.

Dapatkan kisah selengkapnya dalam buku Negara Haus Perang (State of War)

Sebuah Laporan Eksklusif tentang Ambisi dan Penyalahgunaan Kekuasaan dalam Pemerintahan Bush.

Kota Kembang, 31 Juli 2007

Nurchasanah

 

a Life talk with DM Juli 31, 2007

Posted by nurcha in Filosofi.
1 comment so far

kenapa bukan pasar malam?

Karena hidup tak seperti pasar malam. Pasar malam, kalau kita ke sana, kita biasanya pergi beramai-ramai, mencari hiburan, kesenangan, hal-hal yang menggembirakan dan menyenangkan. Dan ketika pulang, juga beramai-ramai…

Berbeda dengan hidup di dunia. Di dunia, kita datang seorang diri, tidak semata mencari kesenangan. Bahkan terkadang kesedihan, kepedihan, duka nestapa dan kesunyian yang juga kita dapatkan. Ketika pergi, kita juga seorang diri. Jadi, hidup bukanlah pasar malam. Itulah filosofinya…

 Kenapa tidak…

Kita kan nggak ingin lewat begitu saja di dunia ini. 50, 100, 200 tahun yang akan datang, siapa kita? Adakah yang mengenal kita? menjadikah sosok yang menyejarah?

Kenapa tidak. Apakah kita hanya mengabdi pada diri kita sendiri selama di dunia, atau mengabdi pada hidup itu sendiri…

 Orang tidak mesti setuju, tapi menurutku, kalau bisa jadi pemain, kenapa mesti hanya bisa jadi penonton…Persoalannya bukan soal bisa atau tidak bisa menjadi pemain, tapi lebih dari itu: mau atau tidak mau. Semua orang bisa, tapi tidak semua mau. Sepanjang sejarah dunia, kenapa ada orang-orang seperti Rumi, seperti Kahlil Gibran, seperti Pramoedya…Apakah mereka mengabdi pada diri mereka sendiri?

 Tidak sama sekali.